Jumat, 28 Juli 2023

Definisi

 DEFINISI

Sebuah definisi yang diciptakan sendiri. Aku tidak tahu mengapa definisi buruk selalu mendominasi pikiranku. Lelahnya badan yang selalu menopang bagaimana prasangka – prasangka yang terus hadir. Dan disayangkan, mengapa wajahku tidak bisa menutupi segala kekalutan ini. Definisi yang mudah sekali terbaca. Definisi yang membuat suasana menjadi berubah. Dingin. Kaku. Tak menyenangkan. Tertawa terbahak pun agaknya tertahan karena suasana hati yang tidak jelas.

Sebuah ruang dengan desain kuno. Sebuah ruang yang aku kira bisa menjadi rumah kedua. Nyatanya perlahan mengikis kepercayaan. Terlalu mempercayai agaknya akan menjadi hal yang harus berulang-ulang dipertimbangkan. Tidak boleh ada kesedihan yang mengganggu aktivitas. Tidak boleh ada ketakutan saat tidak mengetahui apa-apa. Namun, aku sudah tidak tahu kemana lagi harus bercerita. Katanya, sebaiknya segala sesuatu yang mengganjal hati harus diungkapkan. Nyatanya, mungkin bisa saja aku ungkapkan tapi bagaimana jika kepercayaan itu hilang? Kepercayaan yang menjadi bahan gurau.

Aku tidak bisa menyalahkan keadaan. Aku yang harusnya bisa beradaptasi. Segala sesuatu yang kita hadapi memang harus diawali dengan paksaan. Dari paksaan sampai pada terbiasa. Hidup didunia itu harus tangguh. Hidup memang penuh dengan ujian, namun bukan berarti tidak ada bahagia bukan? Dunia yang sekarang sedang kamu hadapi nyatanya tidak begitu peduli soal perasaan. Perasaaan seringkali memiliki cap terlalu mendramatisir. Pada akhirnya segala rasa yang ada harus ditampis dengan realita yang berjalan jauh dari harapan.

Memaksa harus baik-baik saja agaknya menjadi suatu keharusan. Belajar menerima dan tidak disenangi agaknya akan menjadi obat rutin yang disuntikan beberapa kali. Jika kalut, tidak harus dialihkan dengan obat-obatan medis. Aku harus melawan diriku sendiri bukan? Mau sampai kapan memang hidup berlagak sebatang kara? Aku tau jiwa ini kosong, namun harusnya aku tidak boleh melupakan bahwa ada orang-orang yang begitu menyayangiku. Ada Tuhan yang aku pun tau sendiri bahwa Dia sudah menjadi produser yang mengatur skenario hidupku.

Ah sudahlah. Aku sendiri pun tidak tahu dengan jalan pikiranku. Setidaknya aku masih punya keyakinan bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja. Setidaknya definisi-definisi yang aku ciptakan lambat laun bisa berubah menjadi hal-hal yang membahagiakan dan menyenangkan. Prasangkaku akan dunia akan membaik. Jangan lupa jika aku ingin tenang, percaya Tuhan selalu bersamaku. Ingat. Percaya !

Minggu, 11 Juni 2023

Renjana

Renjana

Tulisan adalah cara berbicara paling nyaman untuk kamu yang tak ingin banyak bicara. Ketika seisi dunia sudah tidak ingin mendengarmu dan menganggap melankolis adalah karakter penuh drama.


Will I ever see you again, child? Sekedar menanyakan. Apakabar kamu diusiamu yang sudah menginjak kepala dua? Of course, I hope you’re okay. Sudah berlalu lama ya? Jejal dunia tapi kamu masih bisa tertawa, hebat bukan? Apalah kamu diusiamu yang dini, tertawa lepas namun bukan menertawakan dunia yang ternyataaaaa. Asyik bukan?

Bertumbuh. Jelampah prestasi akademik yang selalu dibangga-banggakan. Namun mengapa rasanya kosong? Apa kamu terlalu sering berkutat dengan isi kepala namun minim interaksi? Sebenarnya tidak. Aku tidak menyalahkanmu. Kamu mempunyai hak untuk berada pada sekeliling manusia yang kau anggap nyaman dan ramah dengan situasi adanya kamu yang seperti ini.

Realita yang selalu sesuai memang terkadang membuat terlena. Bertumbuh dan dewasa membuatmu harus mengerti bahwa dunia ini hangat, namun tidak sehangat yang dibayangkan. Aroma cemoohan yang bagi manusia adalah sesuatu yang lucu, nyatanya beberapa orang tidak menyepakati demikian. Menghadapi diri yang linglung, namun harus kuat juga dengan dinginnya dunia luar.

 Bila dibuat perbandingan, agaknya kepercayaan diri yang dulu prosentasenya lebih besar. Namun, mengapa diusia kepala dua ini prasangkamu malah berlalu lalang wahai gadis kecil? Ada apa? Boleh aku memeluk dan mendengar keluh kesahmu? Aku tau apa yang kamu rasakan, namun pada akhirnya kamu hanya bisa bercerita lepas pada dirimu dan Tuhanmu bukan?

Muak? Ya. Namun kamu harus tetap hidup bukan? Banyak hal indah yang akan menyambutmu. Tentang nuraga yang masih bisa kamu temui, tentang pukau ombak dipantai, tentang langit senja yang menampakkan keindahannya dan tentu pula dengan Rama yang sederhana namun mencintaimu dengan luar biasa. Bukannya banyak hal yang ingin kamu lakukan bersamanya?

Anak kecil perempuan berusia 26 tahun yang lucu, kamu berharga. Kamu hanya sedang rindu. Rindu bagaimana kamu mengapresiasi setiap kerja keras kamu. Rindu bagaimana kamu mempunyai mimpi besar disetiap tatapan kosongmu. Rindu mencintai ketidaksempurnaan. Rindu terlepas dari rasa khawatir dan takut. Katanya, kamu ingin merasakan solo trip bukan? Pulih ya? Sadrah pada Tuhan, tidak apa-apa, berjalan pelan namun pasti ya? Aku tau apa yang ada dalam sanubarimu. Manusia memang tidak akan lepas merundungmu, namun kamu harus tetap kuat ya? Janji?

Suatu saat kamu akan ditemani malaikat kecil yang akan menemani hari-harimu. Perlakukan dia dengan baik ya? Buat Pelangi selalu indah baginya ya? Sendu boleh, tapi jangan berlarut ya. Dia harus bahagia bukan? Untukmu saat ini dan dimasa depan. Berjanjilah untuk tetap melakukan hal-hal kecil. Makan es krim coklat, memotret langit senja, atau berhenti sejenak menikmati hamparan sawah hijau. Ah sayangnya, tulisanmu ini hanya sepersekian persen dari ungkapan, emosi yang ingin kamu luapkan, karena kamu tahu, didunia ini tidak ada yang benar-benar aman kecuali dirimu sendiri. Baik-baik ya kamu. Peluk dan apresiasi terus diri kamu. Kalau bukan kamu, siapa lagi? Jangan biarkan dunia mengkerdilkan isi kepalamu. Kamu hebat! Kamu kuat!

 

11 Juni 2023

Ditemani oleh Banda Neira – Sampai jadi debu.


Senin, 22 Agustus 2022


GATA

-          Kepastian yang ku harap tak mempunyai ujung. Aku memilih mundur dan akan ku pastikan tak ada sisa-sisa dirinya pada lembar catatan sejarah perjalananku. –

 

Daksa tergolek tak ada daya,  sedari kepergian yang pernah dirasa. Pupus angan ditelan tersebab kegetiranku pernah mencintaimu. Hingga saat termaktub dalam pikiran, tak ada yang bisa lebih dari dirimu. Tak ku temukan kamu dalam sosok-sosok yang ingin singgah . Aku berhenti sejenak, masih ditemani rindu yang pernah begitu utuh.

3 tahun waktu yang tak singkat untuk menyusun serpihan rindu yang telah hancur. Serpihan yang tidak bisa kususun dengan seperti sediakala. Aku sudah lega, lara sudah purna, akara yang sudah semakin menjauh dan hilang. Aku sudah berdamai pada luka yang pernah menganga karena sulit terobati. Dekap erat tubuhku, usap air mata yang sempat merambah pipi. Harsa yang datang bak mentari pagi yang datang, menggairahkan hidupku kembali.

Mengetuk pintu baru, memasuki ruang baru. Kutemukan dia, yang pernah ku lihat 4 tahun lalu. Pertemuan yang tak disengaja, memikat dan menarik hati walaupun sifatnya semu. Dan kini, tak disangka bagaimana aku bisa melakukan perbincangan yang hangat dengannya.  Dia menjemputku dan selepas itu mencari tempat untuk bisa berbincang. Dengan 2 gelas milkshake dengan rasa favorit yang ternyata sama. Terperanjat dan saling tatap, tersenyum dan tersipu malu.

Beranjak dengan rencana menonton film bersama. Genre film yang sebenernya tidak begitu aku suka, tapi entah aku senang karena dia membersamaiku. Suasana hati ini membuatku tak ingin bergegas untuk beranjak padahal sudah 1,5 jam pemutaran film. Pulang. Ya, dengan dia mengantarku. Sesampainya,aku beranjak ke tempat tidur agar segera terlelap karena keesokannya masih harus bergelut dengan berbagai tugas perkuliahan.

Seiring memasuki ruang waktu,rasanya aku begitu dekat dengannya. Seperti tak ingin lepas, ingin menghabiskan waktu dengannya. Angan setiap saat mendera seperti tak ada akhir. Menikmati setiap gurauan ditemani aroma matcha latte yang menjadi favorit. Baswara mentari senja menyoroti kami berdua ditepi pantai sembari menikmati deburan ombak. Kehangatan api unggun dan tatapan matanya yang memancarkan daya tarik. Rasanya tak ingin ini berakhir.

Namun, sejak saat ini gundah melanda menyelimuti pikiran dan tubuhku. Agaknya beralih suka menjadi lara. Senyum yang sempat merekah seketika layu. Ingin kurengkuh diriku atas apa yang kutakutkan nyatanya terjadi lagi kepadaku. Ingin ku katakan, aku bukan layangan yang bisa dia tarik ulur begitu saja. Perlahan tapi pasti, raganya menghilang. Mungkin juga dengan hatinya. Namun, aku tak punya cukup keberanian mengungkapkannya karena tahu tidak adanya ikatan. Meminta suatu kepastian agaknya menjadi mustahil. Percuma adalah kata yang melekat dan tak perlu dibebas liarkan padanya.

Lagi dan lagi, mengharap kepastian yang tak punya ujung memang menyakitkan. Aku memilih membalikkan tubuh dan menikmati sendiriku kembali. Aku tak butuh bergantung pada hal yang tak jelas. Silahkan menghilang dan akan ku pastikan tak ada sisa-sisa dirinya pada lembar catatan sejarah perjalananku.

-          Purbalingga, 2022  -

Kisah 2020 yang baru ingin kutulis ditahun ini. Ternyata ingatanku belum memudar.

Rabu, 17 Februari 2021

Posting Kebaikan? Siapa takut

 Posting kebaikan? Siapa takut

Malam ini, rangkaian kalimat demi kalimat terus saja bergerak diotakku. Jika jari ini tidak menuruti untuk menumpahkan dalam sebuah tulisan, kadangkala hal itu membuat kepala menjadi pusing. Mata menjadi panas bak orang yang begadang semalaman karena memikirkan pekerjaan. Jam tidur pun menjadi terganggu. Lagi-lagi ponsel menjadi pilihan yang menemani malamku, padahal aku tidak tahu apa yang ingin ku lakukan dengan ponselku itu. Agaknya hanya scroll tidak jelas, namun aku bersyukur juga ketika postingan yang keluar itu adalah hal bermanfaat seperti tentang lowongan pekerjaan, style para desainer pakaian, ilmu agama, ilmu menjaga pola hidup sehat, info parenting dan juga kepedulian lingkungan.

Malam ini entah aku sedang ingin membaca postingan mengenai kepedulian terhadap lingkungan. Mengapa? Mungkin karena sedang hangatnya berita tentang bencana hidrometeorologi. Bencana yang semakin tahun semakin sering dan menjadi - jadi saja. Gunung meletus, tanah longsor, banjir, angin puting beliung. Belum lagi virus covid-19 yang tak kunjung usai. Agaknya kita dituntut untuk lebih bersabar lagi menghadapi keadaan ini. Tak disangka bukan, kita akan berada ditahun yang berat seperti ini? Kita tidak punya pilihan bukan selain tetap hidup dalam keadaan bersyukur? Ingin pindah planet? Ya semoga saja ilmuwan kita bisa menemukan planet lain yang bisa ditempati manusia. Akan tetapi, jangan dirusak lagi ya hehe.

Manusia oh manusia, Allah telah berfirman untuk jangan berbuat kerusakan dimuka bumi. Namun sekarang, sebagian besar manusia mungkin hanya menjadikan itu sebatas nasihat yang tertera dalam beberapa lembar kertas. Andaikan makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan bisa menjerit, menangis bahkan berteriak kepada manusia, mungkin itu sudah dilakukan. Berapa kedzaliman yang sudah kita perbuat dimuka bumi ini? Berapa ekor gajah yang sudah terbunuh untuk diambil gadingnya demi sekoper uang? Berapa hektar hutan yang sudah ditebang untuk memenuhi hasrat manusia berlomba mengumpulkan emas? Agaknya kita sebagai manusia perlu merenunginya. Menjadi manusia yang lebih baik terlebih dalam memperlakukan alam yang indah ini.

Sebenarnya kita bisa melakukan mulai dari hal-hal kecil, salah satunya dengan memunculkan niat menjadi pribadi yang lebih baik, kemudian bisa dilakukan dengan berbagi postingan kebaikan. Kita tahu, misalkan dengan berbagi postingan tentang kepedulian terhadap lingkungan, belum tentu kita bisa mempraktekkan seperti mengikuti kegiatan dari para pencinta lingkungan, menanam mangrove atau apapun itu. Setidaknya kita sudah memiliki niat baik untuk mengajak orang-orang untuk lebih peduli. Saya juga yakin pasti orang-orang yang berbagi postingan kebaikan itu adalah orang yang memiliki mimpi untuk melakukan hal tersebut.

Namun banyak orang berfikir ah untuk apa aku sering memposting kebaikan, toh aku pun belum bisa menjadi pribadi yang baik. Belum mau melakukan kebaikan tersebut atau apapun alasannya yang akhirnya membuat enggan. Misal ah munafik sekali rasanya aku memposting ajakan shalat padahal untuk shalat saja masih sering mengulur-ulur waktu. Hal ini relate dengan pemikiranku kemarin-kemarin. Agaknya apakah saya sudah pantas memposting segala kebaikan padahal aku sendiri masih jauh dari kata baik?

Pergelutan panjang terus berada dikepalaku. Sampai akhirnya aku berfikir, kalau didunia ini tidak ada satupun yang berani untuk memposting kebaikan, mau dibawa kemana hidup manusia? Tersesat tak tau arah. Ah penting sekali untuk mempercayai diri sendiri untuk memposting tentang kebaikan. Sekarang begini, biarkan orang lain tidak menyukaimu. Mungkin perkataan atau sikapmu pernah menyakiti hatinya. Mungkin mereka iri terhadap pencapaian hidupmu. Namun bukan berarti kamu adalah manusia yang penuh sekali dengan dosa, seolah Allah tak bisa mengampuni. Kamu harus selalu berusaha menjadi baik tanpa harus berharap penilaian manusia. Itu hanya akan membuat pusing. Walaupun kamu belum bisa menjadi baik, namun bisa saja postinganmu merubah pribadi seseorang menjadi lebih baik. Intinya kan tetap semangat. Berusaha untuk menjadi baik dan minimalkan bahkan hindari hal-hal yang bisa merugikan dirimu maupun orang lain. Semoga Allah tidak pernah membuat aku bosan untuk berfikir tentang kebaikan, apalagi untuk praktek dalam kehidupan.

Sudah. Fokus saja perbaiki akhlak. Urusan surga neraka biar Allah yang menentukan. Kita cukup ibadah untuk Allah semata.

 (03 Februari 2021 : 19.37 saat terbaring dan berharap bisa tidur cukup)

                                                                                               


                                                                                              

Kamis, 15 Oktober 2020

Satu Ruang

 

Satu Ruang

Dalam hidupnya, manusia memang tidak bisa terlepas dari interaksi antar sesamanya. Itu sudah menjadi kodrat, ketika harus mampu menciptakan ruang nyaman diantara mereka. Namun, manusia juga tak luput dari sifat individualnya yang terkadang memikirkan dirinya sendiri. Saat itu, manusia butuh ruang.

Aku, salah satu si manusia itu. Manusia yang mampu berperan dalam keramaian, namun seketika gusar ingin menyendiri. Beberapa alasan terkadang terlintas dalam pikiran. Berjangka. Singkat saja, namun bisa juga berhari-hari.

Aku ingin bebas. Bahkan sangat bebas. Namun segala aturan yang telah terbentuk tak mengizinkan kebebasan sepenuhnya. Bahkan negara liberal sekalipun. Tetap saja ada beratus aturan dari pemerintah. Apalagi aku. Beberapa paku menancap digerakku sebagai manusia. Disegala aspek. Tidak perlu disebutkan karena aku tak ingin salah satunya menjadi beresiko bagiku.

