Minggu, 12 Januari 2020

Bintang dan Tempat Tak Terpetakan


Bintang dan Tempat Tak Terpetakan

Pagi tadi hujan. Hujan awal November. Perkenalkan namaku Vega. Sekarang usiaku 21 tahun. Ya, aku baru saja lulus, menjadi seorang sarjana. Aku bersyukur, aku masih diberi banyak kesempatan oleh Tuhan. Ya kesempatan untuk mengemban tugas atas gelarku ini.
Langkahku terhenti dikota orang. Terasa berat dan bertambah terjal lika-liku perjalanan. Padahal baru beberapa jam menginjakkan kakiku dijalan yang basah. Tapi beruntunglah. Aku ditemani sesosok lelaki. Namanya Rigel. Kami berteduh di halte bus. Dingin senja dan gerimis pekat. Kau menyodorkan payung sembari tersenyum, mengajakku masuk menembus kabut bola matamu.
“Pakailah payung ini. Gerimis masih cukup deras”, ucapnya dengan lembut sembari menyodorkan payung.
“Tidak. Untukmu saja. Setelah ini kau akan beranjak lebih jauh dari pada aku”, ucapku.
Tidak. Aku cukup kuat menahan hawa dingin ini. Terlebih dengan adanya kau disampingku”, ucapnya dengan lengkung bibirnya yang manis dan menatapku.
Aku hampir menolaknya. Tetapi saat itu pula aku berjanji jika bertemu nanti, aku akan mengembalikannya.
“Ah, kau selalu saja gombal seperti ini. Hentikanlah. Aku takut menjadi pecandu rayuanmu itu”, ucapku sembari tertawa meledeknya.
Ya. Rigel adalah kekasihku. Kisah kami sudah berjalan 3 tahun. Lika-liku percintaan sudah kita lalui. Awalnya kami bertemu di acara seminar yang diadakan kampus. Saat selesai seminar, aku berpapasan dengannya dan tak sengaja menabraknya. Entah, kunci motorku dipegang dia dan dia segera mengejarku saat itu. Mengembalikan kuncinya yang dibalut secarik kertas berisi nomor handphone nya. Anehnya, aku pun menghubungi nomor itu. Sejak saat itu, semakin dekat dan akhirnya kami menjadi sepasang kekasih.
Dia mengantar ke tempatku beristirahat di kota orang itu. Dia menyewa hotel untuk menginap semalam sebelum beranjak pergi meninggalkanku. Ya bukan tanpa alasan, cita-cita sementara menariknya jauh dariku. Selalu saja, sekelebat senyum selalu ia hinggapkan satu persatu, yang akhirnya menumpuk di pikiranku. Dia pun melangkahkan kakinya, menjauh.
Esoknya, ku mengantarnya ke stasiun. Melambaikan tangan kananku sembari berkata lirih
“Segeralah pulang padaku. Aku akan selalu menunggumu.”, ucapku dengan mata berbinar.
Seperti mengerti isyarat bibirku yang mengaga begitu mungilnya. Hatinya seperti berkata
“Pasti. Doakan aku. Aku akan segera kembali”.
Hari-hari terlewati. Tanpanya. Berapa banyak janji yang sudah kita sepakati. Berapa banyak janji pula yang tak bisa ditepati. Payung itu hilang saat aku menaruhnya didepan minimarket. Semoga dia mengerti. Saatnya kembali lagi ke kamarku yang kecil. Malam cukup deras. Ku terjang saja. Tubuhku basah kuyup. Peluhku tak terlihat. Jalanku semakin terjal saja? sesampainya handphone berdering. Kekasihku memberi kabar
“Aku sudah sampai tujuan dengan selamat. Sejatinya, ini salah satu doamu”, ucapnya.
“Bagaimana kau bisa menarik kesimpulan semacam itu”, tertawa geli setelah mendengarnya.
“Karena doa orang yang mencintaiku akan selalu melintas ditelinga dan merasuk sukmaku” jawabnya.
“Ah lagi-lagi kau ini. Kebiasaan”. Ucapku dengan hati yang berdebar.
Walaupun hubungan ini sudah berjalan lama. Aku tak pernah bosan mendengar kata-kata gombalnya itu. Entah. Apa aku sudah merasa terikat. Atau hatiku terlalu luluh untuk perkataan semacam itu. Namun saat itu aku hanya berfikir. Beruntungnya aku. Dia adalah manusia yang melengkapi perjalanan hidupku.
***
Sudah dua tahun berlalu, mengapa kau diam. Tak ada kabar. Bahkan sesekali angin pun tak pernah membisikkan pesanmu yang hanya sekedar mengucap“selamat pagi” padaku. Apa kau baik-baik saja ?
Beribu tanya menemaniku berjalan. Terhenti. Berdiri dipinggir jalan. Gerimis pula, tak menyenangkan sekali. Bedakku sebagian luntur, parfum murahan yang kubeli dari warung sebelah kosan tak bersisa. Pakaian tidak rapi benar. Sisanya, hanya bau asap kendaraan yang wara-wiri lewat disampingku saat berjalan.
Membuka pintu kamar. Melempar tas usang ala kadarnya. Lalu menjatuhkan diri ke kasur yang dipannya selalu menyambutku dengan suara ‘krek,nya.
“Apa kamu sudah tidak mengingatku. Bahkan sekian detik yang ku lewati, aku tak pernah tau keberadaanmu dikota mana. Apakah tempatmu berpijak terpetakan? Apakah senyum indahmu selalu kau simpan untuk aku yang kau sebut ‘rumah’ ini? Aku rindu kegilaanmu. Ketika membayar makan, kau rogoh dalam sakumu hanyalah sejumlah uang koin yang kau bingkis dengan plastik berukuran sedang. Ketika kau mengerjaiku dengan permainan yang hukumannya memakan sambal satu sendok. Dan segala kegilaan yang kau titipkan pada setiap pertemuan kita?” celoteh tak jelasku saat menjelang tidur.
Menjadi sebuah fakta aku meyetujui jarak dan waktu menentang kedekatan fisik kita. Sebuah fakta pula aku mendorongmu untuk menggapai asa dengan pulau yang berbeda. Masalahnya pertentangan dalam hatiku bergejolak, mengapa dulu aku harus menjadi sosok yang pengertian akan segala cita-citamu? Namun aku sendiri menyiksa batin dengan segala hal tentangmu yang tak dapat kulihat dan kurasakan langsung untuk berhadapan denganmu. Solusinya, aku ingin bertemu dalam waktu yang singkat ini. Menarikmu dari cita-cita yang membuatmu jauh dariku. Sampai pikiran gila ingin ku tarik pulau yang dipisahkan oleh selatnya agar ku mampu meraihmu dengan mudah. Logika dan hati yang terus beradu.
Terperanjat aku dari tidur yang gagal lelap. Tubuhku gusar. Menghadap ke dinding, salah. Memejamkan mata ke arah meja belajar, keliru pula. seprai kasur sampai amburadul tak karuan karena ulahku yang tak bisa diam. Ku buka penutup jendela. Ah, ternyata bintang sedang mengantri untuk memamerkan gemerlapnya. Ku tersenyum. Membayangkan. Dahulu kau ikut menemaniku memandang bintang dilangit kelabu itu. Menikmati bersama.
“Vega, kau tau mengapa namaku Rigel?”, mendadak dia menanyaiku soal ini.
“Entah, aku tak tahu dan tak mau tahu”, jawabku dengan nada tak peduli.
“Baiklah jika kau tak mau tahu. Tapi malam ini, aku ingin menceritakannya. Semoga kau bisa menjadi pendengar yang baik.”, sahutnya.
“hmmm, baiklah”, ku mengangguk-angguk ringan dihadapannya.
“Rigel adalah bintang raksasa di rasi orion. Ini adalah bintang yang paling penting saat bepergian ke laut, karena bisa jadi penunjuk arah. Harapan orangtuaku, agar walaupun nantinya ketika aku sudah bisa melakukan segalanya sendiri, aku tetap ingat jalan pulang. Namun disini, aku ingin memperluas maknanya. Harapanku dengan nama ini, ketika nantinya aku sudah berhasil meraih segala citaku, aku ingin selalu ingat dengan wanita yang selalu menemaniku. Dengan segala gelak tawa akan kekonyolanku. Dengan segala tangisan atas keegoisanku. Dimanapun aku berada nantinya, aku tak ingin tersesat menuju rumah baru yang bahkan ku tak tau sejarahnya. Aku ingin kembali kerumah yang selalu membuat tubuhku sejuk. Jiwaku tenang. Senyumku merekah. Dengan segala ukiran sejarahnya. Yaitu kamu Vega.”, ucapnya dengan nada yang lembut.
Aku terbelalak dibuatnya. Aku tak menyangka Rigel yang segila itu bisa membuat gerimis membasahi mataku atas perkataannya. Yang ku pikirkan saat itu. Semoga ucapannya itu, tak hanya sebatas kata puitis yang dilontarkan seorang lelaki yang sedang dimabuk cinta. Namun suatu rencana keabadian yang telah ia susun dalam nostalgia yang ingin di ciptakan disepanjang hidupnya. Aku mencintaimu bintangku. Dimanapun kamu. Ditempat tak terpetakan sekalipun, aku tetap dengan perasaan yang sama yakni tetap mencintaimu.
-          29 September 2019  -
-          ditulis saat mengikuti sayembara Mas Arya  -

Burung Rajawali Ibarat Kita Sebagai Manusia


Burung Rajawali Ibarat Kita Sebagai Manusia

Seekor burung rajawali bisa mencapai umur hingga 70 tahun . Tetapi untuk mencapai umur tersebut adalah sebuah pilihan bagi seekor rajawali. Apakah ia ingin hidup sampai 70 tahun atau hanya sampai 40 tahun saja?
Ketika burung rajawali mencapai umur 40 tahun, maka untuk hidup lebih panjang 30 tahun lagi, dia harus melewati transformasi tubuh yang sangat menyakitkan. Dan pada saat inilah seekor rajawali harus menentukan pilihan untuk melewati transformasi yang menyakitkan itu atau melewati sisa hidup yang tidak menyakitkan namun singkat menuju kematian.
Pada umur 40 tahun paruh rajawali sudah sangat bengkok dan panjang hingga mencapai lehernya, sehingga ia akan kesulitan untuk makan. Cakar-cakarnya juga sudah tidak tajam. Selain itu bulun pada sayapnya juga sudah sangat tebal sehingga akan sulit untuk dapat terbang tinggi.
Bila seekor rajawali memutuskan untuk melewati transformasi tubuh yang menyakitkan tersebut, maka ia harus terbang mencari pegunungan yang tinggi dan kemudian membangun sarang dipuncak gunung tersebut. Kemudian dia akan mematuk-matuk paruhnya pada bebatuan digunung sehingga paruhnya lepas. Setelah beberapa lama, paruh barunya akan muncul, lalu dengan menggunakan paruhnya yang baru itu, ia akan mencabut kukunya satu persatu dan menunggu hingga tumbuh kuku yang lebih tajam. Setelah kuku-kuku itu telah tumbuh, ia akan mencabut bulu sayapnya hingga rontok semua dan menunggu bulu-bulu baru tumbuh pada sayapnya. Dan ketika semua itu sudah selesai dilewati, rajawali itu dapat terbang kembali dan dapat menjalani kehidupan normalnya. Begitulah transformasi menyakitkan yang harus dilewati oleh seekor rajawali selama kurang lebih setengah tahun.
Burung rajawali itu ibarat kita sebagai manusia. Ketika sebuah masalah datang dalam kehidupan dan nyatanya kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang harus diambil. Seringkali dari pilihan yang diambil tersebut, kita harus melewati suatu transformasi kehidupan yang menyakitkan bagi jiwa dan tubuh kita. Namun ditengah kesulitan tersebut, kita harus ingat ada Tuhan yang menyertai kita, ada masa depan yang disediakan untuk kita diakhir perjuangan, suatu kehidupan yang lebih baik, suatu sukacita, suatu yang kita impikan selama ini. Keberhasilan seringkali tak tampak karena ia bersembunyi dibalik kesulitan. Hanya orang-orang yang mampu melewati masa sulit itulah yang akan menemui keberhasilan.
(dikutip saat sedang duduk santai sembari menunggu si cinta (motor) sedang dirawat, lalu tergeletak sebuah buku diatas meja yang entah aku seketika mengambilnya, membuka setiap lembarannya lalu menemukan tulisan ini yang cukup memotivasi)

Tesergap Nona Palapa


Tesergap Nona Palapa

Menuruti nafsu daksa
Seraya bercumbu dengan angin liar
Mengarungi langkah aksa
Waktu bergegas semangat menyambar
Perangai dirasuki harsa
Congkaknya dunia terus menggelegar
Tumpah ruah para jiwa penuh asa
Berlomba mencari setumpuk gelar

Sebuah pertemuan membuat tercengang
Saat dua insan beradu pandangan
Tubuh terpaku obsesi asa membancang
Tanpa ada sedikit pun butir perlawanan
Udara seketika terasa gersang
Ketidakwarasan mulai berserakan
Pesona dahayu telah mengguncang
Mata terbelalak, dia mencuri perhatian

Dia menebarkan sajak ke langit
Desir angin menyergap rambut yang meliuk
Ditengah helios menyengat kulit dengan sengit
Lima jemari ingin menyodor, namun kikuk
Pair jantungku meronta keluar dengan gesit
Sifat beraniku seketika meringkuk
Segala sukmamu bak melejit
Melintasi persimpangan hati yang hiruk pikuk

Kelopak mata bak teratai merah yang sedang mekar
Lengkung bibir berseri membuatku lumpuh
Logika dan atma diambang nanar
Khayal menyodorkan belah rotan sembari bersimpuh
Rona wajah segarnya silau memancar
Tubuhku layu, rasanya tulang belulangku merapuh
Semerbak arumi menjalar
Mengisi napas tanpa merasa acuh

Terlena aku dengan buaian tak bertuan
Terdengar langkah kaki menjauh dengan tegas
Ah, gerakku memang lamban
Mengapa tak kusodorkan tanganku dengan lugas
Ku kejar agar tak tumbuh penyesalan
Ingin agar pertemuan ini menjadi tuntas
Naas, rasa yang menggebu harus tersimpan
Bayangnya tak membekas, hatiku menjadi rebas
         







         

Definisi

  DEFINISI Sebuah definisi yang diciptakan sendiri. Aku tidak tahu mengapa definisi buruk selalu mendominasi pikiranku. Lelahnya badan yan...