Pulihlah!
Aku tegaskan, pulihlah !
Sungguh karenanya kau menjadi kacau
Sempat kau fikir, hancur, lebur, patah, apalah itu
Saat itu kau sadar kau berada dalam fase kebodohan
Lebih bodohnya, mengapa kau bertahan dalam fase itu?
Sungguh, memang hati mengalahkan logika
Ahhh, rasanya hambar
Tak bisa kau mengeluarkan sepatah kata pun
Kau membencinya, namun kau masih peduli
Naluri macam apa itu !
Dasar bodoh, kau terlalu terpaut sampai kau tak
mengerti kapan kau pulih
Satu tahun, dua tahun, atau bahkan bertahun-tahun
Ahh, ingin ku robek memoriku
Ingin ku cabik semua rasa yang membuatku seperti
orang dungu
Sehingga kau benar-benar lumpuh dari ingatan
berharga yang seharusnya dia tak masuk didalamnya
Sungguh, berapa lama lagi kau akan menahan dahaga
ini
Kau sudah tau bagaimana dia adalah mentari yang
membakar hati
Lalu, bagaimana dengan logikamu? Kau tidak
menggunakannya?
Padahal kau tau peluru yang dia miliki sungguh
menembus jantungmu
Sakit, namun kau tetap menahan walaupun banyaknya
darah yang keluar
Puncaknya, Tuhan telah menyadarkan
Betapa berharganya hatimu
Tak sepantasnya kau hancur hanya karena fikiran dan
hatimu dimasuki oleh dia yang tak bertanggung jawab akan perasaannya
Oh Tuhan, terimakasih kau telah menuntutku melewati
fase kebodohan ini
Fase yang membuatku remuk redam, koyak bahkan lumat
Rasa yang lama terapung, tak jelas kemana air akan
membawanya
Karena pada dasarnya, kau harus sadar hidup adalah
sebuah kapal yang berlayar di samudera yang luas
Tak selamanya yang kau lewati air tenang, langit
cerah dan angin yang menenangkan
Ada kalanya, kau akan melewati ombak yang besar,
langit gelap bergemuruh suara petir menyambar dan angin yang menggoncangkan
Dan kau harus sadar, Tuhan bersamamu dan yakinlah
kau bisa melewati semua itu. Walaupun lambat laun, percayalah .. kau akan
pulih.