Senin, 22 Agustus 2022


GATA

-          Kepastian yang ku harap tak mempunyai ujung. Aku memilih mundur dan akan ku pastikan tak ada sisa-sisa dirinya pada lembar catatan sejarah perjalananku. –

 

Daksa tergolek tak ada daya,  sedari kepergian yang pernah dirasa. Pupus angan ditelan tersebab kegetiranku pernah mencintaimu. Hingga saat termaktub dalam pikiran, tak ada yang bisa lebih dari dirimu. Tak ku temukan kamu dalam sosok-sosok yang ingin singgah . Aku berhenti sejenak, masih ditemani rindu yang pernah begitu utuh.

3 tahun waktu yang tak singkat untuk menyusun serpihan rindu yang telah hancur. Serpihan yang tidak bisa kususun dengan seperti sediakala. Aku sudah lega, lara sudah purna, akara yang sudah semakin menjauh dan hilang. Aku sudah berdamai pada luka yang pernah menganga karena sulit terobati. Dekap erat tubuhku, usap air mata yang sempat merambah pipi. Harsa yang datang bak mentari pagi yang datang, menggairahkan hidupku kembali.

Mengetuk pintu baru, memasuki ruang baru. Kutemukan dia, yang pernah ku lihat 4 tahun lalu. Pertemuan yang tak disengaja, memikat dan menarik hati walaupun sifatnya semu. Dan kini, tak disangka bagaimana aku bisa melakukan perbincangan yang hangat dengannya.  Dia menjemputku dan selepas itu mencari tempat untuk bisa berbincang. Dengan 2 gelas milkshake dengan rasa favorit yang ternyata sama. Terperanjat dan saling tatap, tersenyum dan tersipu malu.

Beranjak dengan rencana menonton film bersama. Genre film yang sebenernya tidak begitu aku suka, tapi entah aku senang karena dia membersamaiku. Suasana hati ini membuatku tak ingin bergegas untuk beranjak padahal sudah 1,5 jam pemutaran film. Pulang. Ya, dengan dia mengantarku. Sesampainya,aku beranjak ke tempat tidur agar segera terlelap karena keesokannya masih harus bergelut dengan berbagai tugas perkuliahan.

Seiring memasuki ruang waktu,rasanya aku begitu dekat dengannya. Seperti tak ingin lepas, ingin menghabiskan waktu dengannya. Angan setiap saat mendera seperti tak ada akhir. Menikmati setiap gurauan ditemani aroma matcha latte yang menjadi favorit. Baswara mentari senja menyoroti kami berdua ditepi pantai sembari menikmati deburan ombak. Kehangatan api unggun dan tatapan matanya yang memancarkan daya tarik. Rasanya tak ingin ini berakhir.

Namun, sejak saat ini gundah melanda menyelimuti pikiran dan tubuhku. Agaknya beralih suka menjadi lara. Senyum yang sempat merekah seketika layu. Ingin kurengkuh diriku atas apa yang kutakutkan nyatanya terjadi lagi kepadaku. Ingin ku katakan, aku bukan layangan yang bisa dia tarik ulur begitu saja. Perlahan tapi pasti, raganya menghilang. Mungkin juga dengan hatinya. Namun, aku tak punya cukup keberanian mengungkapkannya karena tahu tidak adanya ikatan. Meminta suatu kepastian agaknya menjadi mustahil. Percuma adalah kata yang melekat dan tak perlu dibebas liarkan padanya.

Lagi dan lagi, mengharap kepastian yang tak punya ujung memang menyakitkan. Aku memilih membalikkan tubuh dan menikmati sendiriku kembali. Aku tak butuh bergantung pada hal yang tak jelas. Silahkan menghilang dan akan ku pastikan tak ada sisa-sisa dirinya pada lembar catatan sejarah perjalananku.

-          Purbalingga, 2022  -

Kisah 2020 yang baru ingin kutulis ditahun ini. Ternyata ingatanku belum memudar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Definisi

  DEFINISI Sebuah definisi yang diciptakan sendiri. Aku tidak tahu mengapa definisi buruk selalu mendominasi pikiranku. Lelahnya badan yan...