Menghela nafas sejenak. Ternyata aku cukup hebat bisa melewati hal-hal yang pernah membuatku kecewa. Tetapi aku tak cukup kuat untuk menunjukkannya pada khalayak ramai. Saat itu pula, ingin ku temukan satu ruang yang tak semu.

Ya. Ruang. Tak perlu banyak warna. Kecil saja. Setidaknya bisa menampung tubuh dan segala pikiran yang ada. Bisa menjadi markas rahasia yang hanya aku dan Tuhan yang tahu. Ruang yang benar-benar bebas. Kedap suara agar aku bisa berteriak sekencang-kencangnya. Mengerang atas kesakitan dan kegetiran hidup. Terbahak saat bahagia datang. Mimpi sederhana yang luar biasa.

Mengapa aku ingin satu ruang saja? aku tak mau muluk-muluk, mengatakan bahagia saat aku mempunyai rumah yang besar. Saat aku mempunyai sebuah apartemen. Saat aku mempunyai mobil yang berderet. Itu tak cukup untuk kesehatan mental. Saat aku merasa kosong, aku hanya membutuhkan ruang sebagai tempat berteduh paling nyaman selama aku hidup dibumi.

Ruang dengan segala ekspresi. Saat membuka pintu dan masuk, merasakan kedamaian. Bisa beribadah dengan nyaman. Bisa bernostalgia tanpa gangguan dari luar. Bisa bernyanyi dengan lepas tanpa menahan suara, tanpa memikirkan banyak telinga yang akhirnya turun ke mulut dan menjadi bahan pembicaraan. Bisa memetik gitar ringan yang berdebu sampai jari berkerut, bisa merubah suasana dinding sesuai keinginan. Mungkin dilekatkan beragam stiker lucu, atau kata-kata motivasi. Atau bahkan foto-foto orang yang dikasihi dengan beragam puisi yang menceritakan tentang mereka. Mencoret dinding dengan warna sesuai kondisi diri. Banyak hal yang ingin kulakukan pastinya. Dan tak seorangpun boleh memasuki ruang istimewaku itu.

Ya, itu terbentuk dalam pikiran yang seringkali hadir saat aku terluka. Saat tak ada yang mendukung keinginanku. Saat segala yang kulakukan tak pernah dihargai. Saat aku benar-benar ingin sendiri. Pikiran seperti itu memang merugikan, namun terkadang menguntungkan juga bagiku.

Karena apa? Karena saat itu pula aku lebih menghargai hidup. Lebih mau berusaha. Aku lebih bisa mencintai diri sendiri. Lebih berhati-hati dengan keberadaan orang disekitarku. Tak peduli dengan kicauan yang membuat telinga penging. Tetiba pula bisa memunculkan hal-hal positif yang ingin ku lakukan akibat pikiran seperti itu. Namun, pikiranku juga tahu diri. Aku masih mampu memberikan sekat mana yang bisa membangun dan meruntuhkan perjalanan hidupku.

Harus selalu ingat. Perspektif melimpah. Pembaca bisa memaknai pikiran seperti itu dengan pedang yang begitu tajam, tapi mungkin aku memaknainya dengan madu. Ketika kau pukul sarang lebah dan kau temukan nyerinya sengatan lebah, tak sia-sia karena berbuah madu yang begitu nikmat dilidah. Bingung ya? Tak perlu dipusingkan, ini hanya asumsiku saja.

 

Kamis, 16 April 2020 – 21.30 WIB

-Sekali lagi, terimakasih diri-

 

Sabtu, 13 Juni 2020

Sarjana


Sarjana?

Kali ini saya ingin membahas bagaimana rasanya berproses menjadi seorang sarjana. Ya siapa yang tidak tahu istilah sarjana. Istilah ini sangatlah terkenal dalam dunia pendidikan. Sarjana merupakan gelar strata satu yang bisa didapat setelah menempuh dunia perkuliahan selama kurang lebih 4 tahun dengan mempelajari suatu bidang ilmu tertentu.

Berbicara soal sarjana, setiap orang memiliki berbagai macam tujuan mengapa mereka ingin menyandang gelar tersebut. Mulai dari ingin berkontribusi lebih bagi bangsa atas ilmu yang didapat, mengangkat derajat kedua orangtua sampai pada ingin memiliki manfaat untuk kepentingan pribadi. Sebagian orang berfikir sederhana atas gelar yang bisa mereka dapat. Namun, ada beberapa orang yang memiliki kapasitas berfikir lebih, hal apa yang bisa dilakukan agar gelarnya itu dapat bermanfaat bagi orang banyak dan kemajuan peradaban.

Menulis adalah keabadian bagi saya. Saya tiada, tidak dengan tulisan saya. Nama itu kosong, karya itu nyata. Sedikit berbagi cerita mulai dari bagaimana saya bisa merasakan bangku kuliah sampai dilema ketika harus menyandang gelar sarjana dari bidang ilmu yang saya pilih.

Mulanya, saya merasa diambang keraguan mengenai apa yang akan saya lakukan ketika lulus dari SMA jika saya tidak bisa melanjutkan kuliah? Kalaupun bekerja, saya memiliki kemampuan apa? Motivasi dari berbagai elemen dalam hidup, menuntut saya untuk berusaha terlebih dahulu mengikuti seleksi untuk bisa masuk dalam dunia perkuliahan. Tepatnya saat itu tahun 2015 dan saya sudah mencoba mendaftar berbagai universitas sampai politeknik. Berbulan-bulan juga saya menunggu, yang pastinya mayoritas orang menganggap menunggu adalah hal yang menyebalkan. Tak apalah. Namanya juga usaha. Dan tak lupa harus dibarengi doa. Sampai pada akhirnya hasilnya nihil. Saya tidak diterima di kampus manapun. Sedih? Jelas. Tak jauh berbeda tujuan saya bisa kuliah ingin mengangkat derajat kedua orangtua, ingin membanggakan mereka bahwa anaknya bisa kuliah. Wajar saja, karena keinginan saya untuk kuliah ternyata tidak sejalan dengan pemikiran orangtua saya.

Saya mencoba lagi ditahun 2016. Sebenarnya rasa putus asa kerapkali mendera di satu tahun yang saya lalui saat masih bekerja. Tetapi Allah memang maha baik. Saya dikelilingi oleh teman-teman yang masih mau berjuang untuk bisa masuk dalam dunia perkuliahan. Sampai pada akhirnya saya mendaftar kembali dan tidak disangka saya diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Saat itu saya berfikir, walaupun dalam keadaan putus asa, asalkan doamu tidak pernah berhenti, Allah tahu waktu tepat untuk membuat doa itu terkabul. Luar biasa senangnya saat itu.

Setelah kebaikan itu menimpa saya, bukan berarti saya tidak menghadapi ujian. Ada saja hal-hal yang menguji keyakinan saya untuk bisa berkuliah. Tapi saya bersyukur karena Allah memberikan tekad yang kuat terhadap saya sehingga saya mampu bertahan dengan cara apapun, asalkan itu baik. Ada saja nikmat Allah melalui makhluk-Nya membantu saya menghadapi berbagai ujian tersebut.

Waktu dunia terus mengejar. Semua rasa telah menjadi saksi. Pemikiran ditempa. Pengalaman digali. Berbagai tahap tak terasa sudah dilewati dan menuju titik penyempurnaan dari gelar. Ya proses pengerjaan tugas akhir untuk mahasiswa. Saat proses itu terjadi, muncul kebimbangan baru bukan? Pikiran yang berkecamuk. Aksi yang dirasa minim yang baru saya rasakan setelah sejauh ini.

Selama berproses didunia perkuliahan, apa yang sudah saya berikan pada diri sendiri dan lingkungan kampus? Esensi dari bidang ilmu yang saya pilih untuk kehidupan selanjutnya itu untuk apa? Saat itu pula, yang sedang gencar berputar-putar diotak adalah apakah jurusan yang sudah saya ambil dirasa tepat untuk perjalanan saya kedepannya?

Bagaimana tidak, saya memilih jurusan yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Saya merasa lebih paham dengan dunia itu saja semenjak bisa merasakan bangku kuliah. Mungkin benar kebanyakan orang berkata, dari 10 orang yang memilih jurusan tertentu, hanya 1 orang yang paham benar mengapa ia memilih jurusan tersebut. Dan payahnya, dari 9 orang tersebut, salah satunya saya. Jujur saja, saat saya memilih jurusan tersebut, saya tidak mencari tahu sampai ke akar-akarnya. Saat itu, yang saya fikirkan, bisa kuliah saja saya sangat bersyukur. Padahal seharusnya banyak hal yang perlu dipertimbangkan.

