ASING
(
dia hanya angin lalu, tidak untuk singgah )
Sebuah perayaan sorak
sorai teman-teman SMA. Bagaimana tidak? Ini hari kelulusan. Kain suci yang
terpola kau nodai dengan bercak dari berbagai warna. Tentu bukan noda si
pendosa, lebih tepatnya noda karena hati yang sedang berwarna. Boleh ku
tertawa? Haha. Lebih kurang 3 tahun mencicipi asam garam dan ini puncaknya.
Ya, ini kan
teman-teman. Tidak denganku. Aku bahkan tidak bisa merayakannya. Hmm, bukan
tidak bisa, tetapi tidak mau. Saat itu aturan sekolah tidak membolehkan hal itu
terjadi dan dengan mudahnya aku menurutinya. Entah, mungkin aku terlalu polos
saat itu. Lagi dan lagi, sanksi menjadi pemeran utama dalam membatasi gerak.
Namun, tetap ada saja yang diam-diam melakukan itu. Mereka tidak nakal. Mereka
hanya sedang meluapkan kebebasannya.
Jarum jam terus
bergerak setiap detiknya. Tidak bisakah kau berhenti sejenak saja? aku ingin
beristirahat sejenak. Ah khayalan semata. Cepat sekali waktu berlalu. Saat itu
pula, usia sedikit memaksa bahwa sudah saatnya memilih. Ya, memilih kau ingin
menjadi seperti apa? Apa yang akan kau lakukan? Resiko seperti apa yang akan
kau dapat saat melakukan hal tersebut? Kalimat-kalimat yang memusingkan kepala.
Ingin ku benturkan saja.
Perihal pilihan. Aku
memilih untuk melanjutkan studiku di sebuah universitas negeri. Ya, walaupun
sempat ada sekat penghalang mimpi sehingga memaksaku mengisi waktu luang untuk
bekerja terlebih dahulu. Aku bahagia. Aku tak menyangka. Bisa duduk dibangku
kuliah yang selama ini hanya bisa memandanginya dilayar kaca, sesekali. Dan
dongeng dari teman-temanku tentang perkuliahan yang sempat membuatku tak
berdaya memikirkan nasib kedepan. Namun, disisi lain tergurat kesedihan.
Bagaimana tidak, teman seperjuanganku tidak lolos dan dia menangis dihadapanku.
Namun tak apa kawan, tahun depan masih menyambutmu.
Menyadari, aku sedang
berproses. Jarak rumah dengan kampus tidak terlalu jauh. Hanya 1 jam. Aku harus
bolak balik untuk membawa barang-barang ke tempat berteduhku yang baru. Ya,
kosan haha. Mungkin banyak yang bertanya “ngapain kos? Kan rumahnya dekat.” .
Ya, terserah lah ucapan berbuih mereka aku terima saja. Ini juga atas kehendak
orang tua yang tak menginginkan anaknya terlalu lelah bolak-balik setiap
harinya. Ah, memang orang tuaku terbaik. Atau karena aku terlalu manja? Ah
tidak juga haha.
Keasingan kita mulai
dari sini. Suasana yang berbeda. Ukuran kamar yang tak berbeda jauh dari kamar
dirumah. Hanya saja, warna cat tembok yang berbeda dalam pandangan. Tentu bukan
masalah. Beberapa hari telah berlalu. Kau memenuhi kebutuhanmu sendiri. Makan
pun tak ada yang menghidangkan. Sejak itu, tak teratur sekali. Awalnya
terkejut, namun lama-kelamaan terbiasa.
Senin. Hari permulaan. Banyak
yang tidak menghendaki hari itu. Mungkin karena tubuh lunglai yang
bermalas-malasan harus segera beranjak. Atau liburan singkat karena termakan
hari itu keesokan harinya. Namun, itu tidak menjadi masalah bagiku. Ah mereka
saja yang terlalu berlebihan. Menjalani masa orientasi, perkenalan. Segala hal
baru kudapatkan. Kudapati langkah kaki tak berjejak. Ya, langkahku menuju
kampus. Beberapa hari harus berjalan karena lagi-lagi aturan yang mengekang.
Satu minggu sudah
terlewati. Seketika wajahku muram. Menunduk. Aku rindu rumah. Kebetulan kamarku
ada dilantai atas. Saat itu senja. Ku jatuhkan pandangan padanya. Ya, senja
yang retak. Air mata yang menyamar puisi paling berduri. Menyangga sebelah pipi
dan merenung. Tak apa. Kau hanya belum terbiasa.
Baiklah ku bangun
kegembiraan hidup. Ku tarik kursi agar bisa berdua bersama meja. Ku menjadi
perantara diantara mereka. Mereka menjadi saksi jikalau aku mulai berjuang.
Menorehkan segala asa dalam secarik kertas putih yang melekat ke dalam jendela
dunia. Air mata sudah tak jatuh. Hanya saja, mata menjadi sembab dibuatnya.
Segalanya asing. Mulai
mencari apa yang dibutuhkan. Mengikuti serangkaian kepanitiaan. Mulanya, ku
terdiam. Memandangi dan mengajak ngobrol orang asing memang membutuhkan
keberanian yang tidak sedikit. Tapi, lingkungan memaksaku. Sampai ada kau, yang
membuat rasa maluku perlahan memudar.
Kamu asing. Tapi kamu
selalu membuat dirimu agar tak terlihat asing bagiku. Kamu mengajak berbincang.
Selalu meracau dengan candaan yang terkadang membuatku geli dan sebal. Tapi aku
suka. Kamu membangun keberanian dalam diriku. Beruntung sekali aku bisa satu
kepanitiaan denganmu pikirku.
Waktu berlalu,
kepanitiaan berakhir. Namun tidak dengan sapaan hangat yang seringkali
terlontar dari bibirmu acapkali kita dipertemukan. Seperti biasa, kamu selalu
ramah. Namun aku tak suka, saat kamu berbicara suaramu seperti bergumam tak
jelas. Ini bukan salah telingaku. Namun ocehan dari mulutmu yang tak bisa kau
buka dengan lebar.
Cahaya beranjak gelap. Tertelan
senja yang tak pernah luput membuatku terpana. Ku terbaring. Memainkan ponselku
yang kolot. Sesekali dibuat kesal karena lemotnya minta ampun. Sebuah pesan ku
terima lewat line. Oh dia. Ada apa ya? Seperti kebanyakan, dia menanyakan
sedang apa padaku. Ku balas dengan candaan dan itu berbuntut panjang. Tawaku
terbahak-bahak dibuatnya. Aku seperti hantu yang tidak tau etika tertawa
dimalam hari. Sampai pada akhirnya, aku ingin meminta pendapatnya dan
bercerita. Dia dengan senang hati mau mendengarnya. Aku menceritakan perihal
masa lalu, tepatnya lelaki yang sangat aku cintai saat itu. Responnya cukup
baik. Setelah pembahasan, kita pun melemparkan berbagai stiker lucu. Namun
keesokan hari dan seterusnya, dia tidak mengirimku pesan kembali. Namun, ah sudahlah.
Aku menganggap hal itu wajar dan tidak dibuat sedih pula karenanya.
Tahun demi tahun
meninggalkan segala kenangan yang dibuat. Dan saat itu pula aku memiliki teman
yang selalu meledekku dengan teman kepanitiaanku dahulu itu. akupun penasaran
mengapa kamu selalu meledekku bersamanya? Dan ternyata, sosok yang dahulunya
berperan mengikis rasa maluku menyimpan rasa padaku. Aku benar-benar tak
percaya. Bagaimana bisa? Dia tak menunjukannya. Atau karena dahulu aku
menceritakan lelaki lain padanya? Oh bodohnya aku. Namun, tak bisa dipungkiri,
bagaimana dahulu aku dimabuk kasmaran akan cinta di masa laluku. Aku hanya bisa
senyum-senyum sendiri. Ah, sudahlah. Itu sudah berlalu. Toh sekarang dia sudah
memiliki kekasih.
Seketika itu ternyata
kami berpapasan kembali. Namun, ada yang berbeda. Senyumnya membeku. Candaannya
sirna. Bahkan, dia seolah seperti menganggapku hantu. Tidak terlihat, namun
ada. Apa mungkin dulu dia sempat kecewa atas diriku. Namun tak seharusnya
seperti itu. Kamu yang dulu menjadi sosok yang begitu lihat memainkan peran
untuk menghibur, kini asing kembali. Bahkan sangat asing. Kamu tak lagi menjadi
manusia yang hangat untukku. Namun sekarang, asingmu berharga karena memberiku
pelajaran akan kenangan yang sempat kau bangun. Tak apa. Prinsipnya, asing bisa
menjadi dekat dan sebaliknya. Dia hanya angin lalu, tidak ditakdirkan singgah
di kehidupanmu selanjutnya. Biarpun begitu, yang terpenting adalah Purwokerto
akan selalu hangat. Dengan atau tanpa senyumanmu. Terimakasih untuk kamu,
sempat hadir mengisi waktu ...
20
Maret 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar