Minggu, 14 Januari 2018

Pulihlah !

Pulihlah!

Aku tegaskan, pulihlah !

Sungguh karenanya kau menjadi kacau

Sempat kau fikir, hancur, lebur, patah, apalah itu

Saat itu kau sadar kau berada dalam fase kebodohan

Lebih bodohnya, mengapa kau bertahan dalam fase itu?

Sungguh, memang hati mengalahkan logika

Ahhh, rasanya hambar

Tak bisa kau mengeluarkan sepatah kata pun

Kau membencinya, namun kau masih peduli

Naluri macam apa itu !

Dasar bodoh, kau terlalu terpaut sampai kau tak mengerti kapan kau pulih

Satu tahun, dua tahun, atau bahkan bertahun-tahun

Ahh, ingin ku robek memoriku

Ingin ku cabik semua rasa yang membuatku seperti orang dungu

Sehingga kau benar-benar lumpuh dari ingatan berharga yang seharusnya dia tak masuk didalamnya

Sungguh, berapa lama lagi kau akan menahan dahaga ini

Kau sudah tau bagaimana dia adalah mentari yang membakar hati

Lalu, bagaimana dengan logikamu? Kau tidak menggunakannya?
 
Padahal kau tau peluru yang dia miliki sungguh menembus jantungmu

Sakit, namun kau tetap menahan walaupun banyaknya darah yang keluar

Puncaknya, Tuhan telah menyadarkan
Betapa berharganya hatimu

Tak sepantasnya kau hancur hanya karena fikiran dan hatimu dimasuki oleh dia yang tak bertanggung jawab akan perasaannya

Oh Tuhan, terimakasih kau telah menuntutku melewati fase kebodohan ini

Fase yang membuatku remuk redam, koyak bahkan lumat

Rasa yang lama terapung, tak jelas kemana air akan membawanya

Karena pada dasarnya, kau harus sadar hidup adalah sebuah kapal yang berlayar di samudera yang luas

Tak selamanya yang kau lewati air tenang, langit cerah dan angin yang menenangkan

Ada kalanya, kau akan melewati ombak yang besar, langit gelap bergemuruh suara petir menyambar dan angin yang menggoncangkan

Dan kau harus sadar, Tuhan bersamamu dan yakinlah kau bisa melewati semua itu. Walaupun lambat laun, percayalah .. kau akan pulih.


Yang Kau Kejar, Yang Akan Meninggalkan



Raga yang didalamnya ditiupkan ruh. Hidup. Semakin bertambah umur. Sandiwara dunia pun dimulai. Seiring waktu berjalan. Lambat laun. Banyak hal yang kau jalani. Melihat pada kemapanan manusia. Aku ingin menjadi dokter. Aku ingin memiliki mobil mewah. Aku ingin ini. Aku ingin itu. Semuanya. Apa kau berfikir hidup semudah itu ketika mimpi-mimpi itu tertanam diotak. 

Dalam perjalanan hidup tanpa kau sadari, kau akan mengalami hal-hal yang tak pernah kau duga. Disitu pula akan diiringi oleh rasa marah, sedih, kecewa dan hal lain yang tak bisa kau ungkapkan dengan kata-kata. Saat sendiri, sepi dan kau tiba-tiba menangis tanpa tahu apa sebabnya. Ditemani dinginnya malam yang menusuk tulang. Hati dan fikiranmu yang ingin kau kosongkan dari segala beban hidup. Menghela nafas. Meneteskan kristal cair dan berkata “ Tuhan, aku ingin lebih hidup “

Akhirnya, kau harus menjelajah hidup. Hidup yang hanya adil bagi orang-orang berduit. Namun, kau harus mau mencari jika ingin lebih hidup. Entah, itu akan mudah ataupun sukar. Namun kau harus terus kejar. Cinta. Cita-cita. Kebahagiaan. Akan banyak persimpangan jalan yang akan membantu bahkan menyesatkan. Kau harus siap dengan konsekuensi hidup yang nantinya akan kau pilih. Tidak melarikan diri saat kau membuat masalah. Dan satu hal yang akan menjadi tantangan terbesar “kau harus menjadi pribadi jujur”.

Suatu saat nanti, kau akan dengan bangga mengatakan aku telah mendapatkan apa yang selama ini aku kejar. Dan kau tak boleh lupa, bahwa perjalanan itu sendiri akan menjadi kenangan bahwa kau tak akan menjadi seperti apa yang kau harapkan tanpa melalui perjalanan itu. Sampai pada akhirnya, kau merasa kau hebat. Kau lupa pada beberapa perjalanan tesulit saat itu. Kau buta. Kau tuli. Lihatlah ke bawah. Pembelajaran hidup yang telah kau nikmati dari mereka. Sampai pada akhirnya, kau menua.

Berfikir. Nuranimu berjalan. Dengan kulit yang semakin keriput. Tulang belulang yang mulai rapuh. Bahkan untuk berjalan pun kau harus ditopang oleh sebuah tongkat tua. Ketampanan dan kecantikan yang lambat laun memudar. Bahkan kau harus berhenti dari kariermu karena kau telah dimakan usia. Penyakit pun mulai berdatangan. Menyambutmu. Lalu bagaimana dengan si cinta, si cita-cita, si kebahagiaan. Sudah kau dapatkan? Dan lambat laun pula kau sadari, yang selama ini kau kejar itu, merekalah yang pada akhirnya pun akan meninggalkanmu.

Cinta ? Saat dewasa, kau mencintai seseorang. Berkali-kali kau harus bangkit dan jatuh karena ini. Karena kau ditinggalkan. Atau kau yang meninggalkan. Yang awalnya menjadi penenang kemudian terasa buas, menghancurkan hati. Kau pernah bodoh karena hal ini karena kau terlalu dibutakan dengan cintamu terhadap manusia. Kau berbicara dalam hatimu. Kau akan mengembara sampai kau mendapat cinta sejati. Mendapat seseorang yang tulus menerimamu apa adanya. Padahal faktanya, tidak ada satupun yang akan sepenuhnya tulus yang sesempurna Tuhan. Lalu, ketika kau sudah mendapat pelabuhan hidupmu. Lantas menikah dan beranak pinak. Lantas tinggal diantah berantah. Mereka pun akan meninggalkanmu ketika takdir berkata “mereka harus pulang”

Cita-cita ? seberapa penting sampai terkadang kau mengorbankan waktumu dengan orang-orang terkasih. Yang kau kejar hanya karier, uang. Bagaimana agar kau dikenal. Bagaimana kau berfikir kau bisa menjadi contoh akan kesuksesan yang telah diraih. Sampai akhirnya, kau menjadi sesosok yang angkuh. Yang memuakkan bagi sebagian orang. Seiring berjalannya waktu. Mereka tidak akan membutuhkanmu. Tubuhmu yang rapuh bisa apa? Karier yang meredup. Uang yang akan habis. Lalu apalagi yang bisa kau banggakan. Seketika itulah kau baru mengingat Tuhan. Pada dasarnya, semua yang ada didunia ini fana. Semuanya akan meninggalkanmu padahal kau sudah begitu keras mengejar itu semua.

Lalu, untuk kebahagiaan ? setiap orang mempunyai definisi kebahagiaannya sendiri. Entah itu akan mereka rasakan saat usia muda ataupun tua. Namun bagiku, bahagia adalah ketika aku bisa bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang, ketika aku menjadi sosok yang pandai bersyukur, mengikhlaskan, menjadi pribadi yang semakin baik. Namun sayangnya kau harus bergelut dengan luka. Luka yang harusnya bisa mendewasakanmu, yang kenyataannya sangat sulit. Tak peduli bagaimana penilaian manusia, asalkan bagaimana caramu memperbaiki diri untuk Tuhanmu. Pada intinya, bahagia itu pilihan dan kau berhak akan itu. Bantu aku Tuhan. Bantu aku, setidaknya aku bisa mengatasi sesuatunya dengan kesendirian. (Pembelajaran diri sendiri)

Memaknai Arti Kehidupan

Memaknai Arti Kehidupan


Apakah kau pernah berfikir, terkadang kau lelah dengan kehidupan yang kau jalani. Menjalani hari-hari yang monoton dan membosankan. Ingin mencoba hal-hal baru yang namun sangat disayangkan itu hanya ada difikiran tanpa mau untuk dijalankan. Semakin dewasa, muncul pemikiran bahwa hidup bukan hanya soal seberapa kau dikenal ataupun soal cinta yang terkadang membuatmu seperti orang bodoh. Dalam setiap detik perjalanan waktu, rasanya ingin sekali bermanfaat bagi banyak orang. Mengerti bagaimana mereka dalam menjalani kehidupan ini dengan penuh rasa syukur dan sabar, mencoba ikhlas akan hal-hal yang pada akhirnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Namun terkadang muak dengan pemikiran yang individualisme dan kurang peka terhadap apa yang ada disekitar. Padahal jika kau mau, disetiap jengkal perjalanan manusia kau bisa belajar bagaimana agar hidupmu lebih bermakna. Seringkali terlintas dalam benak, kau sudah hidup berapa lama? Apa yang kau lakukan dalam hidupmu selama ini? Apakah berguna? Apakah kau senang membuang waktumu begitu saja? Apakah? Apakah ?. Selalu saja seperti itu. 

Dan lagi, selama hidupmu berapa orang yang merasa sakit karenamu? Berapa orang yang membencimu? Oh Tuhan seberdosakah aku dengan tidak memanfaatkan hidup sebaik mungkin. Dengan persepsi yang sulit diubah ketika kau dikecewakan dengan beberapa orang. Menjadi pemaaf yang terkadang sangat sulit dilakukan mengingat luka yang hinggap dalam hati dan logikamu. Oh Tuhan, apakah hidupku terlalu sesak dengan keluh kesah? Hidup yang tidak pandai bersyukur. Terus saja kau berbicara bahwa kau ingin memperbaiki diri untuk masa depanmu. Namun, apa faktanya? Tidak semudah membalikkan tangan ketika egomu pun mengiringi langkah. Apa yang kau lakukan selama ini, bergunakah atau sia-siakah? Entahlah, bagaimanapun, sepahit apapun. Kau harus tetap menjalani hidup ini, demi orang-orang yang kau sayangi. Demi pembelajaran hidup.

Salah satu pembelajaran hidup yang pernah didapat adalah ketika aku membaca sebuah buku, yang aku dapatkan ketika aku tahu bahwa penulisnya adalah dokter yang dulu menjadi dokter yang sangat memotivasi saat ku menjadi pasiennya. Didalam buku tersebut tertulis :

Hidup hanya sekali. Seperti lilin. Cahaya yang memberi. Memberi. Memberi. Menginspirasi. Menghidupi. Lantas, seperti juga yang lain, mati. Padam. Pulang. Oh Tuhan, lagi-lagi aku lupa bersyukur, lagi-lagi aku jauh dari mengerti apa itu arti kehidupan. But remember, the eagles flies alone, enjoy the ride ...

Satu pembelajaran lagi, dan pada akhirnya yang ada cuma pilihan, kita ingin menua dengan siapa? Kita ingin mati seperti apa? Kita ingin dikenang seperti apa? Luka seperti apa yang ingin kau ingat. Atau luka mana yang kau lupakan ...

Definisi

  DEFINISI Sebuah definisi yang diciptakan sendiri. Aku tidak tahu mengapa definisi buruk selalu mendominasi pikiranku. Lelahnya badan yan...