GATA
-
Kepastian yang ku harap tak mempunyai ujung.
Aku memilih mundur dan akan ku pastikan tak
ada sisa-sisa dirinya pada lembar catatan sejarah perjalananku. –
Daksa tergolek tak ada
daya, sedari kepergian yang pernah
dirasa. Pupus angan ditelan tersebab kegetiranku pernah mencintaimu. Hingga
saat termaktub dalam pikiran, tak ada yang bisa lebih dari dirimu. Tak ku
temukan kamu dalam sosok-sosok yang ingin singgah . Aku berhenti sejenak, masih
ditemani rindu yang pernah begitu utuh.
3 tahun waktu yang tak
singkat untuk menyusun serpihan rindu yang telah hancur. Serpihan yang tidak
bisa kususun dengan seperti sediakala. Aku sudah lega, lara sudah purna, akara
yang sudah semakin menjauh dan hilang. Aku sudah berdamai pada luka yang pernah
menganga karena sulit terobati. Dekap erat tubuhku, usap air mata yang sempat
merambah pipi. Harsa yang datang bak mentari pagi yang datang, menggairahkan
hidupku kembali.
Mengetuk pintu baru,
memasuki ruang baru. Kutemukan dia, yang pernah ku lihat 4 tahun lalu. Pertemuan
yang tak disengaja, memikat dan menarik hati walaupun sifatnya semu. Dan kini,
tak disangka bagaimana aku bisa melakukan perbincangan yang hangat dengannya. Dia menjemputku dan selepas itu mencari tempat
untuk bisa berbincang. Dengan 2 gelas milkshake dengan rasa favorit yang
ternyata sama. Terperanjat dan saling tatap, tersenyum dan tersipu malu.
Beranjak dengan rencana
menonton film bersama. Genre film yang sebenernya tidak begitu aku suka, tapi
entah aku senang karena dia membersamaiku. Suasana hati ini membuatku tak ingin
bergegas untuk beranjak padahal sudah 1,5 jam pemutaran film. Pulang. Ya,
dengan dia mengantarku. Sesampainya,aku beranjak ke tempat tidur agar segera
terlelap karena keesokannya masih harus bergelut dengan berbagai tugas
perkuliahan.
Seiring memasuki ruang
waktu,rasanya aku begitu dekat dengannya. Seperti tak ingin lepas, ingin
menghabiskan waktu dengannya. Angan setiap saat mendera seperti tak ada akhir.
Menikmati setiap gurauan ditemani aroma matcha latte yang menjadi favorit.
Baswara mentari senja menyoroti kami berdua ditepi pantai sembari menikmati
deburan ombak. Kehangatan api unggun dan tatapan matanya yang memancarkan daya
tarik. Rasanya tak ingin ini berakhir.
Namun, sejak saat ini
gundah melanda menyelimuti pikiran dan tubuhku. Agaknya beralih suka menjadi
lara. Senyum yang sempat merekah seketika layu. Ingin kurengkuh diriku atas apa
yang kutakutkan nyatanya terjadi lagi kepadaku. Ingin ku katakan, aku bukan
layangan yang bisa dia tarik ulur begitu saja. Perlahan tapi pasti, raganya
menghilang. Mungkin juga dengan hatinya. Namun, aku tak punya cukup keberanian
mengungkapkannya karena tahu tidak adanya ikatan. Meminta suatu kepastian
agaknya menjadi mustahil. Percuma adalah kata yang melekat dan tak perlu
dibebas liarkan padanya.
Lagi dan lagi,
mengharap kepastian yang tak punya ujung memang menyakitkan. Aku memilih
membalikkan tubuh dan menikmati sendiriku kembali. Aku tak butuh bergantung
pada hal yang tak jelas. Silahkan menghilang dan akan ku pastikan tak ada
sisa-sisa dirinya pada lembar catatan sejarah perjalananku.
-
Purbalingga, 2022 -
Kisah
2020 yang baru ingin kutulis ditahun ini. Ternyata ingatanku belum memudar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar