Tesergap Nona Palapa
Menuruti
nafsu daksa
Seraya
bercumbu dengan angin liar
Mengarungi
langkah aksa
Waktu
bergegas semangat menyambar
Perangai
dirasuki harsa
Congkaknya
dunia terus menggelegar
Tumpah
ruah para jiwa penuh asa
Berlomba
mencari setumpuk gelar
Sebuah
pertemuan membuat tercengang
Saat
dua insan beradu pandangan
Tubuh
terpaku obsesi asa membancang
Tanpa
ada sedikit pun butir perlawanan
Udara
seketika terasa gersang
Ketidakwarasan
mulai berserakan
Pesona
dahayu telah mengguncang
Mata
terbelalak, dia mencuri perhatian
Dia
menebarkan sajak ke langit
Desir
angin menyergap rambut yang meliuk
Ditengah
helios menyengat kulit dengan sengit
Lima
jemari ingin menyodor, namun kikuk
Pair
jantungku meronta keluar dengan gesit
Sifat
beraniku seketika meringkuk
Segala
sukmamu bak melejit
Melintasi
persimpangan hati yang hiruk pikuk
Kelopak
mata bak teratai merah yang sedang mekar
Lengkung
bibir berseri membuatku lumpuh
Logika
dan atma diambang nanar
Khayal
menyodorkan belah rotan sembari bersimpuh
Rona
wajah segarnya silau memancar
Tubuhku
layu, rasanya tulang belulangku merapuh
Semerbak
arumi menjalar
Mengisi
napas tanpa merasa acuh
Terlena
aku dengan buaian tak bertuan
Terdengar
langkah kaki menjauh dengan tegas
Ah,
gerakku memang lamban
Mengapa
tak kusodorkan tanganku dengan lugas
Ku
kejar agar tak tumbuh penyesalan
Ingin
agar pertemuan ini menjadi tuntas
Naas,
rasa yang menggebu harus tersimpan
Bayangnya
tak membekas, hatiku menjadi rebas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar