Senin, 09 September 2019

Serpihan Hati yang Tersusun Tak Sempurna



Serpihan Hati yang Tersusun Tak Sempurna

“Ini kisahku, tentang perjuangan melupakan dan bersikeras kembali menjadi pecandu kebahagiaan. Dan ini perihal dua pilihan, membuka hati atau bertahan dengan luka.” 
_Deska Setya R _

Ya, denting waktu selalu menganga dihadapanku. Seolah segala hariku sudah dilahapnya, dan pastinya bersama kenanganku. Kenangan indahku bersama dia, si pencuri hati yang akhirnya mempercundangiku.


Kala itu, awan kelabu seringkali menyambutku. Bersama derai hujan dan air mata. Aku tak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada diriku. Saat itu luluh lantah bersama asa yang sudah kurangkai sedemikian sempurnanya.


Bagaimana tidak, masa ku terbuang untuk bertahan dalam sebuah ketidakpastian. Apa kau peduli dengan isi kepalaku? bagaimana aku membayangkan bisa bertemu kembali dan kau menjadi pelabuhan terakhirku. Kau menyiksaku, ketidakpastianmu membuatku terombang-ambing. Bahkan seringkali ombak menghempas membuatku menabrak karang. Sakit. Sekujur tubuh terluka oleh sayatan bebatuan karang yang tajam.


Lembayung saat itu setia menemani kesepianku menanti kabarmu. Apa disana kau bisa menjadi sosok yang perasa? Saat sebuah rasa merindukan kehadiranmu. Bahkan logika telah terkalahkan oleh hati yang begitu dahsyat menginginkanmu. Arghh, perkuliahanku kacau balau saat itu.


Bagaimana tidak. Waktu selalu mengingatkanmu padaku. Ku terpaksa tidur larut malam. Aku sulit menerka, bagaimana porsiku dalam otakmu? Setiap tengah malam aku selalu sendu. Aku selalu rindu. Aku selalu memintamu. Ya, meminta pada Tuhan, agar kau dikembalikan seperti sedia kala.


Terlebih, saat kau memberiku kabar. Namun kabar duka akan sepasang perasaan. Hadirku bukan lagi menjadi candu bagimu. Senyumku, bukan lagi pelipur lara bagimu. Saat itu, ya ... aku terlupakan. Kau ragu akan kepercayaan yang ku jaga untukmu. Kau menabur garam diatas luka yang menganga, perih. Sangat perih.


Tubuhku kaku. Jiwaku kelu. Ku tertunduk malu. Malu pada kenyataan mengapa aku harus menunggu selama itu, yang pada akhirnya tak akan pernah singgah. Terimakasih pejuang. Pejuang yang sudah berhasil mengambil hatiku, yang setelah menua ditelan waktu pergi meninggalkan. Selamat kau menjadi pemenang dalam merobek segala asa dari seorang yang terpedaya oleh keluguanmu. Mungkin didetik ini, aku akan menyusun kembali serpihan hati. Walaupun pada akhirnya tak bisa sempurna seperti pada awalnya.


Aku, ditemani cuaca mendung. Tapi bersyukurnya, tak lagi dengan hati yang pilu. – Deska Setya

10 September 2019

Antara Jatuh, Cinta dan Sang Putri



Antara Jatuh, Cinta dan Sang Putri

Sumber Gambar : pngdownload.id

Memeluk segala asanya, sang putri terus merasa terpuruk
Entah, memang sang putri sudah merasa jatuh berkali-kali
“Jatuh dalam waktu bertahun-tahun memang menyenangkan” kata sang putri
Sang Putri berfikir, memang awalnya sulit
Butuh waktu bertahun lamanya menghempaskan sang pangeran dari segala nostalgia
Sang putri harus terus memapah segala langkahnya
Menghapus setiap air mata yang menetes, sendirian
Karam, penantiannya bagaikan langkah yang tak akan pernah bisa mencapai ujungnya
Sang putri yang melihat pangerannya mengayuh langkah menjauhinya
Bimbang, sang putri tak mengerti
Sampai pada akhirnya, jejak langkah pangeran perlahan menghilang tak berbekas
Sang putri terus melamun, apa salahnya sampai sang pangeran meninggalkannya

Sang putri terus memikirkan sang pangeran dengan seiring berjalannya waktu
Terus merajut segala harap, kapan sang pangeran kembali
Sang putri terus merangkai segala kenangan indah, menunggu pangeran muncul dihadapnya
Sang putri lelah, namun rasa cinta yang besar mengalahkan segala peluh dan jenuh
Sampai pada akhirnya, kabar dikirimkan oleh angin yang berhembus
Membisikkan tentang apa-apa yang selama ini telah dinantinya
Sang pangeran telah berpaling, bersama pujaan hati lain
Betapa hancur hati sang putri, tak tertahankan
Terkurung dalam duka, kehilangan seseorang yang dicintainya
Sang pangeran meninggalkan tanpa pesan dan tiba-tiba berpaling
Sang putri pun harus menjalani kehidupan dengan mengenakan dua topeng
Raut wajah kesedihan yang harus terbalut dengan suka cita
Tak mudah memang, namun sang putri harus memaksakan untuk melupakan

Bertahun lamanya, ditemani dengan teman-temannya
Sang putri menjalani hari-hari dengan segala kesibukan dan kepenatan
Tak lain, agar mampu memusnahkan segala memori tentang sang pangeran
Memori yang merenggut apa yang disebut perasaan sangat bahagia
Menjalani hari dengan tertatih, perlahan mencoba lari, menghindar dari apa yang menimpa
Walau hampir setiap tengah malam sang putri menahan segala sesaknya
Isak tangis tanpa suara agar tak terdengar bahwa dia sedang bersedih hati
Kemudian keluar dengan gelak tawa bahagia
Sungguh, sang putri harus menjadi sosok yang penuh dengan kebohongan
Berbohong demi terlihat bahagia walaupun separuh hatinya telah hilang
Terus menjalani hari seperti biasanya, sembari meranggas segala luka yang pernah singgah

Bertahun lamanya, lalu tidak disengaja sang putri bertemu dengan seorang pangeran lain
Begitu tampan, namun sang putri tak begitu menghiraukannya
Sang putri hanya berfikir tentang seseorang yang tulus kepadanya
Sampai pada akhirnya entah mengapa sang putri ingin menyapa pangeran tersebut
Sapaannya terbalaskan, sungguh menyenangkan
Beberapa hari sang putri terus berkirim pesan dengan pangeran itu
Perbincangan yang sungguh hangat dan mengasyikan
Sang putri merasa sudah bisa bangkit lagi dan pastinya bahagia

Sang pangeran seringkali mengajak sang putri berjalan mengelilingi kerajaan
Mengelilingi hutan yang ditumbuhi dengan liarnya pesona bunga
Dengan menunggani seekor kuda, berbincang dengan pangeran
Tak disangka, celetuk pangeran akan masa depan
Pangeran ingin hidup abadi bersama sang putri
Sang putri terharu dan tak terasa, meneteslah air matanya
Setelah luka yang telah tampis selama bertahun-tahun
Setelah kepedihan yang selama ini mendera hari-harinya
Pada akhirnya, perlahan sirna tergantikan oleh kebahagiaan
Kebahagiaan yang pangeran taburkan dalam hati dan hidupnya ...

Senin, 9 September 2019
_Deska Setya Rini_


Minggu, 08 September 2019

Luruh



LURUH
( Cerita dari Mbah Seh )



 Ragaku dahulu terasa dingin dan menyegarkan
Tegar, berdiri kokoh dalam terjangan angin
Menyapu segala resah dan gundah gulana
Kulitku terasa lebat, melindungiku dari teriknya mentari
Mengakar menembus tempat berpijakku
Manusia terkagum memandangku
Hewan melumat kawanku dengan lahapnya
Namun ku menyenangi itu, aku dapat membuat mereka hidup

Sorak riang anak-anak selalu abadi
Melompat dan berlari menemani diamnya aku
Bias mentari tak jadi penghalang
Derai hujan terus ditembus dengan suka cita
Ya, mereka sahabatku
Menikmati setiap pemberian Tuhan lewat diriku
Mengais apa saja yang aku kandung
Namun aku bahagia, mereka mengitariku dengan nuraninya

Para petani merawatku dengan sepenuh hati
Merajut tawa bersama dan memeluk tubuh indahku dengan peluhnya
Menyambung hidup dari harta yang tersimpan dibalik semak
Burung – burung berkicau ria melihatku yang tumbuh menjulang
Hembusan angin mengembara
Riak air sungai selalu menggema di telingaku
Menuang ke dalam tubuh-tubuh insan
Terlukis indah lengkingan bibir mereka atas kehadiranku

Denting waktu terus bergumam
Jejak kaki asing tersenyum dan menatap tajam ke arahku
Ada apa ini? Aku resah, aku gelisah
Benar saja, apa itu yang melindas sebagian tubuhku?
Semakin merambat dan merambat, aku ditelanjangi !
Mana insan yang selalu merawat dan menyambut dengan penuh kehangatan?
Mana tawa riang yang selalu menemaniku berdiri tegak menghadap surya?
Ah tidak, si asing itu terus menyeruak semakin dalam

Lambat laun tubuhku semakin ringkih
Aku terjangkit petaka atas kesalahan yang tak pernah ku lakukan
Aku terperangkap dalam tamaknya si asing itu
Mereka melenyapkan pakaianku perlahan-lahan
Aku tak lagi bisa mendekap insan yang sudah mendekapku
Tubuhku bergetar, kakiku tak dapat menopangnya
Aku mencelakai insan yang mencintaiku dalam derai hujan yang membelai
Mereka menjadi muram dan bersusah karenaku

Hamparan kebahagiaan telah musnah
Senja menyambutku dengan lesu
Aku telah terkoyak, aku telah lumat
Mereka membabat sebagian tubuh indahku
Mereka mengulitiku tanpa merasakan perihnya
Mereka meneriaki aku dengan tawa caciannya
Kini, aku dihadapkan pada kesunyian yang menyedihkan
Melebur menjadi kebiasaanku setiap harinya

Kini, aku tak bisa berbuat apa-apa
Aku hanya bisa berpacu dengan sang waktu
Dalam keterdiaman raga, hatiku terus berkecamuk
Lambat laun, aku akan musnah
Lambat laun, kebahagiaan anak-anak dan petani berlalu
Terbelenggu dalam congkaknya si asing itu
Aku melemah dan pada akhirnya berubah menjadi asing
Ragaku terapung dalam keterputusan sebuah asa
Dan, waktu menjawab dengan berat
Aku harus luruh ....

Rabu, 4 September 2019
_Deska Setya Rini_

Senin, 15 April 2019

Sosok itu

Sosok Itu ....

Sosok itu ....
Sangatlah berbeda
Dentuman kalimat nada
Membuat amarah menjadi reda
Membuat hati sedikit lega

Sosok itu ....
Entah sangat menginspirasiku
Mungkin dengan torehan - torehannya
Merasakan terjaga di hari - hariku
Mungkin karena pengayomannya

Sosok itu ....
Sungguh menyejukan
Disaat ku terdiam dengan segala beban
Raut wajah yang penuh dengan keikhlasan
Disaat ku terenyuh terpikir masa depan

Sosok itu ....
Entah apa yang ada dipikiranku
Seakan ia berarti untukku
Merasakan seperti ada yang berbeda bagiku
Seakan ia bagian dari hidupku

Sosok itu ....
Membuat hidupku lebih berwarna
Mencoba mensyukuri lika - liku kehidupan dunia
Dengan meneladani aspirasinya
Di kehidupan jagat raya yang fana

Rebas



REBAS

Ragaku terdiam dibalik tirai
Pandangan yang kosong dibalik bias cahaya yang menembus jendela
Racau terus menggema melengkapi gerak bibirku
Hampa, bahkan bayanganmu sudah tak sejalan
Rebas, membasahi jiwa yang tak berdaya
Risak memelukku dalam keramaian
Menyayat hati si pecandu kesunyian ini
Menyaru, tersenyum dalam balutan luka
Terisak dalam rebahan tubuh yang meringkuk
Lagi, rebas membuat buram pandanganku
Tahun itu, ku berjuang mengenggam hatimu lagi
Gamang menghantui, apa kau dapat ku gapai kembali
Sungguh temaram, diambang keraguan
Kau acuh, dan ambau perlahan menghampiriku
Rebas, sungguh kaku tubuhku melihatmu tak sama
Rasaku meradang dipaksa lupa
Lelah, mata sembab terus mendampingiku
Kau yang mengikat hati, kau juga pencipta jurang pemisah
Obrolan kecil dulu perlahan terpecah dalam ingatan
Rebas, kau pergi lantas menghilang
Terimakasih, kau telah merusak dongeng kehidupanku
Senyumku kini ditemani rebas, semua karenamu
Biar hati melepas, biar takdir memahami ..
                                                                                          29 Februari 2019
                                                                                        - Deska Setya Rini -





Definisi

  DEFINISI Sebuah definisi yang diciptakan sendiri. Aku tidak tahu mengapa definisi buruk selalu mendominasi pikiranku. Lelahnya badan yan...