Jumat, 20 Maret 2020

Asing


ASING

( dia hanya angin lalu, tidak untuk singgah )

Sebuah perayaan sorak sorai teman-teman SMA. Bagaimana tidak? Ini hari kelulusan. Kain suci yang terpola kau nodai dengan bercak dari berbagai warna. Tentu bukan noda si pendosa, lebih tepatnya noda karena hati yang sedang berwarna. Boleh ku tertawa? Haha. Lebih kurang 3 tahun mencicipi asam garam dan ini puncaknya.

Ya, ini kan teman-teman. Tidak denganku. Aku bahkan tidak bisa merayakannya. Hmm, bukan tidak bisa, tetapi tidak mau. Saat itu aturan sekolah tidak membolehkan hal itu terjadi dan dengan mudahnya aku menurutinya. Entah, mungkin aku terlalu polos saat itu. Lagi dan lagi, sanksi menjadi pemeran utama dalam membatasi gerak. Namun, tetap ada saja yang diam-diam melakukan itu. Mereka tidak nakal. Mereka hanya sedang meluapkan kebebasannya.

Jarum jam terus bergerak setiap detiknya. Tidak bisakah kau berhenti sejenak saja? aku ingin beristirahat sejenak. Ah khayalan semata. Cepat sekali waktu berlalu. Saat itu pula, usia sedikit memaksa bahwa sudah saatnya memilih. Ya, memilih kau ingin menjadi seperti apa? Apa yang akan kau lakukan? Resiko seperti apa yang akan kau dapat saat melakukan hal tersebut? Kalimat-kalimat yang memusingkan kepala. Ingin ku benturkan saja.

Perihal pilihan. Aku memilih untuk melanjutkan studiku di sebuah universitas negeri. Ya, walaupun sempat ada sekat penghalang mimpi sehingga memaksaku mengisi waktu luang untuk bekerja terlebih dahulu. Aku bahagia. Aku tak menyangka. Bisa duduk dibangku kuliah yang selama ini hanya bisa memandanginya dilayar kaca, sesekali. Dan dongeng dari teman-temanku tentang perkuliahan yang sempat membuatku tak berdaya memikirkan nasib kedepan. Namun, disisi lain tergurat kesedihan. Bagaimana tidak, teman seperjuanganku tidak lolos dan dia menangis dihadapanku. Namun tak apa kawan, tahun depan masih menyambutmu.

Menyadari, aku sedang berproses. Jarak rumah dengan kampus tidak terlalu jauh. Hanya 1 jam. Aku harus bolak balik untuk membawa barang-barang ke tempat berteduhku yang baru. Ya, kosan haha. Mungkin banyak yang bertanya “ngapain kos? Kan rumahnya dekat.” . Ya, terserah lah ucapan berbuih mereka aku terima saja. Ini juga atas kehendak orang tua yang tak menginginkan anaknya terlalu lelah bolak-balik setiap harinya. Ah, memang orang tuaku terbaik. Atau karena aku terlalu manja? Ah tidak juga haha.

Keasingan kita mulai dari sini. Suasana yang berbeda. Ukuran kamar yang tak berbeda jauh dari kamar dirumah. Hanya saja, warna cat tembok yang berbeda dalam pandangan. Tentu bukan masalah. Beberapa hari telah berlalu. Kau memenuhi kebutuhanmu sendiri. Makan pun tak ada yang menghidangkan. Sejak itu, tak teratur sekali. Awalnya terkejut, namun lama-kelamaan terbiasa.

Senin. Hari permulaan. Banyak yang tidak menghendaki hari itu. Mungkin karena tubuh lunglai yang bermalas-malasan harus segera beranjak. Atau liburan singkat karena termakan hari itu keesokan harinya. Namun, itu tidak menjadi masalah bagiku. Ah mereka saja yang terlalu berlebihan. Menjalani masa orientasi, perkenalan. Segala hal baru kudapatkan. Kudapati langkah kaki tak berjejak. Ya, langkahku menuju kampus. Beberapa hari harus berjalan karena lagi-lagi aturan yang mengekang.

Satu minggu sudah terlewati. Seketika wajahku muram. Menunduk. Aku rindu rumah. Kebetulan kamarku ada dilantai atas. Saat itu senja. Ku jatuhkan pandangan padanya. Ya, senja yang retak. Air mata yang menyamar puisi paling berduri. Menyangga sebelah pipi dan merenung. Tak apa. Kau hanya belum terbiasa.

Baiklah ku bangun kegembiraan hidup. Ku tarik kursi agar bisa berdua bersama meja. Ku menjadi perantara diantara mereka. Mereka menjadi saksi jikalau aku mulai berjuang. Menorehkan segala asa dalam secarik kertas putih yang melekat ke dalam jendela dunia. Air mata sudah tak jatuh. Hanya saja, mata menjadi sembab dibuatnya.

Segalanya asing. Mulai mencari apa yang dibutuhkan. Mengikuti serangkaian kepanitiaan. Mulanya, ku terdiam. Memandangi dan mengajak ngobrol orang asing memang membutuhkan keberanian yang tidak sedikit. Tapi, lingkungan memaksaku. Sampai ada kau, yang membuat rasa maluku perlahan memudar.

Kamu asing. Tapi kamu selalu membuat dirimu agar tak terlihat asing bagiku. Kamu mengajak berbincang. Selalu meracau dengan candaan yang terkadang membuatku geli dan sebal. Tapi aku suka. Kamu membangun keberanian dalam diriku. Beruntung sekali aku bisa satu kepanitiaan denganmu pikirku.

Waktu berlalu, kepanitiaan berakhir. Namun tidak dengan sapaan hangat yang seringkali terlontar dari bibirmu acapkali kita dipertemukan. Seperti biasa, kamu selalu ramah. Namun aku tak suka, saat kamu berbicara suaramu seperti bergumam tak jelas. Ini bukan salah telingaku. Namun ocehan dari mulutmu yang tak bisa kau buka dengan lebar.

Cahaya beranjak gelap. Tertelan senja yang tak pernah luput membuatku terpana. Ku terbaring. Memainkan ponselku yang kolot. Sesekali dibuat kesal karena lemotnya minta ampun. Sebuah pesan ku terima lewat line. Oh dia. Ada apa ya? Seperti kebanyakan, dia menanyakan sedang apa padaku. Ku balas dengan candaan dan itu berbuntut panjang. Tawaku terbahak-bahak dibuatnya. Aku seperti hantu yang tidak tau etika tertawa dimalam hari. Sampai pada akhirnya, aku ingin meminta pendapatnya dan bercerita. Dia dengan senang hati mau mendengarnya. Aku menceritakan perihal masa lalu, tepatnya lelaki yang sangat aku cintai saat itu. Responnya cukup baik. Setelah pembahasan, kita pun melemparkan berbagai stiker lucu. Namun keesokan hari dan seterusnya, dia tidak mengirimku pesan kembali. Namun, ah sudahlah. Aku menganggap hal itu wajar dan tidak dibuat sedih pula karenanya.

Tahun demi tahun meninggalkan segala kenangan yang dibuat. Dan saat itu pula aku memiliki teman yang selalu meledekku dengan teman kepanitiaanku dahulu itu. akupun penasaran mengapa kamu selalu meledekku bersamanya? Dan ternyata, sosok yang dahulunya berperan mengikis rasa maluku menyimpan rasa padaku. Aku benar-benar tak percaya. Bagaimana bisa? Dia tak menunjukannya. Atau karena dahulu aku menceritakan lelaki lain padanya? Oh bodohnya aku. Namun, tak bisa dipungkiri, bagaimana dahulu aku dimabuk kasmaran akan cinta di masa laluku. Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri. Ah, sudahlah. Itu sudah berlalu. Toh sekarang dia sudah memiliki kekasih.

Seketika itu ternyata kami berpapasan kembali. Namun, ada yang berbeda. Senyumnya membeku. Candaannya sirna. Bahkan, dia seolah seperti menganggapku hantu. Tidak terlihat, namun ada. Apa mungkin dulu dia sempat kecewa atas diriku. Namun tak seharusnya seperti itu. Kamu yang dulu menjadi sosok yang begitu lihat memainkan peran untuk menghibur, kini asing kembali. Bahkan sangat asing. Kamu tak lagi menjadi manusia yang hangat untukku. Namun sekarang, asingmu berharga karena memberiku pelajaran akan kenangan yang sempat kau bangun. Tak apa. Prinsipnya, asing bisa menjadi dekat dan sebaliknya. Dia hanya angin lalu, tidak ditakdirkan singgah di kehidupanmu selanjutnya. Biarpun begitu, yang terpenting adalah Purwokerto akan selalu hangat. Dengan atau tanpa senyumanmu. Terimakasih untuk kamu, sempat hadir mengisi waktu ...


20 Maret 2020

Kamis, 19 Maret 2020

Kesakitan yang Dipaksa Menghilang


Kesakitan yang Dipaksa Menghilang

“Suatu keinginan menerima hati baru ditengah bayang luka yang terus menghantui. Ketakutan terlupakan dan ditinggalkan kembali”
_Deska Setya R_

Bertahun-tahun selalu memaksa hati agar tetap bertahan untuk menyendiri. Pada akhirnya kau tak bisa menyalahkan apa yang telah ditakdirkan Tuhan untuk setiap manusia. Ya. Perihal mencintai. Kau harus menciptakan suatu kisah seperti muda-mudi yang sedang dimabuk asmara.

Setelah bertahun-tahun itu pula. Ingin sebenarnya menjalankan takdir Tuhan yang indah itu. Namun kau selalu melawan arah yang telah diciptakan-Nya. Seolah-olah kau bisa hidup dengan bahagia tanpa harus ada yang namanya ‘cinta’. Pemikiran liarmu itu memang tidak tahu diri.

Hari-hari kau lewati dengan menyenangkan. Namun tak bisa dipungkiri pula, kau butuh itu. Kau tak bisa terus bertahan dengan ego yang menggerogoti otakmu. Kau itu dimakan usia. Mau sampai kapan bertahan dalam kesendirian?

Sampai pada akhirnya, kesakitan yang bersarang selama bertahun-tahun itu harus kau paksa untuk menghilang. Ya, dengan membuka hati bagi orang baru. Baguslah. Kau perlahan mulai terbuka. Memang awal-awal kau selalu ragu dan menolak. Didekati. Menolak. Seperti itu beberapa kali. Walaupun tak mau, kau terpaksa harus membuat pernyataan. Ya. Sebuah pernyataan akan penolakan.
Sekali lagi. Usia terus mengejarmu. Ah. secepat itu ternyata. Tak bisa diduga. Baru kemarin sepertinya kau disuapi bubur oleh ibumu. Hari ini, kau disuapi oleh pahit getirnya kehidupan. Ya. Salah satunya pahit getirnya harus merasakan cinta yang naik turun. Naik ketika kau merasa terbang akan perkataan dan perbuatan yang membuat hati berseri. Turun ketika kau ditinggalkan dan dilupakan begitu saja. Ah lagi-lagi terngiang.

Sudahlah. Cukup. Tak selamanya akan berakhir buruk. Kau harus yakin itu. Ayolah bangun kepercayaan lagi terhadap dia yang ingin mendekatimu. Menata hati. Menata air mata agar tak tumpah seperti sediakala. Baiklah akan kau coba.

Tahun demi tahun kau lewati. Hari ini kau dibuat antusias oleh hadirnya seseorang. Entah, dahulu kau pernah berpandang sekejap ternyata. Sekarang, seakan sebuah mimpi kau bisa bertemu dengannya kembali. Dengan suasana berbeda pastinya.

Ya. Mengapa berbeda. Karena rasanya semakin intens saja. apakah ini saatnya kau membuka hati untuk orang baru? Entahlah. Apa coba saja dijalani? Beberapa minggu sudah terlewati ternyata. Kau seperti manusia yang telah ditelan bumi, namun seketika bangkit kembali. Artinya, kau sudah lama tak merasakan rasanya dimabuk asmara, tenggelam dengan keasyikan yang kau bentuk untuk dirimu sendiri saja, namun sekarang kau mulai terbiasa dengan keasyikan yang kau bentuk dengan dirinya. Menyenangkan memang.

Entah. Kau kalap oleh pikiranmu sendiri. Pada awal pertemuan pun rasanya sudah berbeda. Setelah itu, kau menjadikan dia menjadi salah satu bagian terpenting bagi hidupmu. Ah kacau sudah. Kau ini kenapa? Bukankah hatimu sudah sekeras batu. Tak mau terlalu memakai perasaan dalam sebuah pertemuan dan percakapan yang berkelanjutan. Namun, kau tak menyadari. Batu sekeras apapun bisa hancur. Tidak melunak. Tapi melebur. Sama halnya dengan perasaan. Sekeras apapun untuk tidak akan mencintai lagi, pada akhirnya kau harus menerima bahwa kerasnya pendirianmu akan kalah dengan takdir Tuhan. Melebur sudah.

Waktu terus berjalan. Saat itu pula kau terus menangkap bagaimana sikapnya sepanjang harimu. Awalnya biasa saja. Awalnya memahami. Namun terkadang juga merasakan lelah. Bagaimana cara dia menghilang selama berjam-jam. Dalihnya sedang ada yang dikerjakan atau sedang dalam perjalanan. Ah, itu tak masuk akal. Berkirim pesan singkat hanya 10 detik saja tidak bisa hanya karena dalih seperti itu. Namun, lagi-lagi kau harus bisa paham, bahwa tak melulu kau menjadi prioritas. Hey, kau siapa?

Lalu, hal lain pastinya diperhatikan juga. Seperti saat kau bicara panjang lebar agar bisa mendapat tanggapannya. Agar bisa bertukar pikiran. Nyatanya dia tak menyukai hal itu. Dia berusaha berganti topik dengan alasan bahasan kau sungguh membosankan. Ya. Hanya bisa tersenyum kecut. Belum lagi, entah ini perasaanmu saja atau memang benar, kau dicari saat dia sedang bosan saja. Setelah berkumpul dengan teman-temannya, dia melupakan. Seolah kau hanya angin lalu. Oksigen yang bisa dia tarik kembali saat paru-paru membutuhkannya. Ah sesibuk apa sebenarnya? Tuhan saja yang maha sibuk mengurusi milyaran manusia tidak pernah luput memperhatikan setiap jengkal kelakuan manusia. Aduh, perumpamaan yang sangat jauh. Liar sekali pikiranmu.

Pikiran negatif memang selalu hadir bagi hati yang pernah terluka begitu dalam. Kau sudah tak bisa mewajari semua ini. Kau harus merubah pola pikirmu. Tapi bagaimana bisa? Jujur saja kau memang sudah lama dikecewakan, namun lukanya terus membekas. Entah. Kau takut melewati fase didekati, diperhatikan, dijadikan prioritas utama. Lalu, dikecewakan, dilupakan dan dicampakkan kembali. Tidak menyenangkan memang berharap terhadap manusia.

Namun keberuntungan kau adalah ketika Tuhan terus menahan rasa dalam dirimu agar biasa-biasa saja. Ya. Dengan terus membuat kau mengingat-Nya. Bahwa sepenuh-penuhnya cinta hanya untuk Tuhan, bukan yang lain. Tuhan tak akan pernah mengecewakan, itu yang kau pegang teguh setelah mengalami luar biasanya dampak dari patah hati. Iya benar. Sudahlah. Memasrahkan adalah jalan yang terbaik. Tuhan memiliki jutaan rangkaian cerita indah untuk hidupmu nanti. Percayalah. Bukalah hatimu untuk orang baru. Yakinilah dia akan membuatmu menjadi sosok paling bahagia hingga akhir hayatnya. Jangan takut dilupakan. Jangan takut sendiri. Karena pada akhirnya nanti, maut pun akan menghampirimu dan kau tak akan menyambutnya dengan membawa kawan, melainkan menyambutnya dengan kesendirian.

Tulisan yang memang menyedihkan bagi kebanyakan orang jika dimaknai dengan sepenuh hati. Namun belajarlah untuk bersikap biasa saja karena bahagiamu lebih penting. Kau harus paham. Dia hanya angin lalu, tidak untuk singgah ..

Suatu kewajiban : KAU HARUS BAHAGIA – Deska Setya
22 Januari 2020



Definisi

  DEFINISI Sebuah definisi yang diciptakan sendiri. Aku tidak tahu mengapa definisi buruk selalu mendominasi pikiranku. Lelahnya badan yan...