Pecandu
Sunyi
Denting waktu mengusik ditelinga
Sekejap bangkit dari dari dinginnya pagi
Segar angin melintas membelai pecandu sunyi ini
Melayang diulur tangan kehidupan
Berjuta ekspektasi terbesit terdorong hasrat
Jutaan ekspektasi yang terdiam
Kapan melangkah, bergerak, terbang menjadi realita?
Hiruk pikuk dalam kesunyian
Bagaimana ini? Memang pencandu sunyi sejati
Katanya, apa mungkin kau introvet?
Terdiam dan hanya bersiul selayaknya, seperlunya
Terpaku, pandang memandang atap biru yang maha luas
Lenggak lenggok padi ranum perantara kehidupan
Desiran angin menggerakan layar perahu
Ketika senja pun menjemput
Angin mengikat sesak di dada
Langkah demi langkah berayun menuju istana dunia
Tempat berpulang dari lelahnya menghadapi kenyataan
Menjerit nurani si pecandu sunyi
Bertanya, apakah argumen yang terlontar sangat
sederhana?
Panjang akal namun enggan mengungkapkan
Seketika hujan deras menggelontor membasahi pertiwi
Mengetuk di dinding jendela
Menengadah, berfikir, memang sudah berapa banyak
ilmu didapat?
Beraninya mulut dustamu berkata bak malaikat
Pertanda Tuhan, bukankah harus bergerak?
Naik, terus naik dan naik lagi
Perjalanan yang penuh penderitaan dan kebahagiaan
Perlu sadar akan perasaan
Yang menuntun untuk lebih berani menghadapi
Perlu tertutup atas celotehan yang membuat naik
pitam
Tak perlu menunjukan raut wajah
Cukup berperan dibalik layar
Sunyi, dingin, sepi, menenangkan yang dibutuhkan
Membuka kalbu menengok ke bawah
Syukurlah, Tuhan berbaik hati
Berjuta kesempatan selalu mengikuti watak dingin ini
Oh benar-benar pecandu sunyi
Yang rindu akan hasrat yang terus dicari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar