Boleh
tidak aku hidup layaknya manusia?
--Kontemplasi diri--
Akhir-akhir ini
pertanyaan itu sering muncul dalam benak. Entah. Mungkin karena masalah yang
kian hari kian menumpuk diotak. Atau kau sudah bosan dengan hari-hari yang kau
jalani? Yang pasti aku ingin hidup layaknya manusia.
Kau kan sudah hidup
seperti manusia. Kau itu manusia. Tak usah lah menghiperbolakan hidup. Bisikan itu
juga sering riuh menggeluti pertanyaanku itu. Dan aku benci itu. Ketika ada hal
dalam diri yang tak bisa berjalan selaras.
Kali ini, rasa-rasanya
ingin ku tentang bisikan itu. Andai kau manusia, sudah ku patahkan lehermu itu!
Justru inilah yang menyebabkan manusia harus terlihat kuat, harus terlihat
baik-baik saja padahal ada beribu hal yang ingin diungkapkan.
Ya, aku memang manusia.
Namun beberapa waktu otak pasti ingin meledak ketika menghadapi kenyataan
pahit. Hati menjadi miris saat merasakan kesakitan karena ulah orang lain atau
bahkan ulah diri sendiri. Raga menjadi lunglai, tergolek lemas saat tak berdaya
melawan kuatnya arus keangkuhan manusia dan segala drama dunia. Oh, ternyata
aku bisa lemah juga.
Manusia didampingi
dengan segala kebutuhan. Era 20an ini, salah satunya ya media sosial. Ya, media
sosial bertebaran dimana-mana. Manusia tak bisa melepas genggamannya dengan
alat yang populer, handphone. Ya. Kita bisa menyebutnya “dunia dalam genggaman”.
Bagaimana tidak? Segala hal yang kau lakukan didunia nyata, tampaknya bak
kurang garam ketika tidak di upload di media sosial. Kau ingin menunjukan
kepada semua orang bahwa kau bahagia. Tak salah memang, kau patut berbangga
dengan hari-harimu itu.
Namun terbesit pula.
apa kau benar-benar sedang bahagia? Kau tunjukan kau sedang berlibur diluar
kota, bahkan luar negeri. Kau posting kata-kata bijak. Kau perlihatkan bahwa
kau mempunyai banyak teman, nongkrong sana-sini, tertawa terbahak-bahak. Kau,
kau dan kau dengan segala bahagia yang ditunjukan lewat media sosial. Namun aku
tahu, kau tidak sebahagia itu kan? Tak apa. Setidaknya tingkah konyolmu membuat
orang yang melihatnya merasa beban yang ada dalam dirinya bisa lepas sejenak.
Kau pun pulang dari
hiruk pikuknya dunia luar. Masuk kedalam rumah atau kos-kosan. Tersadar mentari
senja telah jatuh dan tertelan kegelapan. Bergegas membersihkan tubuh,
beribadah yang diakhiri dengan pinta beberapa doa. Doa meminta ini, itu dan
terkadang tak tahu diri. Iya. Berjam-jam menikmati gemerlapnya dunia, berdoa
paling lama pun 10 menit saja. hey, kau waras? Hm, tapi tak salah juga. Bukankah
kehidupan dunia dan akhirat memang harus seimbang? Setidaknya kau tidak lupa
bahwa Tuhan itu ada.
Selepas itu,
membaringkan tubuh dikasur yang tidak begitu empuk dan kau tahu apa? Benda persegi
panjang yang tidak terlalu menampakkan bebannya, lagi-lagi ada dalam genggaman.
Ah benda itu, bak seorang kekasih. Aku tak bisa jauh darimu. Kau pun tak luput
dari memposting. Jari yang kau gerakkan keatas dan kebawah, sekedar melihat
beberapa postingan. “Ah, kata-kata ini bijak sekali. Ah, keren nih orang bisa
berkunjung ke tempat ini. Wah, pakaian yang membalut tubuhnya begitu indah. Kok
dia bisa langgeng gitu ya hubungannya, postingannya berdua terus. Wah
prestasinya banyak banget” Dan blablabla dengan segala celotehan tak jelas ini.
Seketika murung dan beberapa kalimat terbesit dalam benak.
Hm, andai bisa seperti
mereka. Bahagia seperti tidak ada beban. Kalaupun ada, pasti ringan. Seiring berjalannya
waktu, perjalanan hidup orang-orang yang ku kagumi tadi, bak berguguran. Ternyata,
dibalik itu semua banyak hal tak terduga. Masalah yang menumpuk. Kesedihan yang
membuat terpuruk. Keluh kesah yang semakin mengaduk. Tapi aku tahu, mereka
punya pilihan. Ingin menunjukan keterpurukan atau seolah tidak terjadi apa-apa?
Nian malang bagiku.
Dari situ, ada beberapa
pelajaran yang bisa ku ambil. Benar juga. Untuk apa menunjukan kesedihanmu? Toh
apa peduli mereka. Ya, beberapa orang mampu memberi saran dan bantuan. Selebihnya?
Kau sendiri yang harus mengatasi peliknya hidupmu. Ya, akhirnya pun aku
tunjukkan saja bahagiaku.
Namun, kau tahu? Lambat
laun aku seperti dipaksa keadaan. Dipaksa oleh diri sendiri pula. terkadang
merasa menjadi orang paling naif dimuka bumi. Aku sedih. Aku bosan. Aku marah. Tapi
harus menunjukan seolah aku baik-baik saja. Ingin ku luapkan segalanya. Tapi
tidak ah, lagi-lagi kau tidak boleh memberlakukan “hiperbola” hidup. Banyak orang
yang bebannya lebih berat darimu, harus kau sadari itu. Jangan kau memperumit
dirimu!
Mengapa aku harus
melihat pada satu sisi? Ya, i’m okay. I haven’t problem. I’m always happy. Mengapa
tidak ku lihat dari sisi dimana aku benar-benar merasa lantang luntung tak tahu
arah? Aku bisa mengungkapkan keluh kesah hidup dalam secarik kertas atau ku jadikan
dokumen dilaptop. Aku setuju jika keterpurukan memang kurang layak ditunjukan
di media sosial. Ya. Media sosial itu fana. Penuh kepalsuan yang membuat
emosional naik turun. Bahkan aku pernah melihat pada vlog seorang artis yang
mengundang salah satu pejabat negeri dan membicarakan mengenai media sosial. Pejabat
itu berkata. Intinya begini. “Sudah cukup lama saya tidak bermain media sosial (except
whatsaap) dan saya merasakan benar dampaknya dalam hidup saya. Saya tidak perlu
terpuruk dengan orang yang menghujat saya. Saya bisa lebih intens membangun
kebersamaan dengan kelurga dan teman-teman saya. Saya bisa menikmati hidup
tanpa harus memposting apa saja yang saya lakukan setiap harinya and anything,
it’ll be okay. Dan saya bahagia dengan itu”.
Beberapa hal sebenarnya
bisa kau ungkapkan pada orang terdekatmu. Orang tuamu, kakak atau adikmu,
keponakanmu. Aku juga bisa mengungkapkannya kepada teman terdekatku bahwa i
have problem, can you help me? and i’m sad, mad or disappointed. Terkadang,
dalam hidup kita harus membangun beberapa kepercayaan pada orang lain. Tak apa
kau tunjukan sedikit alur kehidupan yang terkadang tak sejalan dengan harapan. Tak
apa kau tunjukan bahwa kau sedang dalam kondisi yang marah, kecewa atau sedih. Tak
apa kamu menangis dipelukan atau pangkuan orang terdekatmu. Tak apa kau
mengeluh ini itu. Hey, ingat kau itu manusia, bukan malaikat. Tapi pastikan
orang itu dapat kau percaya. Kau berhak hidup layaknya manusia. Keterpurukan itu
bukan berarti kau lemah. Kau kuat, hanya saja sedang lelah. Hidup tak melulu
indah bukan? Justru kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika bisa memberikan
memberikan pelajaran hidup bagi orang lain bukan? Tentang lika-liku hidup yang
kau jalani, itu bisa membuat orang lebih berhati-hati dan bersyukur dalam
menjalani segala takdir Tuhan.
Selamat! Kau sudah
hidup layaknya manusia. Yang menggunakan hati dan logika. Yang bisa memberi
inspirasi bagi orang lain. Kau memang bukan manusia sempurna yang memiliki
segudang kebaikan. Tapi kau sudah berusaha untuk menjadi baik. Untuk aku dan
kau. Terimakasih sudah menjadi manusia
hebat !
Dan untuk pertanyaan “boleh
tidak aku hidup layaknya manusia?”. Dan jawabannya “Boleh sekali dan kau sangat
layak”.
-Rabu,
8 April 2020 (Subuh, ku terinspirasi)-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar