Selasa, 28 April 2020

Jatuh Hati Kembali


Jatuh Hati Kembali
Perjalanan cinta itu sebenarnya tidak rumit. Hanya saja manusia terlalu berbelit. Ya, termasuk aku. Aku juga manusia biasa yang bisa merasakan jatuh cinta. Sampai pada akhirnya aku harus menelan kekecewaan karena ditinggalkan.

Sakit? Jelas. Ditinggal saat sedang sayang-sayangnya bukanlah perkara mudah. Aku marah pun tak ada gunanya. Dia sudah tidak peduli. Aku menangis sepanjang waktu pun, dia acuh. Saat itu hidupku diambang ketidaktahuan arah. Aku hancur. Aku kacau. Aku tak tahu bagaimana bisa menjalani hidup seperti saat belum mengenal dia.

Jujur saja, pil pahit kekecewaan yang kutelan ternyata membuatku trauma untuk jatuh hati kembali. Takut dilupakan, ditinggalkan ataupun diduakan. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk memperbaiki hati yang telah hancur dan menikmati kembali rasa kesendirianku.

Aku memilih sendiri untuk jangka waktu yang lama. Ya, dengan waktu yang lama itu tidak bisa ku pungkiri bahwa ada beberapa lelaki yang mencoba mendekati. Aku tidak bermaksud jual mahal, hanya saja hatiku belum pulih benar. Kadang pula aku menyalahkan diriku sendiri, mengapa sulit sekali untuk berpindah hati? apa karena dia cinta pertamaku? Ya, saat itu aku berfikir, mungkin pertama kali aku jatuh cinta yang sebenar-benarnya saat usia 19 tahun. Ketika ditinggalkan pun aku merasa seperti ini rasanya sakit karena jatuh cinta.

Hati remuk redam. Perasaan yang campur aduk. Mau tidak mau aku harus melupakan dengan menyibukkan diri di kampus. Hatiku rasanya sudah mati saat itu. Benar saja, aku sudah tidak peduli dengan siapa yang jatuh cinta padaku saat itu. Yang aku inginkan, aku ingin fokus pada masa-masa kuliahku. Aku berterimakasih untuk kalian yang sudah mencintaiku. Tapi maaf, jika aku terkesan jahat karena tidak bisa membalas perasaan kalian. Terimakasih pula untuk teman-teman terdekatku yang pernah menasihati untuk membuka hati kembali. Percayalah, akupun ingin seperti itu, namun hati ini masih terlalu berat. Oleh sebab itu, hargai aku yang lebih memilih sendiri dulu.

Tak ku sangka waktu berjalan begitu cepat. Aku sudah mencapai tahap menyusun skripsi. Saat itu pula aku mengenal seorang lelaki karena keisenganku di media sosial. Kita pun bercakap-cakap sampai pada akhirnya berpindah ke media sosial yang lebih intens. Kamu lelaki yang mengasyikan. Kamu unik. Entah kenapa menerima dan membalas pesanmu selalu membuatku sumringah.

Aku senang ketika kamu memanggilku dengan perkataan yang membuatku tampak lebih muda haha. Aku senang ketika kamu call/ video call walaupun sebentar. Aku senang ketika bisa membuatmu tersenyum. Aku senang ketika kamu memakai topi. Aku menyenangi segalanya tentang kamu. Oh Tuhan, apa aku jatuh cinta?

Tapi aku sangat menyayangkan, sepertinya kamu masih mencintai masa lalumu. Lambat laun aku merasakan hal berbeda. Percakapan kita sudah tidak terlalu intens, kamu mulai membalas pesanku dengan sangat lama. Bahkan kamu pernah tidak membalas pesanku selama 3 hari. Ah, aku terlalu berlebihan.

Saat itu, aku merasa sudah bisa jatuh cinta kembali. Hatiku mekar. Senyumku merekah setiap kali mengingatnya. Tapi aku harus sadar diri. Aku bukan siapa-siapa. Tidak seharusnya aku berharap lebih padanya. Baiklah. Aku harus mengurangi rasa ini. Aku harus menghindar. Pikirku saat itu.

Satu bulan lebih kita pun tak berkirim pesan. Sedih memang. Tapi ya sudah. Aku bisa apa. Aku tidak bisa memaksakan kamu untuk jatuh cinta padaku. Aku tidak ingin mencintai lebih dalam kepada lelaki yang belum memiliki ikatan sah dengan diriku. Aku tidak ingin mengulang rasa sakit karena perihnya berjuang untuk seseorang yang tidak mencintaiku.

Sampai pada akhirnya, kamu ternyata menyadari kalau aku memang menjauh dan kamu menanyakan perihal itu. Tapi maaf, aku harus menjawab bohong dengan alasan lain. Aku hanya tidak ingin kamu tahu kalau aku jatuh hati padamu. Pada akhirnya, kita membangun percakapan kembali. Dan kamu masih tetap sama. Sikap yang membuatku ragu apakah aku harus selalu menaruh hati padamu atau membiarkan hati lain untuk singgah menggantikan posisimu? Entahlah.

Yang jelas. Aku sekarang hanya ingin berprinsip “ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, maka Allah jauhkan Yusuf. Namun ketika Zulaikha memasrahkan hatinya, maka Allah dekatkan kembali Yusuf”. Tuhan, jaga dia memang dia untukku. Namun ikhlaskan hatiku, jika nantinya aku bukan pelabuhan terakhirnya. Untuk kamu, jaga dirimu baik-baik disana yaaa. I miss you more with or without conversation. 

Walaupun aku tidak tahu apakah dengan mencintaimu akan membuka peluangku untuk terluka kembali. Namun, untukmu yang telah berhasil membuatku jatuh hati kembali, terimakasih – ES
28 April 2020 – 13.00

Selasa, 07 April 2020

Boleh tidak aku hidup layaknya manusia?


Boleh tidak aku hidup layaknya manusia?
--Kontemplasi diri--

Akhir-akhir ini pertanyaan itu sering muncul dalam benak. Entah. Mungkin karena masalah yang kian hari kian menumpuk diotak. Atau kau sudah bosan dengan hari-hari yang kau jalani? Yang pasti aku ingin hidup layaknya manusia.

Kau kan sudah hidup seperti manusia. Kau itu manusia. Tak usah lah menghiperbolakan hidup. Bisikan itu juga sering riuh menggeluti pertanyaanku itu. Dan aku benci itu. Ketika ada hal dalam diri yang tak bisa berjalan selaras.

Kali ini, rasa-rasanya ingin ku tentang bisikan itu. Andai kau manusia, sudah ku patahkan lehermu itu! Justru inilah yang menyebabkan manusia harus terlihat kuat, harus terlihat baik-baik saja padahal ada beribu hal yang ingin diungkapkan.

Ya, aku memang manusia. Namun beberapa waktu otak pasti ingin meledak ketika menghadapi kenyataan pahit. Hati menjadi miris saat merasakan kesakitan karena ulah orang lain atau bahkan ulah diri sendiri. Raga menjadi lunglai, tergolek lemas saat tak berdaya melawan kuatnya arus keangkuhan manusia dan segala drama dunia. Oh, ternyata aku bisa lemah juga.

Manusia didampingi dengan segala kebutuhan. Era 20an ini, salah satunya ya media sosial. Ya, media sosial bertebaran dimana-mana. Manusia tak bisa melepas genggamannya dengan alat yang populer, handphone. Ya. Kita bisa menyebutnya “dunia dalam genggaman”. Bagaimana tidak? Segala hal yang kau lakukan didunia nyata, tampaknya bak kurang garam ketika tidak di upload di media sosial. Kau ingin menunjukan kepada semua orang bahwa kau bahagia. Tak salah memang, kau patut berbangga dengan hari-harimu itu.

Namun terbesit pula. apa kau benar-benar sedang bahagia? Kau tunjukan kau sedang berlibur diluar kota, bahkan luar negeri. Kau posting kata-kata bijak. Kau perlihatkan bahwa kau mempunyai banyak teman, nongkrong sana-sini, tertawa terbahak-bahak. Kau, kau dan kau dengan segala bahagia yang ditunjukan lewat media sosial. Namun aku tahu, kau tidak sebahagia itu kan? Tak apa. Setidaknya tingkah konyolmu membuat orang yang melihatnya merasa beban yang ada dalam dirinya bisa lepas sejenak.

Kau pun pulang dari hiruk pikuknya dunia luar. Masuk kedalam rumah atau kos-kosan. Tersadar mentari senja telah jatuh dan tertelan kegelapan. Bergegas membersihkan tubuh, beribadah yang diakhiri dengan pinta beberapa doa. Doa meminta ini, itu dan terkadang tak tahu diri. Iya. Berjam-jam menikmati gemerlapnya dunia, berdoa paling lama pun 10 menit saja. hey, kau waras? Hm, tapi tak salah juga. Bukankah kehidupan dunia dan akhirat memang harus seimbang? Setidaknya kau tidak lupa bahwa Tuhan itu ada.

Selepas itu, membaringkan tubuh dikasur yang tidak begitu empuk dan kau tahu apa? Benda persegi panjang yang tidak terlalu menampakkan bebannya, lagi-lagi ada dalam genggaman. Ah benda itu, bak seorang kekasih. Aku tak bisa jauh darimu. Kau pun tak luput dari memposting. Jari yang kau gerakkan keatas dan kebawah, sekedar melihat beberapa postingan. “Ah, kata-kata ini bijak sekali. Ah, keren nih orang bisa berkunjung ke tempat ini. Wah, pakaian yang membalut tubuhnya begitu indah. Kok dia bisa langgeng gitu ya hubungannya, postingannya berdua terus. Wah prestasinya banyak banget” Dan blablabla dengan segala celotehan tak jelas ini. Seketika murung dan beberapa kalimat terbesit dalam benak.

Hm, andai bisa seperti mereka. Bahagia seperti tidak ada beban. Kalaupun ada, pasti ringan. Seiring berjalannya waktu, perjalanan hidup orang-orang yang ku kagumi tadi, bak berguguran. Ternyata, dibalik itu semua banyak hal tak terduga. Masalah yang menumpuk. Kesedihan yang membuat terpuruk. Keluh kesah yang semakin mengaduk. Tapi aku tahu, mereka punya pilihan. Ingin menunjukan keterpurukan atau seolah tidak terjadi apa-apa? Nian malang bagiku.

Dari situ, ada beberapa pelajaran yang bisa ku ambil. Benar juga. Untuk apa menunjukan kesedihanmu? Toh apa peduli mereka. Ya, beberapa orang mampu memberi saran dan bantuan. Selebihnya? Kau sendiri yang harus mengatasi peliknya hidupmu. Ya, akhirnya pun aku tunjukkan saja bahagiaku.

Namun, kau tahu? Lambat laun aku seperti dipaksa keadaan. Dipaksa oleh diri sendiri pula. terkadang merasa menjadi orang paling naif dimuka bumi. Aku sedih. Aku bosan. Aku marah. Tapi harus menunjukan seolah aku baik-baik saja. Ingin ku luapkan segalanya. Tapi tidak ah, lagi-lagi kau tidak boleh memberlakukan “hiperbola” hidup. Banyak orang yang bebannya lebih berat darimu, harus kau sadari itu. Jangan kau memperumit dirimu!

Mengapa aku harus melihat pada satu sisi? Ya, i’m okay. I haven’t problem. I’m always happy. Mengapa tidak ku lihat dari sisi dimana aku benar-benar merasa lantang luntung tak tahu arah? Aku bisa mengungkapkan keluh kesah hidup dalam secarik kertas atau ku jadikan dokumen dilaptop. Aku setuju jika keterpurukan memang kurang layak ditunjukan di media sosial. Ya. Media sosial itu fana. Penuh kepalsuan yang membuat emosional naik turun. Bahkan aku pernah melihat pada vlog seorang artis yang mengundang salah satu pejabat negeri dan membicarakan mengenai media sosial. Pejabat itu berkata. Intinya begini. “Sudah cukup lama saya tidak bermain media sosial (except whatsaap) dan saya merasakan benar dampaknya dalam hidup saya. Saya tidak perlu terpuruk dengan orang yang menghujat saya. Saya bisa lebih intens membangun kebersamaan dengan kelurga dan teman-teman saya. Saya bisa menikmati hidup tanpa harus memposting apa saja yang saya lakukan setiap harinya and anything, it’ll be okay. Dan saya bahagia dengan itu”.

Beberapa hal sebenarnya bisa kau ungkapkan pada orang terdekatmu. Orang tuamu, kakak atau adikmu, keponakanmu. Aku juga bisa mengungkapkannya kepada teman terdekatku bahwa i have problem, can you help me? and i’m sad, mad or disappointed. Terkadang, dalam hidup kita harus membangun beberapa kepercayaan pada orang lain. Tak apa kau tunjukan sedikit alur kehidupan yang terkadang tak sejalan dengan harapan. Tak apa kau tunjukan bahwa kau sedang dalam kondisi yang marah, kecewa atau sedih. Tak apa kamu menangis dipelukan atau pangkuan orang terdekatmu. Tak apa kau mengeluh ini itu. Hey, ingat kau itu manusia, bukan malaikat. Tapi pastikan orang itu dapat kau percaya. Kau berhak hidup layaknya manusia. Keterpurukan itu bukan berarti kau lemah. Kau kuat, hanya saja sedang lelah. Hidup tak melulu indah bukan? Justru kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika bisa memberikan memberikan pelajaran hidup bagi orang lain bukan? Tentang lika-liku hidup yang kau jalani, itu bisa membuat orang lebih berhati-hati dan bersyukur dalam menjalani segala takdir Tuhan.  

Selamat! Kau sudah hidup layaknya manusia. Yang menggunakan hati dan logika. Yang bisa memberi inspirasi bagi orang lain. Kau memang bukan manusia sempurna yang memiliki segudang kebaikan. Tapi kau sudah berusaha untuk menjadi baik. Untuk aku dan kau.  Terimakasih sudah menjadi manusia hebat !

Dan untuk pertanyaan “boleh tidak aku hidup layaknya manusia?”. Dan jawabannya “Boleh sekali dan kau sangat layak”.
          
              -Rabu, 8 April 2020 (Subuh, ku terinspirasi)-

Definisi

  DEFINISI Sebuah definisi yang diciptakan sendiri. Aku tidak tahu mengapa definisi buruk selalu mendominasi pikiranku. Lelahnya badan yan...