Kesakitan yang Dipaksa Menghilang
“Suatu
keinginan menerima hati baru ditengah bayang luka yang terus menghantui.
Ketakutan terlupakan dan ditinggalkan kembali”
_Deska
Setya R_
Bertahun-tahun selalu
memaksa hati agar tetap bertahan untuk menyendiri. Pada akhirnya kau tak bisa menyalahkan
apa yang telah ditakdirkan Tuhan untuk setiap manusia. Ya. Perihal mencintai. Kau
harus menciptakan suatu kisah seperti muda-mudi yang sedang dimabuk asmara.
Setelah bertahun-tahun
itu pula. Ingin sebenarnya menjalankan takdir Tuhan yang indah itu. Namun kau
selalu melawan arah yang telah diciptakan-Nya. Seolah-olah kau bisa hidup
dengan bahagia tanpa harus ada yang namanya ‘cinta’. Pemikiran liarmu itu
memang tidak tahu diri.
Hari-hari kau lewati
dengan menyenangkan. Namun tak bisa dipungkiri pula, kau butuh itu. Kau tak
bisa terus bertahan dengan ego yang menggerogoti otakmu. Kau itu dimakan usia.
Mau sampai kapan bertahan dalam kesendirian?
Sampai pada akhirnya,
kesakitan yang bersarang selama bertahun-tahun itu harus kau paksa untuk
menghilang. Ya, dengan membuka hati bagi orang baru. Baguslah. Kau perlahan
mulai terbuka. Memang awal-awal kau selalu ragu dan menolak. Didekati. Menolak.
Seperti itu beberapa kali. Walaupun tak mau, kau terpaksa harus membuat
pernyataan. Ya. Sebuah pernyataan akan penolakan.
Sekali lagi. Usia terus
mengejarmu. Ah. secepat itu ternyata. Tak bisa diduga. Baru kemarin sepertinya
kau disuapi bubur oleh ibumu. Hari ini, kau disuapi oleh pahit getirnya
kehidupan. Ya. Salah satunya pahit getirnya harus merasakan cinta yang naik
turun. Naik ketika kau merasa terbang akan perkataan dan perbuatan yang membuat
hati berseri. Turun ketika kau ditinggalkan dan dilupakan begitu saja. Ah
lagi-lagi terngiang.
Sudahlah. Cukup. Tak
selamanya akan berakhir buruk. Kau harus yakin itu. Ayolah bangun kepercayaan
lagi terhadap dia yang ingin mendekatimu. Menata hati. Menata air mata agar tak
tumpah seperti sediakala. Baiklah akan kau coba.
Tahun demi tahun kau
lewati. Hari ini kau dibuat antusias oleh hadirnya seseorang. Entah, dahulu kau
pernah berpandang sekejap ternyata. Sekarang, seakan sebuah mimpi kau bisa
bertemu dengannya kembali. Dengan suasana berbeda pastinya.
Ya. Mengapa berbeda.
Karena rasanya semakin intens saja. apakah ini saatnya kau membuka hati untuk
orang baru? Entahlah. Apa coba saja dijalani? Beberapa minggu sudah terlewati
ternyata. Kau seperti manusia yang telah ditelan bumi, namun seketika bangkit
kembali. Artinya, kau sudah lama tak merasakan rasanya dimabuk asmara,
tenggelam dengan keasyikan yang kau bentuk untuk dirimu sendiri saja, namun
sekarang kau mulai terbiasa dengan keasyikan yang kau bentuk dengan dirinya. Menyenangkan
memang.
Entah. Kau kalap oleh
pikiranmu sendiri. Pada awal pertemuan pun rasanya sudah berbeda. Setelah itu,
kau menjadikan dia menjadi salah satu bagian terpenting bagi hidupmu. Ah kacau
sudah. Kau ini kenapa? Bukankah hatimu sudah sekeras batu. Tak mau terlalu
memakai perasaan dalam sebuah pertemuan dan percakapan yang berkelanjutan.
Namun, kau tak menyadari. Batu sekeras apapun bisa hancur. Tidak melunak. Tapi
melebur. Sama halnya dengan perasaan. Sekeras apapun untuk tidak akan mencintai
lagi, pada akhirnya kau harus menerima bahwa kerasnya pendirianmu akan kalah
dengan takdir Tuhan. Melebur sudah.
Waktu terus berjalan.
Saat itu pula kau terus menangkap bagaimana sikapnya sepanjang harimu. Awalnya
biasa saja. Awalnya memahami. Namun terkadang juga merasakan lelah. Bagaimana
cara dia menghilang selama berjam-jam. Dalihnya sedang ada yang dikerjakan atau
sedang dalam perjalanan. Ah, itu tak masuk akal. Berkirim pesan singkat hanya
10 detik saja tidak bisa hanya karena dalih seperti itu. Namun, lagi-lagi kau
harus bisa paham, bahwa tak melulu kau menjadi prioritas. Hey, kau siapa?
Lalu, hal lain pastinya
diperhatikan juga. Seperti saat kau bicara panjang lebar agar bisa mendapat
tanggapannya. Agar bisa bertukar pikiran. Nyatanya dia tak menyukai hal itu. Dia
berusaha berganti topik dengan alasan bahasan kau sungguh membosankan. Ya.
Hanya bisa tersenyum kecut. Belum lagi, entah ini perasaanmu saja atau memang
benar, kau dicari saat dia sedang bosan saja. Setelah berkumpul dengan
teman-temannya, dia melupakan. Seolah kau hanya angin lalu. Oksigen yang bisa
dia tarik kembali saat paru-paru membutuhkannya. Ah sesibuk apa sebenarnya?
Tuhan saja yang maha sibuk mengurusi milyaran manusia tidak pernah luput
memperhatikan setiap jengkal kelakuan manusia. Aduh, perumpamaan yang sangat
jauh. Liar sekali pikiranmu.
Pikiran negatif memang
selalu hadir bagi hati yang pernah terluka begitu dalam. Kau sudah tak bisa
mewajari semua ini. Kau harus merubah pola pikirmu. Tapi bagaimana bisa? Jujur
saja kau memang sudah lama dikecewakan, namun lukanya terus membekas. Entah.
Kau takut melewati fase didekati, diperhatikan, dijadikan prioritas utama.
Lalu, dikecewakan, dilupakan dan dicampakkan kembali. Tidak menyenangkan memang
berharap terhadap manusia.
Namun keberuntungan kau
adalah ketika Tuhan terus menahan rasa dalam dirimu agar biasa-biasa saja. Ya.
Dengan terus membuat kau mengingat-Nya. Bahwa sepenuh-penuhnya cinta hanya
untuk Tuhan, bukan yang lain. Tuhan tak akan pernah mengecewakan, itu yang kau
pegang teguh setelah mengalami luar biasanya dampak dari patah hati. Iya benar.
Sudahlah. Memasrahkan adalah jalan yang terbaik. Tuhan memiliki jutaan
rangkaian cerita indah untuk hidupmu nanti. Percayalah. Bukalah hatimu untuk
orang baru. Yakinilah dia akan membuatmu menjadi sosok paling bahagia hingga
akhir hayatnya. Jangan takut dilupakan. Jangan takut sendiri. Karena pada
akhirnya nanti, maut pun akan menghampirimu dan kau tak akan menyambutnya
dengan membawa kawan, melainkan menyambutnya dengan kesendirian.
Tulisan yang memang
menyedihkan bagi kebanyakan orang jika dimaknai dengan sepenuh hati. Namun
belajarlah untuk bersikap biasa saja karena bahagiamu lebih penting. Kau harus
paham. Dia hanya angin lalu, tidak untuk singgah ..
Suatu kewajiban
: KAU HARUS BAHAGIA – Deska Setya
22 Januari 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar