Serpihan Hati yang Tersusun Tak Sempurna
“Ini kisahku, tentang
perjuangan melupakan dan bersikeras kembali menjadi pecandu kebahagiaan. Dan ini
perihal dua pilihan, membuka hati atau bertahan dengan luka.”
_Deska Setya R _
Ya,
denting waktu selalu menganga dihadapanku. Seolah segala hariku sudah
dilahapnya, dan pastinya bersama kenanganku. Kenangan indahku bersama dia, si
pencuri hati yang akhirnya mempercundangiku.
Kala
itu, awan kelabu seringkali menyambutku. Bersama derai hujan dan air mata. Aku tak
bisa menjelaskan apa yang terjadi pada diriku. Saat itu luluh lantah bersama
asa yang sudah kurangkai sedemikian sempurnanya.
Bagaimana
tidak, masa ku terbuang untuk bertahan dalam sebuah ketidakpastian. Apa kau
peduli dengan isi kepalaku? bagaimana aku membayangkan bisa bertemu kembali dan
kau menjadi pelabuhan terakhirku. Kau menyiksaku, ketidakpastianmu membuatku
terombang-ambing. Bahkan seringkali ombak menghempas membuatku menabrak karang.
Sakit. Sekujur tubuh terluka oleh sayatan bebatuan karang yang tajam.
Lembayung
saat itu setia menemani kesepianku menanti kabarmu. Apa disana kau bisa menjadi
sosok yang perasa? Saat sebuah rasa merindukan kehadiranmu. Bahkan logika telah
terkalahkan oleh hati yang begitu dahsyat menginginkanmu. Arghh, perkuliahanku
kacau balau saat itu.
Bagaimana
tidak. Waktu selalu mengingatkanmu padaku. Ku terpaksa tidur larut malam. Aku sulit
menerka, bagaimana porsiku dalam otakmu? Setiap tengah malam aku selalu sendu. Aku
selalu rindu. Aku selalu memintamu. Ya, meminta pada Tuhan, agar kau
dikembalikan seperti sedia kala.
Terlebih,
saat kau memberiku kabar. Namun kabar duka akan sepasang perasaan. Hadirku bukan
lagi menjadi candu bagimu. Senyumku, bukan lagi pelipur lara bagimu. Saat itu,
ya ... aku terlupakan. Kau ragu akan kepercayaan yang ku jaga untukmu. Kau menabur
garam diatas luka yang menganga, perih. Sangat perih.
Tubuhku
kaku. Jiwaku kelu. Ku tertunduk malu. Malu pada kenyataan mengapa aku harus
menunggu selama itu, yang pada akhirnya tak akan pernah singgah. Terimakasih pejuang.
Pejuang yang sudah berhasil mengambil hatiku, yang setelah menua ditelan waktu
pergi meninggalkan. Selamat kau menjadi pemenang dalam merobek segala asa dari
seorang yang terpedaya oleh keluguanmu. Mungkin didetik ini, aku akan menyusun
kembali serpihan hati. Walaupun pada akhirnya tak bisa sempurna seperti pada
awalnya.
Aku, ditemani cuaca
mendung. Tapi bersyukurnya, tak lagi dengan hati yang pilu. – Deska Setya
10
September 2019


