Raga
yang didalamnya ditiupkan ruh. Hidup. Semakin bertambah umur. Sandiwara dunia
pun dimulai. Seiring waktu berjalan. Lambat laun. Banyak hal yang kau jalani.
Melihat pada kemapanan manusia. Aku ingin menjadi dokter. Aku ingin memiliki
mobil mewah. Aku ingin ini. Aku ingin itu. Semuanya. Apa kau berfikir hidup
semudah itu ketika mimpi-mimpi itu tertanam diotak.
Dalam
perjalanan hidup tanpa kau sadari, kau akan mengalami hal-hal yang tak pernah
kau duga. Disitu pula akan diiringi oleh rasa marah, sedih, kecewa dan hal lain
yang tak bisa kau ungkapkan dengan kata-kata. Saat sendiri, sepi dan kau
tiba-tiba menangis tanpa tahu apa sebabnya. Ditemani dinginnya malam yang
menusuk tulang. Hati dan fikiranmu yang ingin kau kosongkan dari segala beban
hidup. Menghela nafas. Meneteskan kristal cair dan berkata “ Tuhan, aku ingin
lebih hidup “
Akhirnya,
kau harus menjelajah hidup. Hidup yang hanya adil bagi orang-orang berduit.
Namun, kau harus mau mencari jika ingin lebih hidup. Entah, itu akan mudah
ataupun sukar. Namun kau harus terus kejar. Cinta. Cita-cita. Kebahagiaan. Akan
banyak persimpangan jalan yang akan membantu bahkan menyesatkan. Kau harus siap
dengan konsekuensi hidup yang nantinya akan kau pilih. Tidak melarikan diri
saat kau membuat masalah. Dan satu hal yang akan menjadi tantangan terbesar
“kau harus menjadi pribadi jujur”.
Suatu
saat nanti, kau akan dengan bangga mengatakan aku telah mendapatkan apa yang
selama ini aku kejar. Dan kau tak boleh lupa, bahwa perjalanan itu sendiri akan
menjadi kenangan bahwa kau tak akan menjadi seperti apa yang kau harapkan tanpa
melalui perjalanan itu. Sampai pada akhirnya, kau merasa kau hebat. Kau lupa
pada beberapa perjalanan tesulit saat itu. Kau buta. Kau tuli. Lihatlah ke
bawah. Pembelajaran hidup yang telah kau nikmati dari mereka. Sampai pada
akhirnya, kau menua.
Berfikir.
Nuranimu berjalan. Dengan kulit yang semakin keriput. Tulang belulang yang
mulai rapuh. Bahkan untuk berjalan pun kau harus ditopang oleh sebuah tongkat
tua. Ketampanan dan kecantikan yang lambat laun memudar. Bahkan kau harus
berhenti dari kariermu karena kau telah dimakan usia. Penyakit pun mulai
berdatangan. Menyambutmu. Lalu bagaimana dengan si cinta, si cita-cita, si
kebahagiaan. Sudah kau dapatkan? Dan lambat laun pula kau sadari, yang selama
ini kau kejar itu, merekalah yang pada akhirnya pun akan meninggalkanmu.
Cinta
? Saat dewasa, kau mencintai seseorang. Berkali-kali kau harus bangkit dan
jatuh karena ini. Karena kau ditinggalkan. Atau kau yang meninggalkan. Yang
awalnya menjadi penenang kemudian terasa buas, menghancurkan hati. Kau pernah
bodoh karena hal ini karena kau terlalu dibutakan dengan cintamu terhadap
manusia. Kau berbicara dalam hatimu. Kau akan mengembara sampai kau mendapat cinta
sejati. Mendapat seseorang yang tulus menerimamu apa adanya. Padahal faktanya,
tidak ada satupun yang akan sepenuhnya tulus yang sesempurna Tuhan. Lalu,
ketika kau sudah mendapat pelabuhan hidupmu. Lantas menikah dan beranak pinak.
Lantas tinggal diantah berantah. Mereka pun akan meninggalkanmu ketika takdir
berkata “mereka harus pulang”
Cita-cita
? seberapa penting sampai terkadang kau mengorbankan waktumu dengan orang-orang
terkasih. Yang kau kejar hanya karier, uang. Bagaimana agar kau dikenal. Bagaimana
kau berfikir kau bisa menjadi contoh akan kesuksesan yang telah diraih. Sampai
akhirnya, kau menjadi sesosok yang angkuh. Yang memuakkan bagi sebagian orang.
Seiring berjalannya waktu. Mereka tidak akan membutuhkanmu. Tubuhmu yang rapuh
bisa apa? Karier yang meredup. Uang yang akan habis. Lalu apalagi yang bisa kau
banggakan. Seketika itulah kau baru mengingat Tuhan. Pada dasarnya, semua yang
ada didunia ini fana. Semuanya akan meninggalkanmu padahal kau sudah begitu
keras mengejar itu semua.
Lalu,
untuk kebahagiaan ? setiap orang mempunyai definisi kebahagiaannya sendiri.
Entah itu akan mereka rasakan saat usia muda ataupun tua. Namun bagiku, bahagia
adalah ketika aku bisa bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang, ketika aku
menjadi sosok yang pandai bersyukur, mengikhlaskan, menjadi pribadi yang
semakin baik. Namun sayangnya kau harus bergelut dengan luka. Luka yang
harusnya bisa mendewasakanmu, yang kenyataannya sangat sulit. Tak peduli
bagaimana penilaian manusia, asalkan bagaimana caramu memperbaiki diri untuk
Tuhanmu. Pada intinya, bahagia itu pilihan dan kau berhak akan itu. Bantu aku
Tuhan. Bantu aku, setidaknya aku bisa mengatasi sesuatunya dengan kesendirian. (Pembelajaran
diri sendiri)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar