Kamis, 19 Maret 2020

Kesakitan yang Dipaksa Menghilang


Kesakitan yang Dipaksa Menghilang

“Suatu keinginan menerima hati baru ditengah bayang luka yang terus menghantui. Ketakutan terlupakan dan ditinggalkan kembali”
_Deska Setya R_

Bertahun-tahun selalu memaksa hati agar tetap bertahan untuk menyendiri. Pada akhirnya kau tak bisa menyalahkan apa yang telah ditakdirkan Tuhan untuk setiap manusia. Ya. Perihal mencintai. Kau harus menciptakan suatu kisah seperti muda-mudi yang sedang dimabuk asmara.

Setelah bertahun-tahun itu pula. Ingin sebenarnya menjalankan takdir Tuhan yang indah itu. Namun kau selalu melawan arah yang telah diciptakan-Nya. Seolah-olah kau bisa hidup dengan bahagia tanpa harus ada yang namanya ‘cinta’. Pemikiran liarmu itu memang tidak tahu diri.

Hari-hari kau lewati dengan menyenangkan. Namun tak bisa dipungkiri pula, kau butuh itu. Kau tak bisa terus bertahan dengan ego yang menggerogoti otakmu. Kau itu dimakan usia. Mau sampai kapan bertahan dalam kesendirian?

Sampai pada akhirnya, kesakitan yang bersarang selama bertahun-tahun itu harus kau paksa untuk menghilang. Ya, dengan membuka hati bagi orang baru. Baguslah. Kau perlahan mulai terbuka. Memang awal-awal kau selalu ragu dan menolak. Didekati. Menolak. Seperti itu beberapa kali. Walaupun tak mau, kau terpaksa harus membuat pernyataan. Ya. Sebuah pernyataan akan penolakan.
Sekali lagi. Usia terus mengejarmu. Ah. secepat itu ternyata. Tak bisa diduga. Baru kemarin sepertinya kau disuapi bubur oleh ibumu. Hari ini, kau disuapi oleh pahit getirnya kehidupan. Ya. Salah satunya pahit getirnya harus merasakan cinta yang naik turun. Naik ketika kau merasa terbang akan perkataan dan perbuatan yang membuat hati berseri. Turun ketika kau ditinggalkan dan dilupakan begitu saja. Ah lagi-lagi terngiang.

Sudahlah. Cukup. Tak selamanya akan berakhir buruk. Kau harus yakin itu. Ayolah bangun kepercayaan lagi terhadap dia yang ingin mendekatimu. Menata hati. Menata air mata agar tak tumpah seperti sediakala. Baiklah akan kau coba.

Tahun demi tahun kau lewati. Hari ini kau dibuat antusias oleh hadirnya seseorang. Entah, dahulu kau pernah berpandang sekejap ternyata. Sekarang, seakan sebuah mimpi kau bisa bertemu dengannya kembali. Dengan suasana berbeda pastinya.

Ya. Mengapa berbeda. Karena rasanya semakin intens saja. apakah ini saatnya kau membuka hati untuk orang baru? Entahlah. Apa coba saja dijalani? Beberapa minggu sudah terlewati ternyata. Kau seperti manusia yang telah ditelan bumi, namun seketika bangkit kembali. Artinya, kau sudah lama tak merasakan rasanya dimabuk asmara, tenggelam dengan keasyikan yang kau bentuk untuk dirimu sendiri saja, namun sekarang kau mulai terbiasa dengan keasyikan yang kau bentuk dengan dirinya. Menyenangkan memang.

Entah. Kau kalap oleh pikiranmu sendiri. Pada awal pertemuan pun rasanya sudah berbeda. Setelah itu, kau menjadikan dia menjadi salah satu bagian terpenting bagi hidupmu. Ah kacau sudah. Kau ini kenapa? Bukankah hatimu sudah sekeras batu. Tak mau terlalu memakai perasaan dalam sebuah pertemuan dan percakapan yang berkelanjutan. Namun, kau tak menyadari. Batu sekeras apapun bisa hancur. Tidak melunak. Tapi melebur. Sama halnya dengan perasaan. Sekeras apapun untuk tidak akan mencintai lagi, pada akhirnya kau harus menerima bahwa kerasnya pendirianmu akan kalah dengan takdir Tuhan. Melebur sudah.

Waktu terus berjalan. Saat itu pula kau terus menangkap bagaimana sikapnya sepanjang harimu. Awalnya biasa saja. Awalnya memahami. Namun terkadang juga merasakan lelah. Bagaimana cara dia menghilang selama berjam-jam. Dalihnya sedang ada yang dikerjakan atau sedang dalam perjalanan. Ah, itu tak masuk akal. Berkirim pesan singkat hanya 10 detik saja tidak bisa hanya karena dalih seperti itu. Namun, lagi-lagi kau harus bisa paham, bahwa tak melulu kau menjadi prioritas. Hey, kau siapa?

Lalu, hal lain pastinya diperhatikan juga. Seperti saat kau bicara panjang lebar agar bisa mendapat tanggapannya. Agar bisa bertukar pikiran. Nyatanya dia tak menyukai hal itu. Dia berusaha berganti topik dengan alasan bahasan kau sungguh membosankan. Ya. Hanya bisa tersenyum kecut. Belum lagi, entah ini perasaanmu saja atau memang benar, kau dicari saat dia sedang bosan saja. Setelah berkumpul dengan teman-temannya, dia melupakan. Seolah kau hanya angin lalu. Oksigen yang bisa dia tarik kembali saat paru-paru membutuhkannya. Ah sesibuk apa sebenarnya? Tuhan saja yang maha sibuk mengurusi milyaran manusia tidak pernah luput memperhatikan setiap jengkal kelakuan manusia. Aduh, perumpamaan yang sangat jauh. Liar sekali pikiranmu.

Pikiran negatif memang selalu hadir bagi hati yang pernah terluka begitu dalam. Kau sudah tak bisa mewajari semua ini. Kau harus merubah pola pikirmu. Tapi bagaimana bisa? Jujur saja kau memang sudah lama dikecewakan, namun lukanya terus membekas. Entah. Kau takut melewati fase didekati, diperhatikan, dijadikan prioritas utama. Lalu, dikecewakan, dilupakan dan dicampakkan kembali. Tidak menyenangkan memang berharap terhadap manusia.

Namun keberuntungan kau adalah ketika Tuhan terus menahan rasa dalam dirimu agar biasa-biasa saja. Ya. Dengan terus membuat kau mengingat-Nya. Bahwa sepenuh-penuhnya cinta hanya untuk Tuhan, bukan yang lain. Tuhan tak akan pernah mengecewakan, itu yang kau pegang teguh setelah mengalami luar biasanya dampak dari patah hati. Iya benar. Sudahlah. Memasrahkan adalah jalan yang terbaik. Tuhan memiliki jutaan rangkaian cerita indah untuk hidupmu nanti. Percayalah. Bukalah hatimu untuk orang baru. Yakinilah dia akan membuatmu menjadi sosok paling bahagia hingga akhir hayatnya. Jangan takut dilupakan. Jangan takut sendiri. Karena pada akhirnya nanti, maut pun akan menghampirimu dan kau tak akan menyambutnya dengan membawa kawan, melainkan menyambutnya dengan kesendirian.

Tulisan yang memang menyedihkan bagi kebanyakan orang jika dimaknai dengan sepenuh hati. Namun belajarlah untuk bersikap biasa saja karena bahagiamu lebih penting. Kau harus paham. Dia hanya angin lalu, tidak untuk singgah ..

Suatu kewajiban : KAU HARUS BAHAGIA – Deska Setya
22 Januari 2020



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Definisi

  DEFINISI Sebuah definisi yang diciptakan sendiri. Aku tidak tahu mengapa definisi buruk selalu mendominasi pikiranku. Lelahnya badan yan...