Kamis, 15 Oktober 2020

Satu Ruang

 

Satu Ruang

Dalam hidupnya, manusia memang tidak bisa terlepas dari interaksi antar sesamanya. Itu sudah menjadi kodrat, ketika harus mampu menciptakan ruang nyaman diantara mereka. Namun, manusia juga tak luput dari sifat individualnya yang terkadang memikirkan dirinya sendiri. Saat itu, manusia butuh ruang.

Aku, salah satu si manusia itu. Manusia yang mampu berperan dalam keramaian, namun seketika gusar ingin menyendiri. Beberapa alasan terkadang terlintas dalam pikiran. Berjangka. Singkat saja, namun bisa juga berhari-hari.

Aku ingin bebas. Bahkan sangat bebas. Namun segala aturan yang telah terbentuk tak mengizinkan kebebasan sepenuhnya. Bahkan negara liberal sekalipun. Tetap saja ada beratus aturan dari pemerintah. Apalagi aku. Beberapa paku menancap digerakku sebagai manusia. Disegala aspek. Tidak perlu disebutkan karena aku tak ingin salah satunya menjadi beresiko bagiku.

Menghela nafas sejenak. Ternyata aku cukup hebat bisa melewati hal-hal yang pernah membuatku kecewa. Tetapi aku tak cukup kuat untuk menunjukkannya pada khalayak ramai. Saat itu pula, ingin ku temukan satu ruang yang tak semu.

Ya. Ruang. Tak perlu banyak warna. Kecil saja. Setidaknya bisa menampung tubuh dan segala pikiran yang ada. Bisa menjadi markas rahasia yang hanya aku dan Tuhan yang tahu. Ruang yang benar-benar bebas. Kedap suara agar aku bisa berteriak sekencang-kencangnya. Mengerang atas kesakitan dan kegetiran hidup. Terbahak saat bahagia datang. Mimpi sederhana yang luar biasa.

Mengapa aku ingin satu ruang saja? aku tak mau muluk-muluk, mengatakan bahagia saat aku mempunyai rumah yang besar. Saat aku mempunyai sebuah apartemen. Saat aku mempunyai mobil yang berderet. Itu tak cukup untuk kesehatan mental. Saat aku merasa kosong, aku hanya membutuhkan ruang sebagai tempat berteduh paling nyaman selama aku hidup dibumi.

Ruang dengan segala ekspresi. Saat membuka pintu dan masuk, merasakan kedamaian. Bisa beribadah dengan nyaman. Bisa bernostalgia tanpa gangguan dari luar. Bisa bernyanyi dengan lepas tanpa menahan suara, tanpa memikirkan banyak telinga yang akhirnya turun ke mulut dan menjadi bahan pembicaraan. Bisa memetik gitar ringan yang berdebu sampai jari berkerut, bisa merubah suasana dinding sesuai keinginan. Mungkin dilekatkan beragam stiker lucu, atau kata-kata motivasi. Atau bahkan foto-foto orang yang dikasihi dengan beragam puisi yang menceritakan tentang mereka. Mencoret dinding dengan warna sesuai kondisi diri. Banyak hal yang ingin kulakukan pastinya. Dan tak seorangpun boleh memasuki ruang istimewaku itu.

Ya, itu terbentuk dalam pikiran yang seringkali hadir saat aku terluka. Saat tak ada yang mendukung keinginanku. Saat segala yang kulakukan tak pernah dihargai. Saat aku benar-benar ingin sendiri. Pikiran seperti itu memang merugikan, namun terkadang menguntungkan juga bagiku.

Karena apa? Karena saat itu pula aku lebih menghargai hidup. Lebih mau berusaha. Aku lebih bisa mencintai diri sendiri. Lebih berhati-hati dengan keberadaan orang disekitarku. Tak peduli dengan kicauan yang membuat telinga penging. Tetiba pula bisa memunculkan hal-hal positif yang ingin ku lakukan akibat pikiran seperti itu. Namun, pikiranku juga tahu diri. Aku masih mampu memberikan sekat mana yang bisa membangun dan meruntuhkan perjalanan hidupku.

Harus selalu ingat. Perspektif melimpah. Pembaca bisa memaknai pikiran seperti itu dengan pedang yang begitu tajam, tapi mungkin aku memaknainya dengan madu. Ketika kau pukul sarang lebah dan kau temukan nyerinya sengatan lebah, tak sia-sia karena berbuah madu yang begitu nikmat dilidah. Bingung ya? Tak perlu dipusingkan, ini hanya asumsiku saja.

 

Kamis, 16 April 2020 – 21.30 WIB

-Sekali lagi, terimakasih diri-

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Definisi

  DEFINISI Sebuah definisi yang diciptakan sendiri. Aku tidak tahu mengapa definisi buruk selalu mendominasi pikiranku. Lelahnya badan yan...