Satu Ruang
Dalam
hidupnya, manusia memang tidak bisa terlepas dari interaksi antar sesamanya.
Itu sudah menjadi kodrat, ketika harus mampu menciptakan ruang nyaman diantara
mereka. Namun, manusia juga tak luput dari sifat individualnya yang terkadang memikirkan
dirinya sendiri. Saat itu, manusia butuh ruang.
Aku,
salah satu si manusia itu. Manusia yang mampu berperan dalam keramaian, namun
seketika gusar ingin menyendiri. Beberapa alasan terkadang terlintas dalam
pikiran. Berjangka. Singkat saja, namun bisa juga berhari-hari.
Aku
ingin bebas. Bahkan sangat bebas. Namun segala aturan yang telah terbentuk tak
mengizinkan kebebasan sepenuhnya. Bahkan negara liberal sekalipun. Tetap saja
ada beratus aturan dari pemerintah. Apalagi aku. Beberapa paku menancap digerakku
sebagai manusia. Disegala aspek. Tidak perlu disebutkan karena aku tak ingin
salah satunya menjadi beresiko bagiku.
Menghela
nafas sejenak. Ternyata aku cukup hebat bisa melewati hal-hal yang pernah
membuatku kecewa. Tetapi aku tak cukup kuat untuk menunjukkannya pada khalayak
ramai. Saat itu pula, ingin ku temukan satu ruang yang tak semu.
Ya.
Ruang. Tak perlu banyak warna. Kecil saja. Setidaknya bisa menampung tubuh dan
segala pikiran yang ada. Bisa menjadi markas rahasia yang hanya aku dan Tuhan
yang tahu. Ruang yang benar-benar bebas. Kedap suara agar aku bisa berteriak
sekencang-kencangnya. Mengerang atas kesakitan dan kegetiran hidup. Terbahak
saat bahagia datang. Mimpi sederhana yang luar biasa.
Mengapa
aku ingin satu ruang saja? aku tak mau muluk-muluk, mengatakan bahagia saat aku
mempunyai rumah yang besar. Saat aku mempunyai sebuah apartemen. Saat aku
mempunyai mobil yang berderet. Itu tak cukup untuk kesehatan mental. Saat aku
merasa kosong, aku hanya membutuhkan ruang sebagai tempat berteduh paling
nyaman selama aku hidup dibumi.
Ruang
dengan segala ekspresi. Saat membuka pintu dan masuk, merasakan kedamaian. Bisa
beribadah dengan nyaman. Bisa bernostalgia tanpa gangguan dari luar. Bisa
bernyanyi dengan lepas tanpa menahan suara, tanpa memikirkan banyak telinga
yang akhirnya turun ke mulut dan menjadi bahan pembicaraan. Bisa memetik gitar
ringan yang berdebu sampai jari berkerut, bisa merubah suasana dinding sesuai
keinginan. Mungkin dilekatkan beragam stiker lucu, atau kata-kata motivasi.
Atau bahkan foto-foto orang yang dikasihi dengan beragam puisi yang
menceritakan tentang mereka. Mencoret dinding dengan warna sesuai kondisi diri.
Banyak hal yang ingin kulakukan pastinya. Dan tak seorangpun boleh memasuki
ruang istimewaku itu.
Ya,
itu terbentuk dalam pikiran yang seringkali hadir saat aku terluka. Saat tak
ada yang mendukung keinginanku. Saat segala yang kulakukan tak pernah dihargai.
Saat aku benar-benar ingin sendiri. Pikiran seperti itu memang merugikan, namun
terkadang menguntungkan juga bagiku.
Karena
apa? Karena saat itu pula aku lebih menghargai hidup. Lebih mau berusaha. Aku
lebih bisa mencintai diri sendiri. Lebih berhati-hati dengan keberadaan orang disekitarku.
Tak peduli dengan kicauan yang membuat telinga penging. Tetiba pula bisa memunculkan hal-hal positif yang ingin ku
lakukan akibat pikiran seperti itu. Namun, pikiranku juga tahu diri. Aku masih
mampu memberikan sekat mana yang bisa membangun dan meruntuhkan perjalanan hidupku.
Harus
selalu ingat. Perspektif melimpah. Pembaca bisa memaknai pikiran seperti itu dengan
pedang yang begitu tajam, tapi mungkin aku memaknainya dengan madu. Ketika kau
pukul sarang lebah dan kau temukan nyerinya sengatan lebah, tak sia-sia karena
berbuah madu yang begitu nikmat dilidah. Bingung ya? Tak perlu dipusingkan, ini
hanya asumsiku saja.
Kamis, 16 April 2020 – 21.30 WIB
-Sekali lagi, terimakasih diri-