Sarjana?
Kali
ini saya ingin membahas bagaimana rasanya berproses menjadi seorang sarjana. Ya
siapa yang tidak tahu istilah sarjana. Istilah ini sangatlah terkenal dalam
dunia pendidikan. Sarjana merupakan gelar strata satu yang bisa didapat setelah
menempuh dunia perkuliahan selama kurang lebih 4 tahun dengan mempelajari suatu
bidang ilmu tertentu.
Berbicara
soal sarjana, setiap orang memiliki berbagai macam tujuan mengapa mereka ingin
menyandang gelar tersebut. Mulai dari ingin berkontribusi lebih bagi bangsa atas
ilmu yang didapat, mengangkat derajat kedua orangtua sampai pada ingin memiliki
manfaat untuk kepentingan pribadi. Sebagian orang berfikir sederhana atas gelar
yang bisa mereka dapat. Namun, ada beberapa orang yang memiliki kapasitas
berfikir lebih, hal apa yang bisa dilakukan agar gelarnya itu dapat bermanfaat
bagi orang banyak dan kemajuan peradaban.
Menulis
adalah keabadian bagi saya. Saya tiada, tidak dengan tulisan saya. Nama itu
kosong, karya itu nyata. Sedikit berbagi cerita mulai dari bagaimana saya bisa
merasakan bangku kuliah sampai dilema ketika harus menyandang gelar sarjana
dari bidang ilmu yang saya pilih.
Mulanya,
saya merasa diambang keraguan mengenai apa yang akan saya lakukan ketika lulus
dari SMA jika saya tidak bisa melanjutkan kuliah? Kalaupun bekerja, saya
memiliki kemampuan apa? Motivasi dari berbagai elemen dalam hidup, menuntut
saya untuk berusaha terlebih dahulu mengikuti seleksi untuk bisa masuk dalam
dunia perkuliahan. Tepatnya saat itu tahun 2015 dan saya sudah mencoba mendaftar
berbagai universitas sampai politeknik. Berbulan-bulan juga saya menunggu, yang
pastinya mayoritas orang menganggap menunggu adalah hal yang menyebalkan. Tak
apalah. Namanya juga usaha. Dan tak lupa harus dibarengi doa. Sampai pada
akhirnya hasilnya nihil. Saya tidak diterima di kampus manapun. Sedih? Jelas.
Tak jauh berbeda tujuan saya bisa kuliah ingin mengangkat derajat kedua
orangtua, ingin membanggakan mereka bahwa anaknya bisa kuliah. Wajar saja,
karena keinginan saya untuk kuliah ternyata tidak sejalan dengan pemikiran
orangtua saya.
Saya
mencoba lagi ditahun 2016. Sebenarnya rasa putus asa kerapkali mendera di satu
tahun yang saya lalui saat masih bekerja. Tetapi Allah memang maha baik. Saya
dikelilingi oleh teman-teman yang masih mau berjuang untuk bisa masuk dalam
dunia perkuliahan. Sampai pada akhirnya saya mendaftar kembali dan tidak
disangka saya diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Saat itu saya berfikir,
walaupun dalam keadaan putus asa, asalkan doamu tidak pernah berhenti, Allah
tahu waktu tepat untuk membuat doa itu terkabul. Luar biasa senangnya saat itu.
Setelah
kebaikan itu menimpa saya, bukan berarti saya tidak menghadapi ujian. Ada saja
hal-hal yang menguji keyakinan saya untuk bisa berkuliah. Tapi saya bersyukur
karena Allah memberikan tekad yang kuat terhadap saya sehingga saya mampu bertahan
dengan cara apapun, asalkan itu baik. Ada saja nikmat Allah melalui makhluk-Nya
membantu saya menghadapi berbagai ujian tersebut.
Waktu
dunia terus mengejar. Semua rasa telah menjadi saksi. Pemikiran ditempa.
Pengalaman digali. Berbagai tahap tak terasa sudah dilewati dan menuju titik
penyempurnaan dari gelar. Ya proses pengerjaan tugas akhir untuk mahasiswa.
Saat proses itu terjadi, muncul kebimbangan baru bukan? Pikiran yang
berkecamuk. Aksi yang dirasa minim yang baru saya rasakan setelah sejauh ini.
Selama
berproses didunia perkuliahan, apa yang sudah saya berikan pada diri sendiri dan
lingkungan kampus? Esensi dari bidang ilmu yang saya pilih untuk kehidupan
selanjutnya itu untuk apa? Saat itu pula, yang sedang gencar berputar-putar
diotak adalah apakah jurusan yang sudah saya ambil dirasa tepat untuk
perjalanan saya kedepannya?
Bagaimana
tidak, saya memilih jurusan yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Saya
merasa lebih paham dengan dunia itu saja semenjak bisa merasakan bangku kuliah.
Mungkin benar kebanyakan orang berkata, dari 10 orang yang memilih jurusan
tertentu, hanya 1 orang yang paham benar mengapa ia memilih jurusan tersebut.
Dan payahnya, dari 9 orang tersebut, salah satunya saya. Jujur saja, saat saya memilih
jurusan tersebut, saya tidak mencari tahu sampai ke akar-akarnya. Saat itu,
yang saya fikirkan, bisa kuliah saja saya sangat bersyukur. Padahal seharusnya
banyak hal yang perlu dipertimbangkan.
Ibarat
kata nasi telah menjadi bubur, hal itu sudah saya ambil. Sudah cukup lama saya
tempuh. Tidak ada yang perlu sesali, karena yang terpenting sekarang tugas saya
adalah bagaimana saya bisa menjalani bidang ilmu yang saya pilih itu dengan
maksimal dan bagaimana gelar itu nantinya bisa berguna. Ya walaupun terkadang
saya berfikir, saya memilih jurusan yang ketika sudah memasuki dunia kerja, hal
itu tak jarang menjadi kontra bagi masyarakat. Bagaimana tidak, membuat dan
memutuskan suatu kebijakan bukanlah hal yang mudah. Dipandang sebelah mata
harus dialami ketika seseorang bersiap untuk masuk dalam dunia pemerintahan.
Dunia yang selalu didampingi oleh berbagai macam kepentingan. Dunia yang sangat
kental dengan perpolitikannya itu. Dunia yang tak luput dari kejaran media.
Terlebih berbagai persoalan pelik yang tidak pernah lepas. Dunia yang
lingkupnya sangat besar karena mempengaruhi berbagai aspek kehidupan.
Untuk
menghadapi hal tersebut, sebenarnya peluang untuk berfikir kritis dan beraksi
nyata terbuka lebar didunia perkuliahan. Kita bisa menggali semaksimal mungkin
apa yang kita butuhkan terkait dengan bidang ilmu yang telah kita pilih.
Melalui rapat, seminar, pertemuan-pertemuan dan sebagainya. Dan saat itu saya
merasa belum bisa maksimal dengan segala keterbatasan saya, apalagi usia saat
itu sedang berada dalam tahap Quarter Life Crisis. Usia yang penuh dengan
overthinking dan insecure akan hal-hal yang pernah, saat dan akan saya lakukan.
Lalu
saya berfikir? Kontribusi apa yang bisa saya berikan ketika saya bisa bekerja
didunia pemerintahan nantinya? Saya bukan orang yang idealis, namun bukan pula
orang yang apatis. Setidaknya saya masih mau berfikir kritis atas isu yang
sedang hangat diperbincangkan. Ya, walaupun otak saya rasanya mau bekerja ketika
menanggapi isu yang saya senangi saja. Kemudian, apakah saya bisa menggunakan
hati nurani saya untuk masyarakat ditengah berbagai tekanan politik? Karena
memang resiko bekerja didunia pemerintahan itu tidak main-main. Bekerja didunia
pemerintahan yang artinya tidak hanya pertanggungjawaban secara hukum saja,
tetapi juga moral. Bagaimana menjadikan masyarakat sebagai subjek, bukan objek.
Ketika didunia pemerintah, tidak sejalan, kau melayang. Entah itu jabatan atau
bahkan hak hidup yang terenggut.
Saya
pernah bertanya pada bapak saya atas kebimbangan pekerjaan seperti apa yang
kelak bisa saya ambil. Dan jawaban orang tua kerapkali menenangkan. Pada intinya,
ikuti saja arusnya bak air mengalir, nanti akan kamu temukan muaranya. Benar
juga. Jika saya meragukan kehidupan saya dimasa yang akan datang, sama saja
saya bersikap ragu dan suudzon terhadap Allah yang jelas telah mengatur apa
saja yang baik bagi saya kedepannya.
(Menuju Sarjana Part 1)
27 Mei 2020 : 18.37 WIB