LURUH
(
Cerita dari Mbah Seh )
Tegar,
berdiri kokoh dalam terjangan angin
Menyapu
segala resah dan gundah gulana
Kulitku
terasa lebat, melindungiku dari teriknya mentari
Mengakar
menembus tempat berpijakku
Manusia
terkagum memandangku
Hewan
melumat kawanku dengan lahapnya
Namun
ku menyenangi itu, aku dapat membuat mereka hidup
Sorak
riang anak-anak selalu abadi
Melompat
dan berlari menemani diamnya aku
Bias
mentari tak jadi penghalang
Derai
hujan terus ditembus dengan suka cita
Ya,
mereka sahabatku
Menikmati
setiap pemberian Tuhan lewat diriku
Mengais
apa saja yang aku kandung
Namun
aku bahagia, mereka mengitariku dengan nuraninya
Para
petani merawatku dengan sepenuh hati
Merajut
tawa bersama dan memeluk tubuh indahku dengan peluhnya
Menyambung
hidup dari harta yang tersimpan dibalik semak
Burung
– burung berkicau ria melihatku yang tumbuh menjulang
Hembusan
angin mengembara
Riak
air sungai selalu menggema di telingaku
Menuang
ke dalam tubuh-tubuh insan
Terlukis
indah lengkingan bibir mereka atas kehadiranku
Denting
waktu terus bergumam
Jejak
kaki asing tersenyum dan menatap tajam ke arahku
Ada
apa ini? Aku resah, aku gelisah
Benar
saja, apa itu yang melindas sebagian tubuhku?
Semakin
merambat dan merambat, aku ditelanjangi !
Mana
insan yang selalu merawat dan menyambut dengan penuh kehangatan?
Mana
tawa riang yang selalu menemaniku berdiri tegak menghadap surya?
Ah
tidak, si asing itu terus menyeruak semakin dalam
Lambat
laun tubuhku semakin ringkih
Aku
terjangkit petaka atas kesalahan yang tak pernah ku lakukan
Aku
terperangkap dalam tamaknya si asing itu
Mereka
melenyapkan pakaianku perlahan-lahan
Aku
tak lagi bisa mendekap insan yang sudah mendekapku
Tubuhku
bergetar, kakiku tak dapat menopangnya
Aku
mencelakai insan yang mencintaiku dalam derai hujan yang membelai
Mereka
menjadi muram dan bersusah karenaku
Hamparan
kebahagiaan telah musnah
Senja
menyambutku dengan lesu
Aku
telah terkoyak, aku telah lumat
Mereka
membabat sebagian tubuh indahku
Mereka
mengulitiku tanpa merasakan perihnya
Mereka
meneriaki aku dengan tawa caciannya
Kini,
aku dihadapkan pada kesunyian yang menyedihkan
Melebur
menjadi kebiasaanku setiap harinya
Kini,
aku tak bisa berbuat apa-apa
Aku
hanya bisa berpacu dengan sang waktu
Dalam
keterdiaman raga, hatiku terus berkecamuk
Lambat
laun, aku akan musnah
Lambat
laun, kebahagiaan anak-anak dan petani berlalu
Terbelenggu
dalam congkaknya si asing itu
Aku
melemah dan pada akhirnya berubah menjadi asing
Ragaku
terapung dalam keterputusan sebuah asa
Dan,
waktu menjawab dengan berat
Aku
harus luruh ....
Rabu, 4
September 2019
_Deska Setya
Rini_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar