Bintang
dan Tempat Tak Terpetakan
Pagi
tadi hujan. Hujan awal November. Perkenalkan namaku Vega. Sekarang usiaku 21
tahun. Ya, aku baru saja lulus, menjadi seorang sarjana. Aku bersyukur, aku
masih diberi banyak kesempatan oleh Tuhan. Ya kesempatan untuk mengemban tugas
atas gelarku ini.
Langkahku
terhenti dikota orang. Terasa berat dan bertambah terjal lika-liku perjalanan.
Padahal baru beberapa jam menginjakkan kakiku dijalan yang basah. Tapi
beruntunglah. Aku ditemani sesosok lelaki. Namanya Rigel. Kami berteduh di
halte bus. Dingin senja dan gerimis pekat. Kau menyodorkan payung sembari
tersenyum, mengajakku masuk menembus kabut bola matamu.
“Pakailah
payung ini. Gerimis masih cukup deras”, ucapnya dengan lembut sembari
menyodorkan payung.
“Tidak.
Untukmu saja. Setelah ini kau akan beranjak lebih jauh dari pada aku”, ucapku.
Tidak.
Aku cukup kuat menahan hawa dingin ini. Terlebih dengan adanya kau
disampingku”, ucapnya dengan lengkung bibirnya yang manis dan menatapku.
Aku
hampir menolaknya. Tetapi saat itu pula aku berjanji jika bertemu nanti, aku
akan mengembalikannya.
“Ah,
kau selalu saja gombal seperti ini. Hentikanlah. Aku takut menjadi pecandu
rayuanmu itu”, ucapku sembari tertawa meledeknya.
Ya.
Rigel adalah kekasihku. Kisah kami sudah berjalan 3 tahun. Lika-liku percintaan
sudah kita lalui. Awalnya kami bertemu di acara seminar yang diadakan kampus.
Saat selesai seminar, aku berpapasan dengannya dan tak sengaja menabraknya.
Entah, kunci motorku dipegang dia dan dia segera mengejarku saat itu.
Mengembalikan kuncinya yang dibalut secarik kertas berisi nomor handphone nya.
Anehnya, aku pun menghubungi nomor itu. Sejak saat itu, semakin dekat dan
akhirnya kami menjadi sepasang kekasih.
Dia
mengantar ke tempatku beristirahat di kota orang itu. Dia menyewa hotel untuk
menginap semalam sebelum beranjak pergi meninggalkanku. Ya bukan tanpa alasan,
cita-cita sementara menariknya jauh dariku. Selalu saja, sekelebat senyum selalu
ia hinggapkan satu persatu, yang akhirnya menumpuk di pikiranku. Dia pun
melangkahkan kakinya, menjauh.
Esoknya,
ku mengantarnya ke stasiun. Melambaikan tangan kananku sembari berkata lirih
“Segeralah
pulang padaku. Aku akan selalu menunggumu.”, ucapku dengan mata berbinar.
Seperti
mengerti isyarat bibirku yang mengaga begitu mungilnya. Hatinya seperti berkata
“Pasti.
Doakan aku. Aku akan segera kembali”.
Hari-hari
terlewati. Tanpanya. Berapa banyak janji yang sudah kita sepakati. Berapa
banyak janji pula yang tak bisa ditepati. Payung itu hilang saat aku menaruhnya
didepan minimarket. Semoga dia mengerti. Saatnya kembali lagi ke kamarku yang
kecil. Malam cukup deras. Ku terjang saja. Tubuhku basah kuyup. Peluhku tak
terlihat. Jalanku semakin terjal saja? sesampainya handphone berdering.
Kekasihku memberi kabar
“Aku
sudah sampai tujuan dengan selamat. Sejatinya, ini salah satu doamu”, ucapnya.
“Bagaimana
kau bisa menarik kesimpulan semacam itu”, tertawa geli setelah mendengarnya.
“Karena
doa orang yang mencintaiku akan selalu melintas ditelinga dan merasuk sukmaku”
jawabnya.
“Ah
lagi-lagi kau ini. Kebiasaan”. Ucapku dengan hati yang berdebar.
Walaupun
hubungan ini sudah berjalan lama. Aku tak pernah bosan mendengar kata-kata
gombalnya itu. Entah. Apa aku sudah merasa terikat. Atau hatiku terlalu luluh
untuk perkataan semacam itu. Namun saat itu aku hanya berfikir. Beruntungnya
aku. Dia adalah manusia yang melengkapi perjalanan hidupku.
***
Sudah
dua tahun berlalu, mengapa kau diam. Tak ada kabar. Bahkan sesekali angin pun
tak pernah membisikkan pesanmu yang hanya sekedar mengucap“selamat pagi”
padaku. Apa kau baik-baik saja ?
Beribu
tanya menemaniku berjalan. Terhenti. Berdiri dipinggir jalan. Gerimis pula, tak
menyenangkan sekali. Bedakku sebagian luntur, parfum murahan yang kubeli dari
warung sebelah kosan tak bersisa. Pakaian tidak rapi benar. Sisanya, hanya bau
asap kendaraan yang wara-wiri lewat disampingku saat berjalan.
Membuka
pintu kamar. Melempar tas usang ala kadarnya. Lalu menjatuhkan diri ke kasur
yang dipannya selalu menyambutku dengan suara ‘krek,nya.
“Apa
kamu sudah tidak mengingatku. Bahkan sekian detik yang ku lewati, aku tak
pernah tau keberadaanmu dikota mana. Apakah tempatmu berpijak terpetakan?
Apakah senyum indahmu selalu kau simpan untuk aku yang kau sebut ‘rumah’ ini?
Aku rindu kegilaanmu. Ketika membayar makan, kau rogoh dalam sakumu hanyalah
sejumlah uang koin yang kau bingkis dengan plastik berukuran sedang. Ketika kau
mengerjaiku dengan permainan yang hukumannya memakan sambal satu sendok. Dan
segala kegilaan yang kau titipkan pada setiap pertemuan kita?” celoteh tak
jelasku saat menjelang tidur.
Menjadi
sebuah fakta aku meyetujui jarak dan waktu menentang kedekatan fisik kita.
Sebuah fakta pula aku mendorongmu untuk menggapai asa dengan pulau yang
berbeda. Masalahnya pertentangan dalam hatiku bergejolak, mengapa dulu aku
harus menjadi sosok yang pengertian akan segala cita-citamu? Namun aku sendiri
menyiksa batin dengan segala hal tentangmu yang tak dapat kulihat dan kurasakan
langsung untuk berhadapan denganmu. Solusinya, aku ingin bertemu dalam waktu
yang singkat ini. Menarikmu dari cita-cita yang membuatmu jauh dariku. Sampai
pikiran gila ingin ku tarik pulau yang dipisahkan oleh selatnya agar ku mampu
meraihmu dengan mudah. Logika dan hati yang terus beradu.
Terperanjat
aku dari tidur yang gagal lelap. Tubuhku gusar. Menghadap ke dinding, salah.
Memejamkan mata ke arah meja belajar, keliru pula. seprai kasur sampai
amburadul tak karuan karena ulahku yang tak bisa diam. Ku buka penutup jendela.
Ah, ternyata bintang sedang mengantri untuk memamerkan gemerlapnya. Ku
tersenyum. Membayangkan. Dahulu kau ikut menemaniku memandang bintang dilangit
kelabu itu. Menikmati bersama.
“Vega,
kau tau mengapa namaku Rigel?”, mendadak dia menanyaiku soal ini.
“Entah,
aku tak tahu dan tak mau tahu”, jawabku dengan nada tak peduli.
“Baiklah
jika kau tak mau tahu. Tapi malam ini, aku ingin menceritakannya. Semoga kau
bisa menjadi pendengar yang baik.”, sahutnya.
“hmmm,
baiklah”, ku mengangguk-angguk ringan dihadapannya.
“Rigel
adalah bintang raksasa di rasi orion. Ini adalah bintang yang paling penting
saat bepergian ke laut, karena bisa jadi penunjuk arah. Harapan orangtuaku,
agar walaupun nantinya ketika aku sudah bisa melakukan segalanya sendiri, aku
tetap ingat jalan pulang. Namun disini, aku ingin memperluas maknanya.
Harapanku dengan nama ini, ketika nantinya aku sudah berhasil meraih segala
citaku, aku ingin selalu ingat dengan wanita yang selalu menemaniku. Dengan
segala gelak tawa akan kekonyolanku. Dengan segala tangisan atas keegoisanku.
Dimanapun aku berada nantinya, aku tak ingin tersesat menuju rumah baru yang
bahkan ku tak tau sejarahnya. Aku ingin kembali kerumah yang selalu membuat
tubuhku sejuk. Jiwaku tenang. Senyumku merekah. Dengan segala ukiran
sejarahnya. Yaitu kamu Vega.”, ucapnya dengan nada yang lembut.
Aku
terbelalak dibuatnya. Aku tak menyangka Rigel yang segila itu bisa membuat
gerimis membasahi mataku atas perkataannya. Yang ku pikirkan saat itu. Semoga
ucapannya itu, tak hanya sebatas kata puitis yang dilontarkan seorang lelaki
yang sedang dimabuk cinta. Namun suatu rencana keabadian yang telah ia susun
dalam nostalgia yang ingin di ciptakan disepanjang hidupnya. Aku mencintaimu
bintangku. Dimanapun kamu. Ditempat tak terpetakan sekalipun, aku tetap dengan
perasaan yang sama yakni tetap mencintaimu.
-
29 September 2019 -
-
ditulis saat mengikuti sayembara Mas
Arya -
Terharu:')
BalasHapus