Selasa, 07 April 2020

Boleh tidak aku hidup layaknya manusia?


Boleh tidak aku hidup layaknya manusia?
--Kontemplasi diri--

Akhir-akhir ini pertanyaan itu sering muncul dalam benak. Entah. Mungkin karena masalah yang kian hari kian menumpuk diotak. Atau kau sudah bosan dengan hari-hari yang kau jalani? Yang pasti aku ingin hidup layaknya manusia.

Kau kan sudah hidup seperti manusia. Kau itu manusia. Tak usah lah menghiperbolakan hidup. Bisikan itu juga sering riuh menggeluti pertanyaanku itu. Dan aku benci itu. Ketika ada hal dalam diri yang tak bisa berjalan selaras.

Kali ini, rasa-rasanya ingin ku tentang bisikan itu. Andai kau manusia, sudah ku patahkan lehermu itu! Justru inilah yang menyebabkan manusia harus terlihat kuat, harus terlihat baik-baik saja padahal ada beribu hal yang ingin diungkapkan.

Ya, aku memang manusia. Namun beberapa waktu otak pasti ingin meledak ketika menghadapi kenyataan pahit. Hati menjadi miris saat merasakan kesakitan karena ulah orang lain atau bahkan ulah diri sendiri. Raga menjadi lunglai, tergolek lemas saat tak berdaya melawan kuatnya arus keangkuhan manusia dan segala drama dunia. Oh, ternyata aku bisa lemah juga.

Manusia didampingi dengan segala kebutuhan. Era 20an ini, salah satunya ya media sosial. Ya, media sosial bertebaran dimana-mana. Manusia tak bisa melepas genggamannya dengan alat yang populer, handphone. Ya. Kita bisa menyebutnya “dunia dalam genggaman”. Bagaimana tidak? Segala hal yang kau lakukan didunia nyata, tampaknya bak kurang garam ketika tidak di upload di media sosial. Kau ingin menunjukan kepada semua orang bahwa kau bahagia. Tak salah memang, kau patut berbangga dengan hari-harimu itu.

Namun terbesit pula. apa kau benar-benar sedang bahagia? Kau tunjukan kau sedang berlibur diluar kota, bahkan luar negeri. Kau posting kata-kata bijak. Kau perlihatkan bahwa kau mempunyai banyak teman, nongkrong sana-sini, tertawa terbahak-bahak. Kau, kau dan kau dengan segala bahagia yang ditunjukan lewat media sosial. Namun aku tahu, kau tidak sebahagia itu kan? Tak apa. Setidaknya tingkah konyolmu membuat orang yang melihatnya merasa beban yang ada dalam dirinya bisa lepas sejenak.

Kau pun pulang dari hiruk pikuknya dunia luar. Masuk kedalam rumah atau kos-kosan. Tersadar mentari senja telah jatuh dan tertelan kegelapan. Bergegas membersihkan tubuh, beribadah yang diakhiri dengan pinta beberapa doa. Doa meminta ini, itu dan terkadang tak tahu diri. Iya. Berjam-jam menikmati gemerlapnya dunia, berdoa paling lama pun 10 menit saja. hey, kau waras? Hm, tapi tak salah juga. Bukankah kehidupan dunia dan akhirat memang harus seimbang? Setidaknya kau tidak lupa bahwa Tuhan itu ada.

Selepas itu, membaringkan tubuh dikasur yang tidak begitu empuk dan kau tahu apa? Benda persegi panjang yang tidak terlalu menampakkan bebannya, lagi-lagi ada dalam genggaman. Ah benda itu, bak seorang kekasih. Aku tak bisa jauh darimu. Kau pun tak luput dari memposting. Jari yang kau gerakkan keatas dan kebawah, sekedar melihat beberapa postingan. “Ah, kata-kata ini bijak sekali. Ah, keren nih orang bisa berkunjung ke tempat ini. Wah, pakaian yang membalut tubuhnya begitu indah. Kok dia bisa langgeng gitu ya hubungannya, postingannya berdua terus. Wah prestasinya banyak banget” Dan blablabla dengan segala celotehan tak jelas ini. Seketika murung dan beberapa kalimat terbesit dalam benak.

Hm, andai bisa seperti mereka. Bahagia seperti tidak ada beban. Kalaupun ada, pasti ringan. Seiring berjalannya waktu, perjalanan hidup orang-orang yang ku kagumi tadi, bak berguguran. Ternyata, dibalik itu semua banyak hal tak terduga. Masalah yang menumpuk. Kesedihan yang membuat terpuruk. Keluh kesah yang semakin mengaduk. Tapi aku tahu, mereka punya pilihan. Ingin menunjukan keterpurukan atau seolah tidak terjadi apa-apa? Nian malang bagiku.

Dari situ, ada beberapa pelajaran yang bisa ku ambil. Benar juga. Untuk apa menunjukan kesedihanmu? Toh apa peduli mereka. Ya, beberapa orang mampu memberi saran dan bantuan. Selebihnya? Kau sendiri yang harus mengatasi peliknya hidupmu. Ya, akhirnya pun aku tunjukkan saja bahagiaku.

Namun, kau tahu? Lambat laun aku seperti dipaksa keadaan. Dipaksa oleh diri sendiri pula. terkadang merasa menjadi orang paling naif dimuka bumi. Aku sedih. Aku bosan. Aku marah. Tapi harus menunjukan seolah aku baik-baik saja. Ingin ku luapkan segalanya. Tapi tidak ah, lagi-lagi kau tidak boleh memberlakukan “hiperbola” hidup. Banyak orang yang bebannya lebih berat darimu, harus kau sadari itu. Jangan kau memperumit dirimu!

Mengapa aku harus melihat pada satu sisi? Ya, i’m okay. I haven’t problem. I’m always happy. Mengapa tidak ku lihat dari sisi dimana aku benar-benar merasa lantang luntung tak tahu arah? Aku bisa mengungkapkan keluh kesah hidup dalam secarik kertas atau ku jadikan dokumen dilaptop. Aku setuju jika keterpurukan memang kurang layak ditunjukan di media sosial. Ya. Media sosial itu fana. Penuh kepalsuan yang membuat emosional naik turun. Bahkan aku pernah melihat pada vlog seorang artis yang mengundang salah satu pejabat negeri dan membicarakan mengenai media sosial. Pejabat itu berkata. Intinya begini. “Sudah cukup lama saya tidak bermain media sosial (except whatsaap) dan saya merasakan benar dampaknya dalam hidup saya. Saya tidak perlu terpuruk dengan orang yang menghujat saya. Saya bisa lebih intens membangun kebersamaan dengan kelurga dan teman-teman saya. Saya bisa menikmati hidup tanpa harus memposting apa saja yang saya lakukan setiap harinya and anything, it’ll be okay. Dan saya bahagia dengan itu”.

Beberapa hal sebenarnya bisa kau ungkapkan pada orang terdekatmu. Orang tuamu, kakak atau adikmu, keponakanmu. Aku juga bisa mengungkapkannya kepada teman terdekatku bahwa i have problem, can you help me? and i’m sad, mad or disappointed. Terkadang, dalam hidup kita harus membangun beberapa kepercayaan pada orang lain. Tak apa kau tunjukan sedikit alur kehidupan yang terkadang tak sejalan dengan harapan. Tak apa kau tunjukan bahwa kau sedang dalam kondisi yang marah, kecewa atau sedih. Tak apa kamu menangis dipelukan atau pangkuan orang terdekatmu. Tak apa kau mengeluh ini itu. Hey, ingat kau itu manusia, bukan malaikat. Tapi pastikan orang itu dapat kau percaya. Kau berhak hidup layaknya manusia. Keterpurukan itu bukan berarti kau lemah. Kau kuat, hanya saja sedang lelah. Hidup tak melulu indah bukan? Justru kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika bisa memberikan memberikan pelajaran hidup bagi orang lain bukan? Tentang lika-liku hidup yang kau jalani, itu bisa membuat orang lebih berhati-hati dan bersyukur dalam menjalani segala takdir Tuhan.  

Selamat! Kau sudah hidup layaknya manusia. Yang menggunakan hati dan logika. Yang bisa memberi inspirasi bagi orang lain. Kau memang bukan manusia sempurna yang memiliki segudang kebaikan. Tapi kau sudah berusaha untuk menjadi baik. Untuk aku dan kau.  Terimakasih sudah menjadi manusia hebat !

Dan untuk pertanyaan “boleh tidak aku hidup layaknya manusia?”. Dan jawabannya “Boleh sekali dan kau sangat layak”.
          
              -Rabu, 8 April 2020 (Subuh, ku terinspirasi)-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Definisi

  DEFINISI Sebuah definisi yang diciptakan sendiri. Aku tidak tahu mengapa definisi buruk selalu mendominasi pikiranku. Lelahnya badan yan...