Memaknai Arti Kehidupan
Apakah
kau pernah berfikir, terkadang kau lelah dengan kehidupan yang kau jalani.
Menjalani hari-hari yang monoton dan membosankan. Ingin mencoba hal-hal baru
yang namun sangat disayangkan itu hanya ada difikiran tanpa mau untuk
dijalankan. Semakin dewasa, muncul pemikiran bahwa hidup bukan hanya soal
seberapa kau dikenal ataupun soal cinta yang terkadang membuatmu seperti orang
bodoh. Dalam setiap detik perjalanan waktu, rasanya ingin sekali bermanfaat
bagi banyak orang. Mengerti bagaimana mereka dalam menjalani kehidupan ini
dengan penuh rasa syukur dan sabar, mencoba ikhlas akan hal-hal yang pada
akhirnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Namun terkadang muak dengan
pemikiran yang individualisme dan kurang peka terhadap apa yang ada disekitar.
Padahal jika kau mau, disetiap jengkal perjalanan manusia kau bisa belajar
bagaimana agar hidupmu lebih bermakna. Seringkali terlintas dalam benak, kau
sudah hidup berapa lama? Apa yang kau lakukan dalam hidupmu selama ini? Apakah
berguna? Apakah kau senang membuang waktumu begitu saja? Apakah? Apakah ?.
Selalu saja seperti itu.
Dan
lagi, selama hidupmu berapa orang yang merasa sakit karenamu? Berapa orang yang
membencimu? Oh Tuhan seberdosakah aku dengan tidak memanfaatkan hidup sebaik
mungkin. Dengan persepsi yang sulit diubah ketika kau dikecewakan dengan
beberapa orang. Menjadi pemaaf yang terkadang sangat sulit dilakukan mengingat
luka yang hinggap dalam hati dan logikamu. Oh Tuhan, apakah hidupku terlalu
sesak dengan keluh kesah? Hidup yang tidak pandai bersyukur. Terus saja kau
berbicara bahwa kau ingin memperbaiki diri untuk masa depanmu. Namun, apa
faktanya? Tidak semudah membalikkan tangan ketika egomu pun mengiringi langkah.
Apa yang kau lakukan selama ini, bergunakah atau sia-siakah? Entahlah, bagaimanapun,
sepahit apapun. Kau harus tetap menjalani hidup ini, demi orang-orang yang kau
sayangi. Demi pembelajaran hidup.
Salah
satu pembelajaran hidup yang pernah didapat adalah ketika aku membaca sebuah
buku, yang aku dapatkan ketika aku tahu bahwa penulisnya adalah dokter yang
dulu menjadi dokter yang sangat memotivasi saat ku menjadi pasiennya. Didalam
buku tersebut tertulis :
Hidup
hanya sekali. Seperti lilin. Cahaya yang memberi. Memberi. Memberi.
Menginspirasi. Menghidupi. Lantas, seperti juga yang lain, mati. Padam. Pulang.
Oh Tuhan, lagi-lagi aku lupa bersyukur, lagi-lagi aku jauh dari mengerti apa
itu arti kehidupan. But remember, the eagles flies alone, enjoy the ride ...
Satu
pembelajaran lagi, dan pada akhirnya yang ada cuma pilihan, kita ingin menua
dengan siapa? Kita ingin mati seperti apa? Kita ingin dikenang seperti apa?
Luka seperti apa yang ingin kau ingat. Atau luka mana yang kau lupakan ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar