Minggu, 08 September 2019

Luruh



LURUH
( Cerita dari Mbah Seh )



 Ragaku dahulu terasa dingin dan menyegarkan
Tegar, berdiri kokoh dalam terjangan angin
Menyapu segala resah dan gundah gulana
Kulitku terasa lebat, melindungiku dari teriknya mentari
Mengakar menembus tempat berpijakku
Manusia terkagum memandangku
Hewan melumat kawanku dengan lahapnya
Namun ku menyenangi itu, aku dapat membuat mereka hidup

Sorak riang anak-anak selalu abadi
Melompat dan berlari menemani diamnya aku
Bias mentari tak jadi penghalang
Derai hujan terus ditembus dengan suka cita
Ya, mereka sahabatku
Menikmati setiap pemberian Tuhan lewat diriku
Mengais apa saja yang aku kandung
Namun aku bahagia, mereka mengitariku dengan nuraninya

Para petani merawatku dengan sepenuh hati
Merajut tawa bersama dan memeluk tubuh indahku dengan peluhnya
Menyambung hidup dari harta yang tersimpan dibalik semak
Burung – burung berkicau ria melihatku yang tumbuh menjulang
Hembusan angin mengembara
Riak air sungai selalu menggema di telingaku
Menuang ke dalam tubuh-tubuh insan
Terlukis indah lengkingan bibir mereka atas kehadiranku

Denting waktu terus bergumam
Jejak kaki asing tersenyum dan menatap tajam ke arahku
Ada apa ini? Aku resah, aku gelisah
Benar saja, apa itu yang melindas sebagian tubuhku?
Semakin merambat dan merambat, aku ditelanjangi !
Mana insan yang selalu merawat dan menyambut dengan penuh kehangatan?
Mana tawa riang yang selalu menemaniku berdiri tegak menghadap surya?
Ah tidak, si asing itu terus menyeruak semakin dalam

Lambat laun tubuhku semakin ringkih
Aku terjangkit petaka atas kesalahan yang tak pernah ku lakukan
Aku terperangkap dalam tamaknya si asing itu
Mereka melenyapkan pakaianku perlahan-lahan
Aku tak lagi bisa mendekap insan yang sudah mendekapku
Tubuhku bergetar, kakiku tak dapat menopangnya
Aku mencelakai insan yang mencintaiku dalam derai hujan yang membelai
Mereka menjadi muram dan bersusah karenaku

Hamparan kebahagiaan telah musnah
Senja menyambutku dengan lesu
Aku telah terkoyak, aku telah lumat
Mereka membabat sebagian tubuh indahku
Mereka mengulitiku tanpa merasakan perihnya
Mereka meneriaki aku dengan tawa caciannya
Kini, aku dihadapkan pada kesunyian yang menyedihkan
Melebur menjadi kebiasaanku setiap harinya

Kini, aku tak bisa berbuat apa-apa
Aku hanya bisa berpacu dengan sang waktu
Dalam keterdiaman raga, hatiku terus berkecamuk
Lambat laun, aku akan musnah
Lambat laun, kebahagiaan anak-anak dan petani berlalu
Terbelenggu dalam congkaknya si asing itu
Aku melemah dan pada akhirnya berubah menjadi asing
Ragaku terapung dalam keterputusan sebuah asa
Dan, waktu menjawab dengan berat
Aku harus luruh ....

Rabu, 4 September 2019
_Deska Setya Rini_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Definisi

  DEFINISI Sebuah definisi yang diciptakan sendiri. Aku tidak tahu mengapa definisi buruk selalu mendominasi pikiranku. Lelahnya badan yan...