Ibarat kata nasi telah menjadi bubur, hal itu sudah saya ambil. Sudah cukup lama saya tempuh. Tidak ada yang perlu sesali, karena yang terpenting sekarang tugas saya adalah bagaimana saya bisa menjalani bidang ilmu yang saya pilih itu dengan maksimal dan bagaimana gelar itu nantinya bisa berguna. Ya walaupun terkadang saya berfikir, saya memilih jurusan yang ketika sudah memasuki dunia kerja, hal itu tak jarang menjadi kontra bagi masyarakat. Bagaimana tidak, membuat dan memutuskan suatu kebijakan bukanlah hal yang mudah. Dipandang sebelah mata harus dialami ketika seseorang bersiap untuk masuk dalam dunia pemerintahan. Dunia yang selalu didampingi oleh berbagai macam kepentingan. Dunia yang sangat kental dengan perpolitikannya itu. Dunia yang tak luput dari kejaran media. Terlebih berbagai persoalan pelik yang tidak pernah lepas. Dunia yang lingkupnya sangat besar karena mempengaruhi berbagai aspek kehidupan.

Untuk menghadapi hal tersebut, sebenarnya peluang untuk berfikir kritis dan beraksi nyata terbuka lebar didunia perkuliahan. Kita bisa menggali semaksimal mungkin apa yang kita butuhkan terkait dengan bidang ilmu yang telah kita pilih. Melalui rapat, seminar, pertemuan-pertemuan dan sebagainya. Dan saat itu saya merasa belum bisa maksimal dengan segala keterbatasan saya, apalagi usia saat itu sedang berada dalam tahap Quarter Life Crisis. Usia yang penuh dengan overthinking dan insecure akan hal-hal yang pernah, saat dan akan saya lakukan.  

Lalu saya berfikir? Kontribusi apa yang bisa saya berikan ketika saya bisa bekerja didunia pemerintahan nantinya? Saya bukan orang yang idealis, namun bukan pula orang yang apatis. Setidaknya saya masih mau berfikir kritis atas isu yang sedang hangat diperbincangkan. Ya, walaupun otak saya rasanya mau bekerja ketika menanggapi isu yang saya senangi saja. Kemudian, apakah saya bisa menggunakan hati nurani saya untuk masyarakat ditengah berbagai tekanan politik? Karena memang resiko bekerja didunia pemerintahan itu tidak main-main. Bekerja didunia pemerintahan yang artinya tidak hanya pertanggungjawaban secara hukum saja, tetapi juga moral. Bagaimana menjadikan masyarakat sebagai subjek, bukan objek. Ketika didunia pemerintah, tidak sejalan, kau melayang. Entah itu jabatan atau bahkan hak hidup yang terenggut.

Saya pernah bertanya pada bapak saya atas kebimbangan pekerjaan seperti apa yang kelak bisa saya ambil. Dan jawaban orang tua kerapkali menenangkan. Pada intinya, ikuti saja arusnya bak air mengalir, nanti akan kamu temukan muaranya. Benar juga. Jika saya meragukan kehidupan saya dimasa yang akan datang, sama saja saya bersikap ragu dan suudzon terhadap Allah yang jelas telah mengatur apa saja yang baik bagi saya kedepannya.

(Menuju Sarjana Part 1)
27 Mei 2020 : 18.37 WIB

Selasa, 28 April 2020

Jatuh Hati Kembali


Jatuh Hati Kembali
Perjalanan cinta itu sebenarnya tidak rumit. Hanya saja manusia terlalu berbelit. Ya, termasuk aku. Aku juga manusia biasa yang bisa merasakan jatuh cinta. Sampai pada akhirnya aku harus menelan kekecewaan karena ditinggalkan.

Sakit? Jelas. Ditinggal saat sedang sayang-sayangnya bukanlah perkara mudah. Aku marah pun tak ada gunanya. Dia sudah tidak peduli. Aku menangis sepanjang waktu pun, dia acuh. Saat itu hidupku diambang ketidaktahuan arah. Aku hancur. Aku kacau. Aku tak tahu bagaimana bisa menjalani hidup seperti saat belum mengenal dia.

Jujur saja, pil pahit kekecewaan yang kutelan ternyata membuatku trauma untuk jatuh hati kembali. Takut dilupakan, ditinggalkan ataupun diduakan. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk memperbaiki hati yang telah hancur dan menikmati kembali rasa kesendirianku.

Aku memilih sendiri untuk jangka waktu yang lama. Ya, dengan waktu yang lama itu tidak bisa ku pungkiri bahwa ada beberapa lelaki yang mencoba mendekati. Aku tidak bermaksud jual mahal, hanya saja hatiku belum pulih benar. Kadang pula aku menyalahkan diriku sendiri, mengapa sulit sekali untuk berpindah hati? apa karena dia cinta pertamaku? Ya, saat itu aku berfikir, mungkin pertama kali aku jatuh cinta yang sebenar-benarnya saat usia 19 tahun. Ketika ditinggalkan pun aku merasa seperti ini rasanya sakit karena jatuh cinta.

Hati remuk redam. Perasaan yang campur aduk. Mau tidak mau aku harus melupakan dengan menyibukkan diri di kampus. Hatiku rasanya sudah mati saat itu. Benar saja, aku sudah tidak peduli dengan siapa yang jatuh cinta padaku saat itu. Yang aku inginkan, aku ingin fokus pada masa-masa kuliahku. Aku berterimakasih untuk kalian yang sudah mencintaiku. Tapi maaf, jika aku terkesan jahat karena tidak bisa membalas perasaan kalian. Terimakasih pula untuk teman-teman terdekatku yang pernah menasihati untuk membuka hati kembali. Percayalah, akupun ingin seperti itu, namun hati ini masih terlalu berat. Oleh sebab itu, hargai aku yang lebih memilih sendiri dulu.

Tak ku sangka waktu berjalan begitu cepat. Aku sudah mencapai tahap menyusun skripsi. Saat itu pula aku mengenal seorang lelaki karena keisenganku di media sosial. Kita pun bercakap-cakap sampai pada akhirnya berpindah ke media sosial yang lebih intens. Kamu lelaki yang mengasyikan. Kamu unik. Entah kenapa menerima dan membalas pesanmu selalu membuatku sumringah.

Aku senang ketika kamu memanggilku dengan perkataan yang membuatku tampak lebih muda haha. Aku senang ketika kamu call/ video call walaupun sebentar. Aku senang ketika bisa membuatmu tersenyum. Aku senang ketika kamu memakai topi. Aku menyenangi segalanya tentang kamu. Oh Tuhan, apa aku jatuh cinta?

Tapi aku sangat menyayangkan, sepertinya kamu masih mencintai masa lalumu. Lambat laun aku merasakan hal berbeda. Percakapan kita sudah tidak terlalu intens, kamu mulai membalas pesanku dengan sangat lama. Bahkan kamu pernah tidak membalas pesanku selama 3 hari. Ah, aku terlalu berlebihan.

Saat itu, aku merasa sudah bisa jatuh cinta kembali. Hatiku mekar. Senyumku merekah setiap kali mengingatnya. Tapi aku harus sadar diri. Aku bukan siapa-siapa. Tidak seharusnya aku berharap lebih padanya. Baiklah. Aku harus mengurangi rasa ini. Aku harus menghindar. Pikirku saat itu.

Satu bulan lebih kita pun tak berkirim pesan. Sedih memang. Tapi ya sudah. Aku bisa apa. Aku tidak bisa memaksakan kamu untuk jatuh cinta padaku. Aku tidak ingin mencintai lebih dalam kepada lelaki yang belum memiliki ikatan sah dengan diriku. Aku tidak ingin mengulang rasa sakit karena perihnya berjuang untuk seseorang yang tidak mencintaiku.

Sampai pada akhirnya, kamu ternyata menyadari kalau aku memang menjauh dan kamu menanyakan perihal itu. Tapi maaf, aku harus menjawab bohong dengan alasan lain. Aku hanya tidak ingin kamu tahu kalau aku jatuh hati padamu. Pada akhirnya, kita membangun percakapan kembali. Dan kamu masih tetap sama. Sikap yang membuatku ragu apakah aku harus selalu menaruh hati padamu atau membiarkan hati lain untuk singgah menggantikan posisimu? Entahlah.

Yang jelas. Aku sekarang hanya ingin berprinsip “ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, maka Allah jauhkan Yusuf. Namun ketika Zulaikha memasrahkan hatinya, maka Allah dekatkan kembali Yusuf”. Tuhan, jaga dia memang dia untukku. Namun ikhlaskan hatiku, jika nantinya aku bukan pelabuhan terakhirnya. Untuk kamu, jaga dirimu baik-baik disana yaaa. I miss you more with or without conversation. 

Walaupun aku tidak tahu apakah dengan mencintaimu akan membuka peluangku untuk terluka kembali. Namun, untukmu yang telah berhasil membuatku jatuh hati kembali, terimakasih – ES
28 April 2020 – 13.00

Selasa, 07 April 2020

Boleh tidak aku hidup layaknya manusia?


Boleh tidak aku hidup layaknya manusia?
--Kontemplasi diri--

Akhir-akhir ini pertanyaan itu sering muncul dalam benak. Entah. Mungkin karena masalah yang kian hari kian menumpuk diotak. Atau kau sudah bosan dengan hari-hari yang kau jalani? Yang pasti aku ingin hidup layaknya manusia.

Kau kan sudah hidup seperti manusia. Kau itu manusia. Tak usah lah menghiperbolakan hidup. Bisikan itu juga sering riuh menggeluti pertanyaanku itu. Dan aku benci itu. Ketika ada hal dalam diri yang tak bisa berjalan selaras.

Kali ini, rasa-rasanya ingin ku tentang bisikan itu. Andai kau manusia, sudah ku patahkan lehermu itu! Justru inilah yang menyebabkan manusia harus terlihat kuat, harus terlihat baik-baik saja padahal ada beribu hal yang ingin diungkapkan.

Ya, aku memang manusia. Namun beberapa waktu otak pasti ingin meledak ketika menghadapi kenyataan pahit. Hati menjadi miris saat merasakan kesakitan karena ulah orang lain atau bahkan ulah diri sendiri. Raga menjadi lunglai, tergolek lemas saat tak berdaya melawan kuatnya arus keangkuhan manusia dan segala drama dunia. Oh, ternyata aku bisa lemah juga.

Manusia didampingi dengan segala kebutuhan. Era 20an ini, salah satunya ya media sosial. Ya, media sosial bertebaran dimana-mana. Manusia tak bisa melepas genggamannya dengan alat yang populer, handphone. Ya. Kita bisa menyebutnya “dunia dalam genggaman”. Bagaimana tidak? Segala hal yang kau lakukan didunia nyata, tampaknya bak kurang garam ketika tidak di upload di media sosial. Kau ingin menunjukan kepada semua orang bahwa kau bahagia. Tak salah memang, kau patut berbangga dengan hari-harimu itu.

Namun terbesit pula. apa kau benar-benar sedang bahagia? Kau tunjukan kau sedang berlibur diluar kota, bahkan luar negeri. Kau posting kata-kata bijak. Kau perlihatkan bahwa kau mempunyai banyak teman, nongkrong sana-sini, tertawa terbahak-bahak. Kau, kau dan kau dengan segala bahagia yang ditunjukan lewat media sosial. Namun aku tahu, kau tidak sebahagia itu kan? Tak apa. Setidaknya tingkah konyolmu membuat orang yang melihatnya merasa beban yang ada dalam dirinya bisa lepas sejenak.

Kau pun pulang dari hiruk pikuknya dunia luar. Masuk kedalam rumah atau kos-kosan. Tersadar mentari senja telah jatuh dan tertelan kegelapan. Bergegas membersihkan tubuh, beribadah yang diakhiri dengan pinta beberapa doa. Doa meminta ini, itu dan terkadang tak tahu diri. Iya. Berjam-jam menikmati gemerlapnya dunia, berdoa paling lama pun 10 menit saja. hey, kau waras? Hm, tapi tak salah juga. Bukankah kehidupan dunia dan akhirat memang harus seimbang? Setidaknya kau tidak lupa bahwa Tuhan itu ada.

Selepas itu, membaringkan tubuh dikasur yang tidak begitu empuk dan kau tahu apa? Benda persegi panjang yang tidak terlalu menampakkan bebannya, lagi-lagi ada dalam genggaman. Ah benda itu, bak seorang kekasih. Aku tak bisa jauh darimu. Kau pun tak luput dari memposting. Jari yang kau gerakkan keatas dan kebawah, sekedar melihat beberapa postingan. “Ah, kata-kata ini bijak sekali. Ah, keren nih orang bisa berkunjung ke tempat ini. Wah, pakaian yang membalut tubuhnya begitu indah. Kok dia bisa langgeng gitu ya hubungannya, postingannya berdua terus. Wah prestasinya banyak banget” Dan blablabla dengan segala celotehan tak jelas ini. Seketika murung dan beberapa kalimat terbesit dalam benak.

Hm, andai bisa seperti mereka. Bahagia seperti tidak ada beban. Kalaupun ada, pasti ringan. Seiring berjalannya waktu, perjalanan hidup orang-orang yang ku kagumi tadi, bak berguguran. Ternyata, dibalik itu semua banyak hal tak terduga. Masalah yang menumpuk. Kesedihan yang membuat terpuruk. Keluh kesah yang semakin mengaduk. Tapi aku tahu, mereka punya pilihan. Ingin menunjukan keterpurukan atau seolah tidak terjadi apa-apa? Nian malang bagiku.

Dari situ, ada beberapa pelajaran yang bisa ku ambil. Benar juga. Untuk apa menunjukan kesedihanmu? Toh apa peduli mereka. Ya, beberapa orang mampu memberi saran dan bantuan. Selebihnya? Kau sendiri yang harus mengatasi peliknya hidupmu. Ya, akhirnya pun aku tunjukkan saja bahagiaku.

Namun, kau tahu? Lambat laun aku seperti dipaksa keadaan. Dipaksa oleh diri sendiri pula. terkadang merasa menjadi orang paling naif dimuka bumi. Aku sedih. Aku bosan. Aku marah. Tapi harus menunjukan seolah aku baik-baik saja. Ingin ku luapkan segalanya. Tapi tidak ah, lagi-lagi kau tidak boleh memberlakukan “hiperbola” hidup. Banyak orang yang bebannya lebih berat darimu, harus kau sadari itu. Jangan kau memperumit dirimu!

Mengapa aku harus melihat pada satu sisi? Ya, i’m okay. I haven’t problem. I’m always happy. Mengapa tidak ku lihat dari sisi dimana aku benar-benar merasa lantang luntung tak tahu arah? Aku bisa mengungkapkan keluh kesah hidup dalam secarik kertas atau ku jadikan dokumen dilaptop. Aku setuju jika keterpurukan memang kurang layak ditunjukan di media sosial. Ya. Media sosial itu fana. Penuh kepalsuan yang membuat emosional naik turun. Bahkan aku pernah melihat pada vlog seorang artis yang mengundang salah satu pejabat negeri dan membicarakan mengenai media sosial. Pejabat itu berkata. Intinya begini. “Sudah cukup lama saya tidak bermain media sosial (except whatsaap) dan saya merasakan benar dampaknya dalam hidup saya. Saya tidak perlu terpuruk dengan orang yang menghujat saya. Saya bisa lebih intens membangun kebersamaan dengan kelurga dan teman-teman saya. Saya bisa menikmati hidup tanpa harus memposting apa saja yang saya lakukan setiap harinya and anything, it’ll be okay. Dan saya bahagia dengan itu”.

Beberapa hal sebenarnya bisa kau ungkapkan pada orang terdekatmu. Orang tuamu, kakak atau adikmu, keponakanmu. Aku juga bisa mengungkapkannya kepada teman terdekatku bahwa i have problem, can you help me? and i’m sad, mad or disappointed. Terkadang, dalam hidup kita harus membangun beberapa kepercayaan pada orang lain. Tak apa kau tunjukan sedikit alur kehidupan yang terkadang tak sejalan dengan harapan. Tak apa kau tunjukan bahwa kau sedang dalam kondisi yang marah, kecewa atau sedih. Tak apa kamu menangis dipelukan atau pangkuan orang terdekatmu. Tak apa kau mengeluh ini itu. Hey, ingat kau itu manusia, bukan malaikat. Tapi pastikan orang itu dapat kau percaya. Kau berhak hidup layaknya manusia. Keterpurukan itu bukan berarti kau lemah. Kau kuat, hanya saja sedang lelah. Hidup tak melulu indah bukan? Justru kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika bisa memberikan memberikan pelajaran hidup bagi orang lain bukan? Tentang lika-liku hidup yang kau jalani, itu bisa membuat orang lebih berhati-hati dan bersyukur dalam menjalani segala takdir Tuhan.  

Selamat! Kau sudah hidup layaknya manusia. Yang menggunakan hati dan logika. Yang bisa memberi inspirasi bagi orang lain. Kau memang bukan manusia sempurna yang memiliki segudang kebaikan. Tapi kau sudah berusaha untuk menjadi baik. Untuk aku dan kau.  Terimakasih sudah menjadi manusia hebat !

Dan untuk pertanyaan “boleh tidak aku hidup layaknya manusia?”. Dan jawabannya “Boleh sekali dan kau sangat layak”.
          
              -Rabu, 8 April 2020 (Subuh, ku terinspirasi)-

Jumat, 20 Maret 2020

Asing


ASING

( dia hanya angin lalu, tidak untuk singgah )

Sebuah perayaan sorak sorai teman-teman SMA. Bagaimana tidak? Ini hari kelulusan. Kain suci yang terpola kau nodai dengan bercak dari berbagai warna. Tentu bukan noda si pendosa, lebih tepatnya noda karena hati yang sedang berwarna. Boleh ku tertawa? Haha. Lebih kurang 3 tahun mencicipi asam garam dan ini puncaknya.

Ya, ini kan teman-teman. Tidak denganku. Aku bahkan tidak bisa merayakannya. Hmm, bukan tidak bisa, tetapi tidak mau. Saat itu aturan sekolah tidak membolehkan hal itu terjadi dan dengan mudahnya aku menurutinya. Entah, mungkin aku terlalu polos saat itu. Lagi dan lagi, sanksi menjadi pemeran utama dalam membatasi gerak. Namun, tetap ada saja yang diam-diam melakukan itu. Mereka tidak nakal. Mereka hanya sedang meluapkan kebebasannya.

Jarum jam terus bergerak setiap detiknya. Tidak bisakah kau berhenti sejenak saja? aku ingin beristirahat sejenak. Ah khayalan semata. Cepat sekali waktu berlalu. Saat itu pula, usia sedikit memaksa bahwa sudah saatnya memilih. Ya, memilih kau ingin menjadi seperti apa? Apa yang akan kau lakukan? Resiko seperti apa yang akan kau dapat saat melakukan hal tersebut? Kalimat-kalimat yang memusingkan kepala. Ingin ku benturkan saja.

Perihal pilihan. Aku memilih untuk melanjutkan studiku di sebuah universitas negeri. Ya, walaupun sempat ada sekat penghalang mimpi sehingga memaksaku mengisi waktu luang untuk bekerja terlebih dahulu. Aku bahagia. Aku tak menyangka. Bisa duduk dibangku kuliah yang selama ini hanya bisa memandanginya dilayar kaca, sesekali. Dan dongeng dari teman-temanku tentang perkuliahan yang sempat membuatku tak berdaya memikirkan nasib kedepan. Namun, disisi lain tergurat kesedihan. Bagaimana tidak, teman seperjuanganku tidak lolos dan dia menangis dihadapanku. Namun tak apa kawan, tahun depan masih menyambutmu.

Menyadari, aku sedang berproses. Jarak rumah dengan kampus tidak terlalu jauh. Hanya 1 jam. Aku harus bolak balik untuk membawa barang-barang ke tempat berteduhku yang baru. Ya, kosan haha. Mungkin banyak yang bertanya “ngapain kos? Kan rumahnya dekat.” . Ya, terserah lah ucapan berbuih mereka aku terima saja. Ini juga atas kehendak orang tua yang tak menginginkan anaknya terlalu lelah bolak-balik setiap harinya. Ah, memang orang tuaku terbaik. Atau karena aku terlalu manja? Ah tidak juga haha.

Keasingan kita mulai dari sini. Suasana yang berbeda. Ukuran kamar yang tak berbeda jauh dari kamar dirumah. Hanya saja, warna cat tembok yang berbeda dalam pandangan. Tentu bukan masalah. Beberapa hari telah berlalu. Kau memenuhi kebutuhanmu sendiri. Makan pun tak ada yang menghidangkan. Sejak itu, tak teratur sekali. Awalnya terkejut, namun lama-kelamaan terbiasa.

Senin. Hari permulaan. Banyak yang tidak menghendaki hari itu. Mungkin karena tubuh lunglai yang bermalas-malasan harus segera beranjak. Atau liburan singkat karena termakan hari itu keesokan harinya. Namun, itu tidak menjadi masalah bagiku. Ah mereka saja yang terlalu berlebihan. Menjalani masa orientasi, perkenalan. Segala hal baru kudapatkan. Kudapati langkah kaki tak berjejak. Ya, langkahku menuju kampus. Beberapa hari harus berjalan karena lagi-lagi aturan yang mengekang.

Satu minggu sudah terlewati. Seketika wajahku muram. Menunduk. Aku rindu rumah. Kebetulan kamarku ada dilantai atas. Saat itu senja. Ku jatuhkan pandangan padanya. Ya, senja yang retak. Air mata yang menyamar puisi paling berduri. Menyangga sebelah pipi dan merenung. Tak apa. Kau hanya belum terbiasa.

Baiklah ku bangun kegembiraan hidup. Ku tarik kursi agar bisa berdua bersama meja. Ku menjadi perantara diantara mereka. Mereka menjadi saksi jikalau aku mulai berjuang. Menorehkan segala asa dalam secarik kertas putih yang melekat ke dalam jendela dunia. Air mata sudah tak jatuh. Hanya saja, mata menjadi sembab dibuatnya.

Segalanya asing. Mulai mencari apa yang dibutuhkan. Mengikuti serangkaian kepanitiaan. Mulanya, ku terdiam. Memandangi dan mengajak ngobrol orang asing memang membutuhkan keberanian yang tidak sedikit. Tapi, lingkungan memaksaku. Sampai ada kau, yang membuat rasa maluku perlahan memudar.

Kamu asing. Tapi kamu selalu membuat dirimu agar tak terlihat asing bagiku. Kamu mengajak berbincang. Selalu meracau dengan candaan yang terkadang membuatku geli dan sebal. Tapi aku suka. Kamu membangun keberanian dalam diriku. Beruntung sekali aku bisa satu kepanitiaan denganmu pikirku.

Waktu berlalu, kepanitiaan berakhir. Namun tidak dengan sapaan hangat yang seringkali terlontar dari bibirmu acapkali kita dipertemukan. Seperti biasa, kamu selalu ramah. Namun aku tak suka, saat kamu berbicara suaramu seperti bergumam tak jelas. Ini bukan salah telingaku. Namun ocehan dari mulutmu yang tak bisa kau buka dengan lebar.

Cahaya beranjak gelap. Tertelan senja yang tak pernah luput membuatku terpana. Ku terbaring. Memainkan ponselku yang kolot. Sesekali dibuat kesal karena lemotnya minta ampun. Sebuah pesan ku terima lewat line. Oh dia. Ada apa ya? Seperti kebanyakan, dia menanyakan sedang apa padaku. Ku balas dengan candaan dan itu berbuntut panjang. Tawaku terbahak-bahak dibuatnya. Aku seperti hantu yang tidak tau etika tertawa dimalam hari. Sampai pada akhirnya, aku ingin meminta pendapatnya dan bercerita. Dia dengan senang hati mau mendengarnya. Aku menceritakan perihal masa lalu, tepatnya lelaki yang sangat aku cintai saat itu. Responnya cukup baik. Setelah pembahasan, kita pun melemparkan berbagai stiker lucu. Namun keesokan hari dan seterusnya, dia tidak mengirimku pesan kembali. Namun, ah sudahlah. Aku menganggap hal itu wajar dan tidak dibuat sedih pula karenanya.

Tahun demi tahun meninggalkan segala kenangan yang dibuat. Dan saat itu pula aku memiliki teman yang selalu meledekku dengan teman kepanitiaanku dahulu itu. akupun penasaran mengapa kamu selalu meledekku bersamanya? Dan ternyata, sosok yang dahulunya berperan mengikis rasa maluku menyimpan rasa padaku. Aku benar-benar tak percaya. Bagaimana bisa? Dia tak menunjukannya. Atau karena dahulu aku menceritakan lelaki lain padanya? Oh bodohnya aku. Namun, tak bisa dipungkiri, bagaimana dahulu aku dimabuk kasmaran akan cinta di masa laluku. Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri. Ah, sudahlah. Itu sudah berlalu. Toh sekarang dia sudah memiliki kekasih.

Seketika itu ternyata kami berpapasan kembali. Namun, ada yang berbeda. Senyumnya membeku. Candaannya sirna. Bahkan, dia seolah seperti menganggapku hantu. Tidak terlihat, namun ada. Apa mungkin dulu dia sempat kecewa atas diriku. Namun tak seharusnya seperti itu. Kamu yang dulu menjadi sosok yang begitu lihat memainkan peran untuk menghibur, kini asing kembali. Bahkan sangat asing. Kamu tak lagi menjadi manusia yang hangat untukku. Namun sekarang, asingmu berharga karena memberiku pelajaran akan kenangan yang sempat kau bangun. Tak apa. Prinsipnya, asing bisa menjadi dekat dan sebaliknya. Dia hanya angin lalu, tidak ditakdirkan singgah di kehidupanmu selanjutnya. Biarpun begitu, yang terpenting adalah Purwokerto akan selalu hangat. Dengan atau tanpa senyumanmu. Terimakasih untuk kamu, sempat hadir mengisi waktu ...


20 Maret 2020

Kamis, 19 Maret 2020

Kesakitan yang Dipaksa Menghilang


Kesakitan yang Dipaksa Menghilang

“Suatu keinginan menerima hati baru ditengah bayang luka yang terus menghantui. Ketakutan terlupakan dan ditinggalkan kembali”
_Deska Setya R_

Bertahun-tahun selalu memaksa hati agar tetap bertahan untuk menyendiri. Pada akhirnya kau tak bisa menyalahkan apa yang telah ditakdirkan Tuhan untuk setiap manusia. Ya. Perihal mencintai. Kau harus menciptakan suatu kisah seperti muda-mudi yang sedang dimabuk asmara.

Setelah bertahun-tahun itu pula. Ingin sebenarnya menjalankan takdir Tuhan yang indah itu. Namun kau selalu melawan arah yang telah diciptakan-Nya. Seolah-olah kau bisa hidup dengan bahagia tanpa harus ada yang namanya ‘cinta’. Pemikiran liarmu itu memang tidak tahu diri.

Hari-hari kau lewati dengan menyenangkan. Namun tak bisa dipungkiri pula, kau butuh itu. Kau tak bisa terus bertahan dengan ego yang menggerogoti otakmu. Kau itu dimakan usia. Mau sampai kapan bertahan dalam kesendirian?

Sampai pada akhirnya, kesakitan yang bersarang selama bertahun-tahun itu harus kau paksa untuk menghilang. Ya, dengan membuka hati bagi orang baru. Baguslah. Kau perlahan mulai terbuka. Memang awal-awal kau selalu ragu dan menolak. Didekati. Menolak. Seperti itu beberapa kali. Walaupun tak mau, kau terpaksa harus membuat pernyataan. Ya. Sebuah pernyataan akan penolakan.
Sekali lagi. Usia terus mengejarmu. Ah. secepat itu ternyata. Tak bisa diduga. Baru kemarin sepertinya kau disuapi bubur oleh ibumu. Hari ini, kau disuapi oleh pahit getirnya kehidupan. Ya. Salah satunya pahit getirnya harus merasakan cinta yang naik turun. Naik ketika kau merasa terbang akan perkataan dan perbuatan yang membuat hati berseri. Turun ketika kau ditinggalkan dan dilupakan begitu saja. Ah lagi-lagi terngiang.

Sudahlah. Cukup. Tak selamanya akan berakhir buruk. Kau harus yakin itu. Ayolah bangun kepercayaan lagi terhadap dia yang ingin mendekatimu. Menata hati. Menata air mata agar tak tumpah seperti sediakala. Baiklah akan kau coba.

Tahun demi tahun kau lewati. Hari ini kau dibuat antusias oleh hadirnya seseorang. Entah, dahulu kau pernah berpandang sekejap ternyata. Sekarang, seakan sebuah mimpi kau bisa bertemu dengannya kembali. Dengan suasana berbeda pastinya.

Ya. Mengapa berbeda. Karena rasanya semakin intens saja. apakah ini saatnya kau membuka hati untuk orang baru? Entahlah. Apa coba saja dijalani? Beberapa minggu sudah terlewati ternyata. Kau seperti manusia yang telah ditelan bumi, namun seketika bangkit kembali. Artinya, kau sudah lama tak merasakan rasanya dimabuk asmara, tenggelam dengan keasyikan yang kau bentuk untuk dirimu sendiri saja, namun sekarang kau mulai terbiasa dengan keasyikan yang kau bentuk dengan dirinya. Menyenangkan memang.

Entah. Kau kalap oleh pikiranmu sendiri. Pada awal pertemuan pun rasanya sudah berbeda. Setelah itu, kau menjadikan dia menjadi salah satu bagian terpenting bagi hidupmu. Ah kacau sudah. Kau ini kenapa? Bukankah hatimu sudah sekeras batu. Tak mau terlalu memakai perasaan dalam sebuah pertemuan dan percakapan yang berkelanjutan. Namun, kau tak menyadari. Batu sekeras apapun bisa hancur. Tidak melunak. Tapi melebur. Sama halnya dengan perasaan. Sekeras apapun untuk tidak akan mencintai lagi, pada akhirnya kau harus menerima bahwa kerasnya pendirianmu akan kalah dengan takdir Tuhan. Melebur sudah.

Waktu terus berjalan. Saat itu pula kau terus menangkap bagaimana sikapnya sepanjang harimu. Awalnya biasa saja. Awalnya memahami. Namun terkadang juga merasakan lelah. Bagaimana cara dia menghilang selama berjam-jam. Dalihnya sedang ada yang dikerjakan atau sedang dalam perjalanan. Ah, itu tak masuk akal. Berkirim pesan singkat hanya 10 detik saja tidak bisa hanya karena dalih seperti itu. Namun, lagi-lagi kau harus bisa paham, bahwa tak melulu kau menjadi prioritas. Hey, kau siapa?

Lalu, hal lain pastinya diperhatikan juga. Seperti saat kau bicara panjang lebar agar bisa mendapat tanggapannya. Agar bisa bertukar pikiran. Nyatanya dia tak menyukai hal itu. Dia berusaha berganti topik dengan alasan bahasan kau sungguh membosankan. Ya. Hanya bisa tersenyum kecut. Belum lagi, entah ini perasaanmu saja atau memang benar, kau dicari saat dia sedang bosan saja. Setelah berkumpul dengan teman-temannya, dia melupakan. Seolah kau hanya angin lalu. Oksigen yang bisa dia tarik kembali saat paru-paru membutuhkannya. Ah sesibuk apa sebenarnya? Tuhan saja yang maha sibuk mengurusi milyaran manusia tidak pernah luput memperhatikan setiap jengkal kelakuan manusia. Aduh, perumpamaan yang sangat jauh. Liar sekali pikiranmu.

Pikiran negatif memang selalu hadir bagi hati yang pernah terluka begitu dalam. Kau sudah tak bisa mewajari semua ini. Kau harus merubah pola pikirmu. Tapi bagaimana bisa? Jujur saja kau memang sudah lama dikecewakan, namun lukanya terus membekas. Entah. Kau takut melewati fase didekati, diperhatikan, dijadikan prioritas utama. Lalu, dikecewakan, dilupakan dan dicampakkan kembali. Tidak menyenangkan memang berharap terhadap manusia.

Namun keberuntungan kau adalah ketika Tuhan terus menahan rasa dalam dirimu agar biasa-biasa saja. Ya. Dengan terus membuat kau mengingat-Nya. Bahwa sepenuh-penuhnya cinta hanya untuk Tuhan, bukan yang lain. Tuhan tak akan pernah mengecewakan, itu yang kau pegang teguh setelah mengalami luar biasanya dampak dari patah hati. Iya benar. Sudahlah. Memasrahkan adalah jalan yang terbaik. Tuhan memiliki jutaan rangkaian cerita indah untuk hidupmu nanti. Percayalah. Bukalah hatimu untuk orang baru. Yakinilah dia akan membuatmu menjadi sosok paling bahagia hingga akhir hayatnya. Jangan takut dilupakan. Jangan takut sendiri. Karena pada akhirnya nanti, maut pun akan menghampirimu dan kau tak akan menyambutnya dengan membawa kawan, melainkan menyambutnya dengan kesendirian.

Tulisan yang memang menyedihkan bagi kebanyakan orang jika dimaknai dengan sepenuh hati. Namun belajarlah untuk bersikap biasa saja karena bahagiamu lebih penting. Kau harus paham. Dia hanya angin lalu, tidak untuk singgah ..

Suatu kewajiban : KAU HARUS BAHAGIA – Deska Setya
22 Januari 2020



Minggu, 12 Januari 2020

Bintang dan Tempat Tak Terpetakan


Bintang dan Tempat Tak Terpetakan

Pagi tadi hujan. Hujan awal November. Perkenalkan namaku Vega. Sekarang usiaku 21 tahun. Ya, aku baru saja lulus, menjadi seorang sarjana. Aku bersyukur, aku masih diberi banyak kesempatan oleh Tuhan. Ya kesempatan untuk mengemban tugas atas gelarku ini.
Langkahku terhenti dikota orang. Terasa berat dan bertambah terjal lika-liku perjalanan. Padahal baru beberapa jam menginjakkan kakiku dijalan yang basah. Tapi beruntunglah. Aku ditemani sesosok lelaki. Namanya Rigel. Kami berteduh di halte bus. Dingin senja dan gerimis pekat. Kau menyodorkan payung sembari tersenyum, mengajakku masuk menembus kabut bola matamu.
“Pakailah payung ini. Gerimis masih cukup deras”, ucapnya dengan lembut sembari menyodorkan payung.
“Tidak. Untukmu saja. Setelah ini kau akan beranjak lebih jauh dari pada aku”, ucapku.
Tidak. Aku cukup kuat menahan hawa dingin ini. Terlebih dengan adanya kau disampingku”, ucapnya dengan lengkung bibirnya yang manis dan menatapku.
Aku hampir menolaknya. Tetapi saat itu pula aku berjanji jika bertemu nanti, aku akan mengembalikannya.
“Ah, kau selalu saja gombal seperti ini. Hentikanlah. Aku takut menjadi pecandu rayuanmu itu”, ucapku sembari tertawa meledeknya.
Ya. Rigel adalah kekasihku. Kisah kami sudah berjalan 3 tahun. Lika-liku percintaan sudah kita lalui. Awalnya kami bertemu di acara seminar yang diadakan kampus. Saat selesai seminar, aku berpapasan dengannya dan tak sengaja menabraknya. Entah, kunci motorku dipegang dia dan dia segera mengejarku saat itu. Mengembalikan kuncinya yang dibalut secarik kertas berisi nomor handphone nya. Anehnya, aku pun menghubungi nomor itu. Sejak saat itu, semakin dekat dan akhirnya kami menjadi sepasang kekasih.
Dia mengantar ke tempatku beristirahat di kota orang itu. Dia menyewa hotel untuk menginap semalam sebelum beranjak pergi meninggalkanku. Ya bukan tanpa alasan, cita-cita sementara menariknya jauh dariku. Selalu saja, sekelebat senyum selalu ia hinggapkan satu persatu, yang akhirnya menumpuk di pikiranku. Dia pun melangkahkan kakinya, menjauh.
Esoknya, ku mengantarnya ke stasiun. Melambaikan tangan kananku sembari berkata lirih
“Segeralah pulang padaku. Aku akan selalu menunggumu.”, ucapku dengan mata berbinar.
Seperti mengerti isyarat bibirku yang mengaga begitu mungilnya. Hatinya seperti berkata
“Pasti. Doakan aku. Aku akan segera kembali”.
Hari-hari terlewati. Tanpanya. Berapa banyak janji yang sudah kita sepakati. Berapa banyak janji pula yang tak bisa ditepati. Payung itu hilang saat aku menaruhnya didepan minimarket. Semoga dia mengerti. Saatnya kembali lagi ke kamarku yang kecil. Malam cukup deras. Ku terjang saja. Tubuhku basah kuyup. Peluhku tak terlihat. Jalanku semakin terjal saja? sesampainya handphone berdering. Kekasihku memberi kabar
“Aku sudah sampai tujuan dengan selamat. Sejatinya, ini salah satu doamu”, ucapnya.
“Bagaimana kau bisa menarik kesimpulan semacam itu”, tertawa geli setelah mendengarnya.
“Karena doa orang yang mencintaiku akan selalu melintas ditelinga dan merasuk sukmaku” jawabnya.
“Ah lagi-lagi kau ini. Kebiasaan”. Ucapku dengan hati yang berdebar.
Walaupun hubungan ini sudah berjalan lama. Aku tak pernah bosan mendengar kata-kata gombalnya itu. Entah. Apa aku sudah merasa terikat. Atau hatiku terlalu luluh untuk perkataan semacam itu. Namun saat itu aku hanya berfikir. Beruntungnya aku. Dia adalah manusia yang melengkapi perjalanan hidupku.
***
Sudah dua tahun berlalu, mengapa kau diam. Tak ada kabar. Bahkan sesekali angin pun tak pernah membisikkan pesanmu yang hanya sekedar mengucap“selamat pagi” padaku. Apa kau baik-baik saja ?
Beribu tanya menemaniku berjalan. Terhenti. Berdiri dipinggir jalan. Gerimis pula, tak menyenangkan sekali. Bedakku sebagian luntur, parfum murahan yang kubeli dari warung sebelah kosan tak bersisa. Pakaian tidak rapi benar. Sisanya, hanya bau asap kendaraan yang wara-wiri lewat disampingku saat berjalan.
Membuka pintu kamar. Melempar tas usang ala kadarnya. Lalu menjatuhkan diri ke kasur yang dipannya selalu menyambutku dengan suara ‘krek,nya.
“Apa kamu sudah tidak mengingatku. Bahkan sekian detik yang ku lewati, aku tak pernah tau keberadaanmu dikota mana. Apakah tempatmu berpijak terpetakan? Apakah senyum indahmu selalu kau simpan untuk aku yang kau sebut ‘rumah’ ini? Aku rindu kegilaanmu. Ketika membayar makan, kau rogoh dalam sakumu hanyalah sejumlah uang koin yang kau bingkis dengan plastik berukuran sedang. Ketika kau mengerjaiku dengan permainan yang hukumannya memakan sambal satu sendok. Dan segala kegilaan yang kau titipkan pada setiap pertemuan kita?” celoteh tak jelasku saat menjelang tidur.
Menjadi sebuah fakta aku meyetujui jarak dan waktu menentang kedekatan fisik kita. Sebuah fakta pula aku mendorongmu untuk menggapai asa dengan pulau yang berbeda. Masalahnya pertentangan dalam hatiku bergejolak, mengapa dulu aku harus menjadi sosok yang pengertian akan segala cita-citamu? Namun aku sendiri menyiksa batin dengan segala hal tentangmu yang tak dapat kulihat dan kurasakan langsung untuk berhadapan denganmu. Solusinya, aku ingin bertemu dalam waktu yang singkat ini. Menarikmu dari cita-cita yang membuatmu jauh dariku. Sampai pikiran gila ingin ku tarik pulau yang dipisahkan oleh selatnya agar ku mampu meraihmu dengan mudah. Logika dan hati yang terus beradu.
Terperanjat aku dari tidur yang gagal lelap. Tubuhku gusar. Menghadap ke dinding, salah. Memejamkan mata ke arah meja belajar, keliru pula. seprai kasur sampai amburadul tak karuan karena ulahku yang tak bisa diam. Ku buka penutup jendela. Ah, ternyata bintang sedang mengantri untuk memamerkan gemerlapnya. Ku tersenyum. Membayangkan. Dahulu kau ikut menemaniku memandang bintang dilangit kelabu itu. Menikmati bersama.
“Vega, kau tau mengapa namaku Rigel?”, mendadak dia menanyaiku soal ini.
“Entah, aku tak tahu dan tak mau tahu”, jawabku dengan nada tak peduli.
“Baiklah jika kau tak mau tahu. Tapi malam ini, aku ingin menceritakannya. Semoga kau bisa menjadi pendengar yang baik.”, sahutnya.
“hmmm, baiklah”, ku mengangguk-angguk ringan dihadapannya.
“Rigel adalah bintang raksasa di rasi orion. Ini adalah bintang yang paling penting saat bepergian ke laut, karena bisa jadi penunjuk arah. Harapan orangtuaku, agar walaupun nantinya ketika aku sudah bisa melakukan segalanya sendiri, aku tetap ingat jalan pulang. Namun disini, aku ingin memperluas maknanya. Harapanku dengan nama ini, ketika nantinya aku sudah berhasil meraih segala citaku, aku ingin selalu ingat dengan wanita yang selalu menemaniku. Dengan segala gelak tawa akan kekonyolanku. Dengan segala tangisan atas keegoisanku. Dimanapun aku berada nantinya, aku tak ingin tersesat menuju rumah baru yang bahkan ku tak tau sejarahnya. Aku ingin kembali kerumah yang selalu membuat tubuhku sejuk. Jiwaku tenang. Senyumku merekah. Dengan segala ukiran sejarahnya. Yaitu kamu Vega.”, ucapnya dengan nada yang lembut.
Aku terbelalak dibuatnya. Aku tak menyangka Rigel yang segila itu bisa membuat gerimis membasahi mataku atas perkataannya. Yang ku pikirkan saat itu. Semoga ucapannya itu, tak hanya sebatas kata puitis yang dilontarkan seorang lelaki yang sedang dimabuk cinta. Namun suatu rencana keabadian yang telah ia susun dalam nostalgia yang ingin di ciptakan disepanjang hidupnya. Aku mencintaimu bintangku. Dimanapun kamu. Ditempat tak terpetakan sekalipun, aku tetap dengan perasaan yang sama yakni tetap mencintaimu.
-          29 September 2019  -
-          ditulis saat mengikuti sayembara Mas Arya  -

Definisi

  DEFINISI Sebuah definisi yang diciptakan sendiri. Aku tidak tahu mengapa definisi buruk selalu mendominasi pikiranku. Lelahnya badan yan...