Sabtu, 13 Juni 2020

Sarjana


Sarjana?

Kali ini saya ingin membahas bagaimana rasanya berproses menjadi seorang sarjana. Ya siapa yang tidak tahu istilah sarjana. Istilah ini sangatlah terkenal dalam dunia pendidikan. Sarjana merupakan gelar strata satu yang bisa didapat setelah menempuh dunia perkuliahan selama kurang lebih 4 tahun dengan mempelajari suatu bidang ilmu tertentu.

Berbicara soal sarjana, setiap orang memiliki berbagai macam tujuan mengapa mereka ingin menyandang gelar tersebut. Mulai dari ingin berkontribusi lebih bagi bangsa atas ilmu yang didapat, mengangkat derajat kedua orangtua sampai pada ingin memiliki manfaat untuk kepentingan pribadi. Sebagian orang berfikir sederhana atas gelar yang bisa mereka dapat. Namun, ada beberapa orang yang memiliki kapasitas berfikir lebih, hal apa yang bisa dilakukan agar gelarnya itu dapat bermanfaat bagi orang banyak dan kemajuan peradaban.

Menulis adalah keabadian bagi saya. Saya tiada, tidak dengan tulisan saya. Nama itu kosong, karya itu nyata. Sedikit berbagi cerita mulai dari bagaimana saya bisa merasakan bangku kuliah sampai dilema ketika harus menyandang gelar sarjana dari bidang ilmu yang saya pilih.

Mulanya, saya merasa diambang keraguan mengenai apa yang akan saya lakukan ketika lulus dari SMA jika saya tidak bisa melanjutkan kuliah? Kalaupun bekerja, saya memiliki kemampuan apa? Motivasi dari berbagai elemen dalam hidup, menuntut saya untuk berusaha terlebih dahulu mengikuti seleksi untuk bisa masuk dalam dunia perkuliahan. Tepatnya saat itu tahun 2015 dan saya sudah mencoba mendaftar berbagai universitas sampai politeknik. Berbulan-bulan juga saya menunggu, yang pastinya mayoritas orang menganggap menunggu adalah hal yang menyebalkan. Tak apalah. Namanya juga usaha. Dan tak lupa harus dibarengi doa. Sampai pada akhirnya hasilnya nihil. Saya tidak diterima di kampus manapun. Sedih? Jelas. Tak jauh berbeda tujuan saya bisa kuliah ingin mengangkat derajat kedua orangtua, ingin membanggakan mereka bahwa anaknya bisa kuliah. Wajar saja, karena keinginan saya untuk kuliah ternyata tidak sejalan dengan pemikiran orangtua saya.

Saya mencoba lagi ditahun 2016. Sebenarnya rasa putus asa kerapkali mendera di satu tahun yang saya lalui saat masih bekerja. Tetapi Allah memang maha baik. Saya dikelilingi oleh teman-teman yang masih mau berjuang untuk bisa masuk dalam dunia perkuliahan. Sampai pada akhirnya saya mendaftar kembali dan tidak disangka saya diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Saat itu saya berfikir, walaupun dalam keadaan putus asa, asalkan doamu tidak pernah berhenti, Allah tahu waktu tepat untuk membuat doa itu terkabul. Luar biasa senangnya saat itu.

Setelah kebaikan itu menimpa saya, bukan berarti saya tidak menghadapi ujian. Ada saja hal-hal yang menguji keyakinan saya untuk bisa berkuliah. Tapi saya bersyukur karena Allah memberikan tekad yang kuat terhadap saya sehingga saya mampu bertahan dengan cara apapun, asalkan itu baik. Ada saja nikmat Allah melalui makhluk-Nya membantu saya menghadapi berbagai ujian tersebut.

Waktu dunia terus mengejar. Semua rasa telah menjadi saksi. Pemikiran ditempa. Pengalaman digali. Berbagai tahap tak terasa sudah dilewati dan menuju titik penyempurnaan dari gelar. Ya proses pengerjaan tugas akhir untuk mahasiswa. Saat proses itu terjadi, muncul kebimbangan baru bukan? Pikiran yang berkecamuk. Aksi yang dirasa minim yang baru saya rasakan setelah sejauh ini.

Selama berproses didunia perkuliahan, apa yang sudah saya berikan pada diri sendiri dan lingkungan kampus? Esensi dari bidang ilmu yang saya pilih untuk kehidupan selanjutnya itu untuk apa? Saat itu pula, yang sedang gencar berputar-putar diotak adalah apakah jurusan yang sudah saya ambil dirasa tepat untuk perjalanan saya kedepannya?

Bagaimana tidak, saya memilih jurusan yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Saya merasa lebih paham dengan dunia itu saja semenjak bisa merasakan bangku kuliah. Mungkin benar kebanyakan orang berkata, dari 10 orang yang memilih jurusan tertentu, hanya 1 orang yang paham benar mengapa ia memilih jurusan tersebut. Dan payahnya, dari 9 orang tersebut, salah satunya saya. Jujur saja, saat saya memilih jurusan tersebut, saya tidak mencari tahu sampai ke akar-akarnya. Saat itu, yang saya fikirkan, bisa kuliah saja saya sangat bersyukur. Padahal seharusnya banyak hal yang perlu dipertimbangkan.

Ibarat kata nasi telah menjadi bubur, hal itu sudah saya ambil. Sudah cukup lama saya tempuh. Tidak ada yang perlu sesali, karena yang terpenting sekarang tugas saya adalah bagaimana saya bisa menjalani bidang ilmu yang saya pilih itu dengan maksimal dan bagaimana gelar itu nantinya bisa berguna. Ya walaupun terkadang saya berfikir, saya memilih jurusan yang ketika sudah memasuki dunia kerja, hal itu tak jarang menjadi kontra bagi masyarakat. Bagaimana tidak, membuat dan memutuskan suatu kebijakan bukanlah hal yang mudah. Dipandang sebelah mata harus dialami ketika seseorang bersiap untuk masuk dalam dunia pemerintahan. Dunia yang selalu didampingi oleh berbagai macam kepentingan. Dunia yang sangat kental dengan perpolitikannya itu. Dunia yang tak luput dari kejaran media. Terlebih berbagai persoalan pelik yang tidak pernah lepas. Dunia yang lingkupnya sangat besar karena mempengaruhi berbagai aspek kehidupan.

Untuk menghadapi hal tersebut, sebenarnya peluang untuk berfikir kritis dan beraksi nyata terbuka lebar didunia perkuliahan. Kita bisa menggali semaksimal mungkin apa yang kita butuhkan terkait dengan bidang ilmu yang telah kita pilih. Melalui rapat, seminar, pertemuan-pertemuan dan sebagainya. Dan saat itu saya merasa belum bisa maksimal dengan segala keterbatasan saya, apalagi usia saat itu sedang berada dalam tahap Quarter Life Crisis. Usia yang penuh dengan overthinking dan insecure akan hal-hal yang pernah, saat dan akan saya lakukan.  

Lalu saya berfikir? Kontribusi apa yang bisa saya berikan ketika saya bisa bekerja didunia pemerintahan nantinya? Saya bukan orang yang idealis, namun bukan pula orang yang apatis. Setidaknya saya masih mau berfikir kritis atas isu yang sedang hangat diperbincangkan. Ya, walaupun otak saya rasanya mau bekerja ketika menanggapi isu yang saya senangi saja. Kemudian, apakah saya bisa menggunakan hati nurani saya untuk masyarakat ditengah berbagai tekanan politik? Karena memang resiko bekerja didunia pemerintahan itu tidak main-main. Bekerja didunia pemerintahan yang artinya tidak hanya pertanggungjawaban secara hukum saja, tetapi juga moral. Bagaimana menjadikan masyarakat sebagai subjek, bukan objek. Ketika didunia pemerintah, tidak sejalan, kau melayang. Entah itu jabatan atau bahkan hak hidup yang terenggut.

Saya pernah bertanya pada bapak saya atas kebimbangan pekerjaan seperti apa yang kelak bisa saya ambil. Dan jawaban orang tua kerapkali menenangkan. Pada intinya, ikuti saja arusnya bak air mengalir, nanti akan kamu temukan muaranya. Benar juga. Jika saya meragukan kehidupan saya dimasa yang akan datang, sama saja saya bersikap ragu dan suudzon terhadap Allah yang jelas telah mengatur apa saja yang baik bagi saya kedepannya.

(Menuju Sarjana Part 1)
27 Mei 2020 : 18.37 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Definisi

  DEFINISI Sebuah definisi yang diciptakan sendiri. Aku tidak tahu mengapa definisi buruk selalu mendominasi pikiranku. Lelahnya badan yan...