Jatuh
Hati Kembali
Perjalanan
cinta itu sebenarnya tidak rumit. Hanya saja manusia terlalu berbelit. Ya,
termasuk aku. Aku juga manusia biasa yang bisa merasakan jatuh cinta. Sampai
pada akhirnya aku harus menelan kekecewaan karena ditinggalkan.
Sakit?
Jelas. Ditinggal saat sedang sayang-sayangnya bukanlah perkara mudah. Aku marah
pun tak ada gunanya. Dia sudah tidak peduli. Aku menangis sepanjang waktu pun,
dia acuh. Saat itu hidupku diambang ketidaktahuan arah. Aku hancur. Aku kacau.
Aku tak tahu bagaimana bisa menjalani hidup seperti saat belum mengenal dia.
Jujur
saja, pil pahit kekecewaan yang kutelan ternyata membuatku trauma untuk jatuh
hati kembali. Takut dilupakan, ditinggalkan ataupun diduakan. Sampai pada
akhirnya aku memutuskan untuk memperbaiki hati yang telah hancur dan menikmati
kembali rasa kesendirianku.
Aku
memilih sendiri untuk jangka waktu yang lama. Ya, dengan waktu yang lama itu
tidak bisa ku pungkiri bahwa ada beberapa lelaki yang mencoba mendekati. Aku
tidak bermaksud jual mahal, hanya saja hatiku belum pulih benar. Kadang pula
aku menyalahkan diriku sendiri, mengapa sulit sekali untuk berpindah hati? apa
karena dia cinta pertamaku? Ya, saat itu aku berfikir, mungkin pertama kali aku
jatuh cinta yang sebenar-benarnya saat usia 19 tahun. Ketika ditinggalkan pun
aku merasa seperti ini rasanya sakit karena jatuh cinta.
Hati
remuk redam. Perasaan yang campur aduk. Mau tidak mau aku harus melupakan
dengan menyibukkan diri di kampus. Hatiku rasanya sudah mati saat itu. Benar
saja, aku sudah tidak peduli dengan siapa yang jatuh cinta padaku saat itu.
Yang aku inginkan, aku ingin fokus pada masa-masa kuliahku. Aku berterimakasih
untuk kalian yang sudah mencintaiku. Tapi maaf, jika aku terkesan jahat karena
tidak bisa membalas perasaan kalian. Terimakasih pula untuk teman-teman
terdekatku yang pernah menasihati untuk membuka hati kembali. Percayalah,
akupun ingin seperti itu, namun hati ini masih terlalu berat. Oleh sebab itu,
hargai aku yang lebih memilih sendiri dulu.
Tak
ku sangka waktu berjalan begitu cepat. Aku sudah mencapai tahap menyusun
skripsi. Saat itu pula aku mengenal seorang lelaki karena keisenganku di media
sosial. Kita pun bercakap-cakap sampai pada akhirnya berpindah ke media sosial
yang lebih intens. Kamu lelaki yang mengasyikan. Kamu unik. Entah kenapa
menerima dan membalas pesanmu selalu membuatku sumringah.
Aku
senang ketika kamu memanggilku dengan perkataan yang membuatku tampak lebih
muda haha. Aku senang ketika kamu call/ video call walaupun sebentar. Aku
senang ketika bisa membuatmu tersenyum. Aku senang ketika kamu memakai topi.
Aku menyenangi segalanya tentang kamu. Oh Tuhan, apa aku jatuh cinta?
Tapi
aku sangat menyayangkan, sepertinya kamu masih mencintai masa lalumu. Lambat
laun aku merasakan hal berbeda. Percakapan kita sudah tidak terlalu intens,
kamu mulai membalas pesanku dengan sangat lama. Bahkan kamu pernah tidak
membalas pesanku selama 3 hari. Ah, aku terlalu berlebihan.
Saat
itu, aku merasa sudah bisa jatuh cinta kembali. Hatiku mekar. Senyumku merekah
setiap kali mengingatnya. Tapi aku harus sadar diri. Aku bukan siapa-siapa.
Tidak seharusnya aku berharap lebih padanya. Baiklah. Aku harus mengurangi rasa
ini. Aku harus menghindar. Pikirku saat itu.
Satu bulan lebih kita pun tak berkirim pesan. Sedih memang. Tapi ya sudah. Aku
bisa apa. Aku tidak bisa memaksakan kamu untuk jatuh cinta padaku. Aku tidak
ingin mencintai lebih dalam kepada lelaki yang belum memiliki ikatan sah dengan
diriku. Aku tidak ingin mengulang rasa sakit karena perihnya berjuang untuk
seseorang yang tidak mencintaiku.
Sampai
pada akhirnya, kamu ternyata menyadari kalau aku memang menjauh dan kamu menanyakan
perihal itu. Tapi maaf, aku harus menjawab bohong dengan alasan lain. Aku hanya
tidak ingin kamu tahu kalau aku jatuh hati padamu. Pada akhirnya, kita
membangun percakapan kembali. Dan kamu masih tetap sama. Sikap yang membuatku
ragu apakah aku harus selalu menaruh hati padamu atau membiarkan hati lain
untuk singgah menggantikan posisimu? Entahlah.
Yang
jelas. Aku sekarang hanya ingin berprinsip “ketika Zulaikha mengejar cinta
Yusuf, maka Allah jauhkan Yusuf. Namun ketika Zulaikha memasrahkan hatinya,
maka Allah dekatkan kembali Yusuf”. Tuhan, jaga dia memang dia untukku. Namun
ikhlaskan hatiku, jika nantinya aku bukan pelabuhan terakhirnya. Untuk kamu,
jaga dirimu baik-baik disana yaaa. I miss you more with or without
conversation.
Walaupun aku tidak tahu apakah
dengan mencintaimu akan membuka peluangku untuk terluka kembali. Namun, untukmu
yang telah berhasil membuatku jatuh hati kembali, terimakasih – ES
28 April 2020 – 13.00